Quantcast
Channel: Cerita Sex 17+ – Kumpulan Cerita Sex Hari Ini
Viewing all 68 articles
Browse latest View live

Cerita Sex Ngentot Dengan Mertuaku Yang Binal

$
0
0

Jam 5:30 pagi kereta tiba di stasiun kota S, Kami di jemput Ibu mertuaku dan pakde Man sopir keluarga Mertuaku. Ibu mertuaku begitu bahagianya dengan kedatangan kami, anak kami Piko pun langsung dipeluk dan diciumi, maklum anak kami Piko cucu lelaki pertama bagi keluarga bapak dan Ibu mertuaku.
Akhirnya, kami sampai juga di desa GL tempat tinggal mertuaku, suasana desa yang cukup tenang langsung terasa, ditambah lagi rumah mertuaku yang begitu besar, hanya dihuni oleh Bapak dan Ibu mertuaku saja. kelima anak bapak dan Ibu mertuaku semuanya perempuan, dan sudah pada menikah semua! kecuali Adik iparku yang paling bungsu saja yang belum menikah! dan saat ini sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi negri di kota Y.
Bapak mana Bu? Tanya Indri istriku.
Bapakmu lagi kerumah Bupati, Biasalah paling-paling ngomongin proyek!, Jawab Ibu mertuaku.
Ibu mertuaku seorang wanita yang berumur kurang lebih 48 tahun, kulitnya putih bersih. Bapak dan Ibu mertuaku menikah disaat usia mereka masih remaja, namun begitu, Ibu mertuaku masih tetap terlihat cantik walaupun usianya hampir memasuki kepala lima. Istriku sendiri anak kedua dari 5 bersaudara. agen poker
Setelah mandi dan beristirahat kamipun makan pagi bersama. Kami bercerita kesana kemari sambil melepas lelah dan rasa rindu kami, tanpa terasa haripun sudah menjelang sore .
Selepas mahgrib bapak mertuaku kembali dari rumah bupati, kami pun kembali bertukar cerita, semakin malam semakin sepi padahal baru jam 8 malam. Maklumlah didesa!.
Ini minum wedang buatan Ibu! Biar kalian segar saat bangun pagi harinya.
Aku, istriku dan bapak mertuaku pun langsung memimum wedang buatan Ibu mertuaku.
Enak sekali Bu! apa ini Tanya Indri istriku .
Itu wedang ramuan Ibu sendiri! Gimana, seger kan?.
Kamipun melanjutkan obrolan kami kembali, kurang lebih setengah jam kami ngobrol, rasanya mata ini kok berat sekali. Istiku pamit menyusul anak kami yang sudah duluan tertidur. Aku mencoba bertahan dari rasa ngatuk! dan melanjutkan cerita kami, namun apa daya! rasa ngantuk ini sudah terlalu berat. Akupun pamit tidur pada bapak dan Ibu mertuaku.
Sambil menguap aku berjalan menuju kamar tidur kami yang cukup besar, kulihat istri dan anakku sudah tertidur dengan nyenyaknya. Tumben dia nggak nungguin aku? Akupun langsung merebahkan diri karena rasa ngantuk yang begitu berat. Tak lama aku pun langsung tertidur.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku merasakan seperti ada yang menciumku, membelaiku, aku mencoba untuk membuka mataku, namun aku tetap tidak sanggup untuk membuka mataku ini. Rasanya seperti ada yang mengganjal dimataku, yang membuat aku terus tertidur.
Aku juga merasakan nikmat saat berejakulasi. Dan Aku berangapan bahwa semua ini hanya mimpi basah saja. Ketika pagi harinya aku terbangun, kulihat istri dan anakku masih lelap tertidur, aku ke kamar mandi untuk kencing! begitu aku melihat kemaluanku, ada bekas sperma kering? Kupegang kemaluanku dan jembutku kok lengket? ketika kucium, aku mengenal betul bau yang begitu kas, bau dari lendir kemaluan perempuan.
Aku berpikir kok mimpi basah ada bau lendir perempuannya?, apa semalam aku diperkosa setan? Saat kami semua sarapan pagi, aku hendak menceritakan peristiwa yang kualami semalam, tapi aku malu, takut ditertawakan, jadi aku diamkan saja peristiwa semalam.
Hari kedua disana, aku, istri dan anakku tamasya ke daerah wisata, kami pulang sudah malam. Seperti hari kemarin, setelah ngobrol-ngobrol dan istirahat Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya, aku dan istrikupun langsung meminumnya. Herannya kurang lebih 30 menit setelah aku menghabiskan wedang buatan Ibu mertuaku, rasa ngantuk kembali menyerang aku dan istriku.
Karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa ngantuk yang begitu sangat, kami berdua pamit hendak tidur, untungnya anak kami sudah tertidur dalam perjalanan pulang.
Mas aku ngantuk! selamat tidur ya Mas!.
Langsung istriku merebahkan badan dan tertidur dengan pulasnya. Akupun ikut tertidur. Apa yang kemarin malam terjadi, malam ini terulang kembali. Pagi harinya setelah aku melihat bekas sperma dan bekas lendir perempuan yang sudah mengering dan membuat kusut jembutku, aku bertanya tanya dalam hatiku?, apa yang sebenarnya terjadi?
Hari ketiga, aku tidak ikut pergi jalan jalan!, hanya istri anak serta Ibu mertuaku saja yang pelesir ke tempat sanak pamily keluarga istriku. Aku hanya rebahan ditempat tidur sambil melamun dan mengingat kejadian yang kualami selama 2 malam ini. Apa ada mahluk halus yang memperkosaku disaat aku tidur? Kenapa setiap habis meminum wedang, aku jadi ngantuk? apa karena suasana desa yang sepi? Padahal aku biasanya kuat begadang, atau karena wedang?
Nanti malam aku coba untuk tidak meminum wedang buatan Ibu, batinku. Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku, karena lelah akhirnya akupun tertidur. Saat malam menjelang, kami sekeluarga berkumpul dan berbincang bincang. Seperti hari kemarin-kemarin pula, Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya. Istri dan bapak mertuakupun sudah menghabiskan minumannya, sementara aku belum meminumnya.
Kok nggak diminum Mas wedangnya, tanya Ibu mertuaku?.
Aku memang mencoba untuk tidak meminum wedang tersebut, walaupun badan segar saat bangun tidur! namun aku berniat untuk tetap tidak memimumnya. Karena aku penasaran dengan apa sudah aku alami beberapa hari ini. Saat aku hendak meminumnya aku berpura pura sakit perut, sambil membawa wedang yang seolah olah sedang kuminum aku berjalan kearah dapaur menuju toilet. Padahal sesampainya dikamar mandi, aku langsung membuang wedang tersebut.
Aku berkumpul kembali ke ruang keluarga, kurang lebih tiga puluh menit! kulihat istiku dan bapak mertuaku sudah mengantuk dan berniat untuk tidur. Namun hal itu tidak terjadi denganku, apa karena aku tidak meminum wedang tersebut? Aku masih segar dan belum mengantuk. Aku pun berpura-pura seperti orang mengantuk, kami berdua pamit dan masuk kekamar, istrikupun mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang cukup nyaman dimata.
Mas aku ngantuk sekali! Kamu nggak kepengen kan? Besok aja ya Mas! aku ngantuk sekali Mas
Kukecup kening istriku dan dia pun langsung tertidur.
Aku masih melamun, kenapa hari ini aku tidak mengantuk seperti biasanya? Apa karena aku tidak meminum wedang buatan Ibu? Hampir setengah jam setelah istriku terlelap, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki menghampiri kearah kamarku!. Langsung aku pura-pura tertidur. Kulihat ada yang membuka pintu kamarku, saat kubuka sedikit kelopak mataku ternyata Ibu mertuaku! Mau apa beliau? Aku terus pura-pura tertidur. Untung lampu tidur dikamar kami remang-remang jadi ketika aku sedikit membuka kelopak mataku tidak terlihat oleh Ibu mertuaku.
Deg.. jantungku berdebar saat Ibu mertuaku menghampiriku, langsung mengelus elus burungku yang masih terbungkus celana pendek. Aku hendak menegurnya, namun rasa penasaran dengan apa yang terjadi 2 hari ini dan apa yang akan dilakukan Ibu mertuaku membuat aku terus berpura-pura tertidur. Ibu mertuaku pun langsung menurunkan celana pendek serta celana dalamku tanpa rasa canggung atau takut kalau aku dan istri ku terbangun, atau mungkin juga mertuaku sudah yakin kalau kami sudah sangat nyenyak sekali.
Blass lepas sudah celanaku! Aku telanjang, jantungkupun makin berdebar, aku terus berpura-pura terdidur dengan rasa penasaran atas perbuatan Ibu mertuaku. Aku menahan napas saat Ibu mertuaku mulai menjilati dan mengulum kemaluanku, hampir aku mendesih, aku mencoba terus bertahan agar tidak mendesis dan membiarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya.
Kemaluanku sudah berdiri dengan tegaknya, Ibu mertuaku dengan asiknya terus mengulum kemaluanku tanpa tahu bahwa aku tidak tertidur. Jujur aku akui, bahwa aku juga sebenarnya sudah sangat terangsang sekali. Ingin rasanya saat itu juga, aku bangun, langsung menerkam, mencumbu dan menyetubuhi Ibu mertuaku.
Kutahan semua gejolak birahiku, dan ku biarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya. Tiba-tiba Ibu mertuaku melepas kulumannya dan bangkit berdiri, aku terus memperhatikannya, dan bless.. mertuaku melepas dasternya, ternyata dibalik daster tersebut mertuaku sudah tidak memakai BH dan celana dalam lagi.
Aku sangat berdebar, dag.. dig.. dug suara jantungku saat menyaksikan tubuh telanjang Ibu mertuaku, apalagi ketika Ibu mertuaku mulai naik ketempat tidur, langsung mengangkangiku tepat diatas burungku, makin tak karuan detak jantungku.
Digemgamnya kemaluanku, diremas halus sambil dikocok-kocok perlahan, kemudian di gesek-gesekan ke memek Ibu mertuaku.
Aku sudah tidak tahan lagi! Ingin rasanya langsung kumasukan kontolku!. Sambil berjongkok, burungkupun diarahkannya kelubang surga Ibu mertuaku! perlahan-lahan sekali beliau menurunkan pantatnya memasukan burungku ke memeknya! sambil memejamkan mata menikmati mili demi mili masuknya burungku ke sarangnya.
Ahh.. ahh nikmat, jerit mertuaku, saat semua burungku telah amblas masuk tertelan memek Ibu mertuaku.
Sambil terus berpura-pura tertidur aku menahan gejolak birahiku yang sudah memuncak.
Ahh.. Ibu mertuaku menjerit tertahan saat beliau mulai naik turun bergoyang menikmati rasa nikmat yang beliau rasakan.
Ibu mertuaku terus menjerit, mendesah, tanpa takut aku, istri dan anakku atau bapak mertuaku terbangun.
Ibu mertuaku terus bergoyang naik turun. Belum beberapa lama menaik turunkan pantatnya, tubuh Ibu mertuaku mengejang.
Ahh nikkmatt, jerit panjang Ibu mertuaku.
Rupanya Ibu mertuaku baru saja mendapatkan orgasmenya.
Ibu mertuaku langung rebah menindih tubuhku mencium bibirku membelai kepalaku seperti, seorang istri yang baru saja selesai bersetubuh dengan suaminya, aku langsung membuka mataku.
Jadi selama ini aku tidak bermimpi! dan tidak pula tidur dengan mahluk halus!.
Ibu mertuaku bangkit karena kaget
Mass ka.. mu ndak ti.. dur? kamu nggak meminum wedang yang Ibu bikin?.
Tidak Bu! aku tidak meminumnya, Ibu mertuaku salah tingkah dan serba salah! mukanya memerah tanda beliau mengalami malu yang sangat luar biasa.
Aku bangkit dan duduk ditepi ranjang,
Mass.., Ibu mertuaku menangis sambil duduk dan memeluk kakiku.
Ammpuni Ibu, Mass.
Aku merasa kasihan melihat Ibu mertuaku seperti itu, karena aku sendiripun sudah sangat terangsang akibat permainan Ibu mertuaku tadi.
Bu aku belum tuntas!, aku angkat mertuaku, aku peluk, kucium bibirnya.
Sudah Bu, jangan menangis!, aku juga menikmatinya kok Bu!.
Kulepas bajuku, kami berdua sudah telanjang bulat, kupeluk Ibu mertuaku dan kamipun berciuman dengan buasnya.
Ahh Mas.. nikmat.. Mas.., saat kuhisap dan kuremas tetek mertuaku yang sudah kendur..
Ah.. Mas nikmat.., kutelusuri seluruh tubuhnya, dari teteknya, terus kuciumi perutnya yang agak gendut.
Ahh Mass, jeritnya, saat kuhisap kemaluannya, kujilati itilnya sambil ku gigit gigit kecil.
Dua jarikupun terbenam di dalam memek ibu mertuaku, jeritan mertuaku makin tak terkendali, apalagi disaat dua jariku mengocok dan menari-nari dilubang memeknya dan lidahku menari nari di itilnya.
Ahh.. Mass Ibu mau keluar lagi.. ahh! Ibu keluarr!, aarrgghh, jerit ibu mertuaku.
Tanpa sadar kaki mertuaku menjepit kepalaku! Sampai sampai aku tidak bisa bernapas.
Enak Bu?
Enak sekali Mas. Kucium kembali mertuaku.
Bu.. apa Indri nanti nggak bangun?
Tenang Mas! Wedang itu merupakan obat tidur buatan Ibu yang paling ampuh!
Tidak berbahaya Bu?
Tidak Mas
Kugeluti kembali mertuaku.. kucium.. kuhisap teteknya. Kucolok-colok memeknya dengan dua jari saktiku.
Oohh Mass masukin Mass Ibu sudah nggak tahan lagi.. Mas.
Dengan gaya konvensional langsung kuarahkan kontolku ke lubang surga Ibu mertuaku, dan akhirnya masuk sudah.
Oh.. Mas nikmat sekali…
Iya Bu.. aku juga nikmat.. memek Ibu nikmat sekali.., goyang terus Bu…
Kamipun terus berpacu dalam nikmatnya lautan birahi. Aku mendayung naik turun dan Ibu mertuaku bergoyang seirama dengan bunyi kecipak-kecipak dari pertemuan dua alat kelamin kami.
Ohh Mas.. Ibu mau keluar lagi…
Rupanya Ibu mertuaku orang yang gampang meraih orgasme dan gampang kembali pulihnya, aku pun tak mau kehilangan moment.
Tahan Buu!, sedikit lagi akuu juga keluarr.., sambil kupercepat goyangan keluar masuk kontolku.
Akk Mass, Ibu sudah nggak kuatt.
Dan serr serr aku merasakan kemaluanku seperti di siram air yang hangat rasanya. Akupun sudah tak kuat lagi menahan ejakulasiku!
Ibuu aacchh, cret.. cret.. cret.., akupun rubuh memeluk Ibu mertuaku.
Bu!, jadi yang yang kemarin-kemarin itu Ibu yang melakukannya?
Iya Mas, maafin Ibu! Ibu jatuh cinta sama Mas pento sejak pertama kali Ibu melihat Mas. Apalagi Bapak sudah lama terserang impotensi.
Kenapa harus seperti pencuri Bu?.
Ibu takut ditolak Mas! lagi pula Ibu malu, sudah tua kok gatel.
Apa semua mantu Ibu, Ibu perlakukan seperti ini?.
Sambil melotot Ibu mertuaku berkata, Tidak Mas! Mas pento adalah lelaki kedua setelah bapak, Mas lah yang Ibu sayangi. Kucium kembali mertuaku, kupeluk.
Mulai besok Ibu jangan pakai wedang lagi, untuk Ibu, aku siap melayani, kapanpun Ibu mau.
Kamipun bersetubuh kembali, tanpa mempedulikan bahwa di sampingku, istri dan anakku tertidur dengan pulasnya. Tanpa istriku tahu! didekatnya aku dan ibunya sedang menjerit jerit mereguk nikmatnya persetubuhan kami. Saat ayam berkokok dan jam menunjukan pukul 3:30 kami menyudahi pertarungan yang begitu nikmat, lalu Ibu mertuaku dengan santai berjalan keluar dari kamar kami sambil berkata, Mas Pento terima kasih!.
Pagi Harinya, saat aku terbangun waktu sudah menunjukan pukul 10:15, kulihat disampingku, istri dan anakku sudah tidak ada lagi. Ahh.., akupun termenung mengingat kejadian semalam, aku masih tidak menyangka. Ibu mertuaku, orang yang sangat aku hormati, dan sangat aku kagumi kecantikannya, dengan suka rela menyerahkan tubuhnya kepadaku. Malah ibu mertuaku juga yang memulai awal perselingkuhan kami.
Selamat pagi Ma, sapaku saat kulihat di dapur istriku sedang membuatkan kopi untukku,
Kok sepi pada kemana mah?
Kamu sih bangunnya kesiangan, Bapak pergi ke Wonogiri, Ibu pergi ke pasar sama Piko.
Kupandangi wajah istriku, tiba-tiba saja terlintas bayangan wajah Ibu mertuaku, akupun jadi terangsang, karena peristiwa semalam masih membekas dalam ingatanku.
Ihh.. apa-apaan sih Mas.. jangan disini dong Mas.., protes istriku saat kutarik lengannya, langsung kupeluk dan kulumat bibirnya..
Mas.. malu.. ahh, nanti kalau Ibu datang bagaimana?
Aku yang sudah benar benar terbakar birahi, sudah tidak perduli lagi akan protes istriku, kuremas teteknya, ku lumat bibirnya, yang aku bayangkan saat itu adalah Ibu mertuaku. Kubalik tubuh istriku, dalam posisi agak membungkuk, kusingkap ke atas dasternya kuturunkan celana dalamnya dan,
Uhh Mas pelan pelan dong.
Aku tak perduli, kuturunkan celanaku sebatas lutut, langsung kuarahkan burungku yang sudah tegak berdiri kelobang memek istriku.
Mass.. pelan pelan.. dong.. sakit.. Mas.
Semakin istriku berteriak, gairahkupun semakin meninggi, aku terus memaksa memasukan kontolku ke lubang memek istriku, yang belum basah benar.
Ahh.., jeritku, saat burungku amblas tertelan memek istriku.
Entahlah, saat itu aku merasakan gairahku begitu tinggi, langsung ku kugoyang maju mundur pantatku.
Ahh nikmat Ndri.., kugoyang dengan keras keluar masuk kontolku.
Mas.. enak mass.
Terus kugoyang maju mundur, mungkin karena terlalu bernafsu, baru beberapa menit saja, rasanya ejakulasiku sudah semakin dekat, denyutan di kontolku semakin membuat aku mempercepat kocokan kontolku di lubang memek istriku.
Ndri .. aku mau keluarr nihh.
Tahann mass, jangan dulu.., tahan sayang, pinta istriku.
Namun, semua permintaan istriku itu sia-sia, aku sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku, sedetik kemudian aahh, seluruh syaraf tubuhku menegang dan cret.. cret.. crett.. uhh.. aku menjerit tertahan sambil dengan erat kupeluk tubuh istriku dari belakang.
Kulihat, raut wajah kekecewaan diwajah Indri istriku,
Maaf.. ya.. sayang. aku sudah ngak tahan, aku terlalu bernafsu, habis kamu sexy sekali hari ini, rayuku.
Ndak apa-apa Mass.., kukecup keningnya.
Kamu aneh deh Mas?, ngak biasanya kamu kasar kayak tadi?, tanya istriku sambil berlalu menuju kamar mandi.
Kasihan istriku. padahal saat bersetubuh dengannya, aku membayangkan, yang sedang kusetubuhi adalah ibu mertuaku.
Saat siang menjelang, setalah makan siang, istriku dijemput oleh teman-teman genknya waktu di SMA dulu, rupanya istriku sudah janjian untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu, kebetulan salah satu sahabat karib istriku yang sekarang ini tinggal dilampung, saat ini sedang pulang kampung juga.
Pada mau kemana nih? Tanyaku
Mumpung kita lapi pada kumpul nih Mas, kita mau jalan- jalan aja Mas. Ya.. Paling-paling ke kota S makan Soto gading, Jawab mereka.
Setelah berbasa basi, mereka pamit padaku dan ibu mertuaku.
Da.. da piko jagain mamah ya.., kukecup anakku.
Bu aku pergi dulu ya, pamit istriku.
Mas aku jalan jalan dulu yahh, bye Mas
Saat aku masuk kedalam rumah aku lihat Ibu mertuaku sedang mengunci pintu gerbang.
Kok digembok bu?
Biar aman, katanya, sambil berjalan dan masuk ledalam rumah, dan klik.. Pintu rumah pun di kunci oleh Ibu mertuaku.
Aku dan Ibu Mertuaku saling berpandangan, seperti sepasang kekasih yang lama sekali tidak berjumpa dan saling merindukan, entah siapa yang memulai aku dan Ibu mertuaku sudah saling berpelukan dengan mesranya, Kukecup keningnya, dan kuremas remas bongkahan pantatnya.
Mas Pento, Saat-saat seperti inilah yang paling ibu tunggu-tunggu
kupandangi wajah ibu mertuaku, sunguh cantik sekali, kucecup kening mertuaku, kulumat bibirnya, kami berciuman dengan buasnya, saling sedot, saling hisap, kuangkat dan kulepas daster yang dipakai ibu mertuaku. Terbuka sudah, ternyata ibu mertuaku sudah tidak memakai Bh dan celana dalam lagi, kuhisap teteknya, kujilati inhci demi inchi seluruh tubuh Ibu mertuaku.
Ahh Mass, terus Mas.. sshh enak sayang..
Kuajak Ibu mertuaku pindah ke sofa.
Kamu duduk Mas.., dilepasnya kaos dan celanaku, aku dan ibu mertuaku sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel ditubuh kami berdua.
Ahh.. nikmat bu.., ohh hisap terus bu, hisap kontolku bu.. ahh
Nikmat sekali kuluman ibu mertuaku, kami berdua sudah lupa diri, saling merangsang saling meremas.
Ohh.. bu.., akupun bangkit untuk merubah posisi, kurebahkan ibu mertuaku dilantai, kakinya mengangkang, kupandangi memeknya, yang telah melahirkan istriku, kuhisap, kukecup dengan lembut memek ibu mertuaku, kujilati dengan penuh perasaan, kuhisap semua cairan yang keluar dari lubang sorga Ibu mertuaku
Ohh.. Mas.. jangan siksa Ibu sayang.., Mass, Pentoo.., masukin sekarang Mas.., Ibu sudah mau keluar sayang
Langsung kuarahkan batang kontolku kelubang surga ibu mertuaku. yang sudah pasrah dan siap untuk di sodok-sodok kontolku. Kugesek-gesek perlahan kontolku di itil Ibu mertuaku yang sudah mengeras dan.. belss.. uhh, rintih Ibu mertuaku saat kepala kontolku menerobos memasuki lubang nikmatnya.
Ohh.., Mas masukin semuanya sayang.. jangan siksa ibu.. sayang..
Lalu kuhentak dengan kasar.. ahh.. jerit mertuaku saat seluruh batang kontolku amblas meluncur dengan indahnya terbenam dijepit memek Ibu mertuaku, yang rasanya membuat aku jadi ketagihan mengentoti ibu mertuaku. Kupeluk ibu mertuaku, kamipun saling melumat, kuangkat perlahan-lahan kontolku kuhujam kembali dengan keras.
Aahh.., jerit ibu mertuaku.
Mas.. Pento.. entotin Ibu Mass.. entotin Ibu.. Mas .. ohh mass. puasin Ibu.. sayang.., uhh ahh.
Akupun semakin terangang dan bersemangat mendengar rintihan dan jeritan-jeritan jorok yang keluar dari mulut Ibu mertuaku.
Kunaik turunkan pantatku dengan tempo yang cepat dan kasar.
Ahh.. ahh .. Ibu.., jeritku, aku mau keluar.. buu.
Iyaa.. sayang ibu juga mau keluarr.
Kupercepat kocokan keluar masuk kontol ku, plak.. plak.. plak..
Mass.. ayo Mass.. keluar.. bareng.. sayang. Ahh..
Tubuh ibu mertuaku pun mengejang, kakinya menjepit pinggangku.
Mass ahh ahh
Ibuu, arrgg, jerit kami bersamaan saat nikmat itu datang seperti ombak yang bergulung gulung.
Cret.. crett.. crett.., kusirami rahim ibu mertuaku dengan spermaku.
Aku dan Ibu mertuaku terus berpelukan menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang begitu dahsyat yang kami raih secara bersamaan,
Bu.. kulihat ibu mertuaku masih memejamkan matanya, dengan nafas terengah-engah.
Iya Mas..
Rasanya aku jatuh cinta sama ibu.., kulihat ibu mertuaku tersenyum. manis sekali..
Ibu maukan jadi kekasihku bu.
Ibu mertuakupun hanya tersenyum dan mengecup keningku dengan mesranya, sambil berkata, Mas ini nikmat sekali.., dikecup kembali keningku.
Hari itu sampai magrib menjelang kami berdua terus berbugil ria, aku dan ibu mertuaku seperti layaknya pengantin baru, yang terus menerus melakukan persetubuhan tanpa merasa bosan, tanpa lelah kami terus menumpahkan cairan nikmat kami, di dapur, dikamar tidur ibu mertuaku dan di kamar mandi. Yang paling dasyat, setelah aku dan ibu mertuaku, meminum jamu buatan ibu mertuaku. Badanku segar sekali, dan kontolku begitu keras dan kokoh.., kukocok kontolku dilubang surga Ibu mertuaku, sampai banjir memek Ibu mertuaku danIibu mertuaku memohon kepadaku agar aku memasukan kontolku di lubang anusnya.
Nikamat sekali .. saat kutembakan spermaku didalam liang anus Ibu mertuaku.
Saat istriku kembali selepas isya, kusambut istriku dan teman temannya, setelah ber bincang bincang sebentar teman teman istriku pamit pulang. Istrikupun masuk menuju kamar hendak menaruh anak kami yang sudah lelap tertidur ke pembaringan.
Mas aku taruh Piko di kamar dulu ya.., kulirik Ibu mertuaku dan kuhampiri beliau sambil berbisik.
Bu.., Indri adalah istri pertamaku, dan Ibu istri keduaku, ujarku.
Ibu mertuaku pun tersenyum dengan manisnya, sambil mencubit pinggangku. Hari itu benar benar dahsyat. Dua lubang, lubang memek dan lubang anus Ibu mertuaku sudah aku rasakan.
*****
Pada hari keenam liburan kami di desa Gl, aku dan istriku terpaksa harus pulang ke Jakarta, karena dikantor istriku ada keperluan mendadak dan membutuhkan kehadiran Istriku. Mau tidak mau aku dan Istriku membatalkan semua acara liburan kami di kota S.
Kulihat Ibu mertuaku tampak sedih dan murung, beliau bilang sama Bapak mertuaku kalau beliau masih kangen sama kami, dan kalau menunggu hari raya nanti, rasanya terlalu lama buat beliau. Padahal itu adalah alasan Ibu mertuaku, Ibu mertuaku masih belum mau berpisah denganku, kurayu istriku agar membujuk Bapak mertuaku, berkat bujukan istriku akhirnya Bapak mertuaku membolehkan ibu mertuaku ikut kami ke Jakarta. Ibu mertuaku sangat gembira sekali dan kulihat sekilas matanya melirik kearahku.
Besoknya Aku memesan tiket kereta Argo Dwipangga, karena hari itu hari kerja, maka Akupun dengan mudah memperoleh tiket, Aku membeli empat tiket dan sedikit oleh-oleh untuk teman teman kami. Sesampainya aku dirumah, kami pun langsung berkemas kemas merapikan barang bawaan kami., Jam sudah menunjukan pukul 6:30 sore. Saat aku hendak menuju kekamar mandi aku berpapasan dengan Ibu mertuaku yang hari itu tampak cantik sekali, kubisikan kepadanya, agar Ibu mertuaku tidak usah memakai celana dalam, ibu mertuakupun tersenyum penuh arti.
Dengan diantar Pakde Man dan Bapak mertuaku Jam 8:30 malam kami tiba di stasiun Balapan, setelah menunggu sekitar kurang lebih setengah jam keretapun berangkat. Kuputar bangku tempat duduk kami, biar kami bisA saling berhadapan. Istriku duduk bersama anakku yang sudah teridur dipangkuan istriku sementara aku duduk bersama ibumertuaku. Setelah lewat stasiun yogyakarta, kulihat bangku disamping tempat duduk lami kosong. Berarti sudah tidak ada penumpang.., akupun pindah tempat duduk di sebelah kami, ternyata penumpang kereta hari ini tidak begitu penuh.
Dinginnya AC di kereta membuat banyak penumpang yang menarik selimut dan tertidur dengan lelapnya. Kulihat istri dan ibu mertuaku pun sudah tertidur. Jam 2 pagi aku terbangun kulihat istri dan anakku masih tertidur, aku bangkit dengan perlahan lahan kucolek Ibu mertuaku, beliau membuka matanya, sstt, akupun memberi kode kepada Ibu mertuaku. perlahan lahan Ibu mertuaku bangkit, kulihat istri dan anakku masih tertidur.
Bu.. aku kepengen.. bisikku.., Ibu mertuakupun tersenyum, kami berjalan ke arah belakang melewati penumpang lain yang masih lelap tertidur.
Sesampainya kami di gerbong belakang, tepat dibelakang gerbong kami, ternyata hanya ada beberapa penumpang yang sedang terlelap dan masih banyak kursi yang kosong. Setelah mendapat tempat duduk yang kurasa aman kuputar bangku didepan biar aman dan lega bagian tengahnya.
Langsung kupeluk Ibu mertuaku, kamipun saling berpagutan, kuremas tetek Ibu mertuaku, dengan perasaan yang sangat berdebar, kubuka celanaku sampai sebatas lutut, kontolku sudah tegak dengan sempurna, kuangkat rok panjang Ibu mertuaku.. wowwww ternyata Ibu mertuaku sudah tidak memakai celana dalam lagi.
Kamu yang suruh.. katanya, sambil memencet hidungku.
Aku duduk di lantai kereta, badanku bersandarkan tempat duduk, Ibu mertuakupun bangkit mengangkangiku, perlahan-lahan di arahkan memeknya ke burungku yang sudah tidak sabar menerima sarangnya. Diturunkan perlahan lahan dan bless.. amblas semua kontolku masuk kedalam tertelan lobang nikmat Ibu mertuaku yag sudah sangat basah sekali.
Ahh rintih kami bersamaan..
Goncangan kereta api dan goyangan naik turun pantat Ibu mertuaku menambah nikmatnya persetubuhan kami.
Dengan cepat Ibu mertuaku menaik turunkan pantatnya, kami berdua bersetubuh dengan rintihan perlahan. takut kalau-kalau ada penumpang yang terbangun dan melihat perbuatan kami.
Hanya beberapa menit saja.., Aahh, hh.. Ibuu aku.. aku.. mau keluarr…
Cret.. cret.. crett..
Kuangkat badanku dan kupeluk dengan erat tubuh Ibu mertuaku, tanpa sadar Ibu mertuakupun mengigit pundakku saat ejakulasi dan orgasme bersamaan hadir melanda dua insan manusia yang sedang lupa diri dan dilanda asmara.
Deg-deg-deg-deg, suara jantungku, untungnya tidak ada seorangpun yang lewat.. modar mandir.

The post Cerita Sex Ngentot Dengan Mertuaku Yang Binal appeared first on Kumpulan Cerita Sex Hari Ini.


Cerita Sex Gejolak Nafsu Yang Terpendam

$
0
0

Dengan mobil pinjaman dari ayahku, kami berangkat ke sana. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sekitar jam 5 sore kami tiba di kampungnya. Rumah Mas Iwan berada cukup jauh dari rumah tetangganya. Rumahnya cukup bagus, untuk ukuran di kampung, bentuknya memanjang. di rumah Mas Iwan kami disambut oleh Mbak Irma, istrinya dan Tante Sari mertuanya. Ternyata Mbak Irma, istri Mas Iwan, seorang perempuan yang sangat cantik.agen poker
Kulitnya putih bersih dan bodynya sangat seksi. Sedangkan Tante Sari tak kalah cantiknya dengan Mbak Irma. Meskipun sudah berumur 40an, kecantikannya belum pudar. Bodinya tak kalah dengan gadis remaja. Oh ya, Tante Sari bukanlah ibu kandung Mbak Irma. Tante Sari kawin dengan Bapak Mbak Irma, setelah ibu kandung Mbak Irma meninggal. Tapi setelah lima tahun menikah, bapak Mbak Irma yang meninggal, karena sakit. Jadi sudah sepuluh tahun Tante Sari menjanda.
Sekitar jam 20.00 WIB, Mas Iwan mengajakku makan malam ditemani Mbak Irma dan Tante Sari. Sambil makan kami ngobrol diselingi gelak tawa. Walaupun kami baru kenal, tapi karena keramahan mereka kami serasa sudah lama kenal. Selesai makan malam Mas Iwan dan Mbak Irma permisi mau tidur. Mungkin mereka sudah tak sabar melepaskan hasrat yang sudah lama tak tersalurkan. Tinggal aku dan Tante Sari yang melanjutkan obrolan. Tante Sari mengajakku pindah ke ruang tamu. Pas di depan kamar Mas Iwan.
Saat itu Tante Sari hanya mengenakan baju tidur transparan tanpa lengan. Hingga samar-samar aku dapat melihat lekuk-lekuk tubuhnya yang sexy. Tante Sari duduk seenaknya hingga gaunnya sedikit tersingkap. Aku yang duduk dihadapannya dapat melihat paha mulusnya, membangkitkan nafsu birahiku. Penisku menegang dari balik celanaku. Tante Sari membiarkan saja aku memelototi paha mulusnya. Bahkan dia semakin lebar saja membuka pahanya.
Semakin malam obrolan kami semakin hangat. Tante Sari menceritakan, semenjak suaminya meninggal, dia merasa sangat kesepian. Dan aku semakin bernafsu mendengar ceritanya, bahwa untuk menyalurkan hasrat birahinya, dia melakukan onani. Kata-katanya semakin memancing nafsu birahiku. Aku tak tahan, nafsu birahiku minta dituntaskan. Akupun pergi kekamar mandi. Sampai di kamar mandi, kukeluarkan penisku dari balik celanaku. Kukocok-kocok sekitar lima belas menit. Dan crot! crot! crot! Spermaku muncrat kelantai kamar mandi. Lega sekali rasanya.
Setelah menuntaskan hasratku, aku balik lagi ke ruang tamu. Alangkah terkejutnya aku. Disana di depan jendela kamar Mas Iwan yang kordennya sedikit terbuka kulihat Tante Sari sedang mengintip ke dalam kamar, Mas Iwan yang sedang bersetubuh dengan istrinya.
Nafas Tante Sari naik turun, tangannya sedang meraba-raba buah dadanya. Nafsu birahiku yang tadi telah kutuntaskan kini bangkit lagi melihat pemandangan di depanku. Tanpa berpikir panjang, kudekap tubuh Tante Sari dari belakang, hingga penisku yang sudah menegang menempel hangat pada pantatnya, hanya dibatasi celanaku dan gaun tidurnya. Tanganku mendekap erat pinggang rampingnya. Dia hanya menoleh sekilas, kemudian tersenyum padaku. Merasa mendapat persetujuan, aku semakin berani. Kupindahkan tanganku dan kususupkan kebalik celana dalamnya. Kuraba-raba bibir vaginanya.
“Ohh.. Don.. Enakk,” desahnya, ketika kumasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya yang telah basah. Setelah puas memainkan jari-jariku dilubang vaginanya, kulepaskan dekapan dari tubuhnya. Kemudian aku berjongkok di belakangnya. Kusingkapkan gaun tidurnya dan kutarik celana dalamnya hingga terlepas. Kudekatkan wajahku ke lubang vaginanya. Kusibakkan bibir vaginanya lalu kujulurkan lidahku dan mulai menjilati lubang vaginanya dari belakang, sambil kuremas-remas pantatnya. Tante Sari membuka kedua pahanya menerima jilatan lidahku. Inilah vagina terindah yang pernah kurasakan.
“Oohh.. Don.. Nik.. mat,” suara Tante Sari tertahan merasakan nikmat ketika lidahku mencucuk-cucuk kelentitnya. Dan kusedot-sedot bibir vaginanya yang merah. “Ohh.. Don.. Luarr.. Biasaa.. Enakk.. Sedott.. terus,” pekiknya semakin keras.
Cairan kelamin mulai mengalir dari vagina Tante Sari. Hampir setiap jengkal vaginanya kujilati tanpa tersisa. Tante Sari menarik vaginanya dari bibirku, kemudian membalikkan tubuhnya sambil memintaku berdiri. Dia mendorong tubuhku ke dinding. Dengan cekatan ditariknya celanaku hingga terlepas, maka penisku yang sudah tegang, mengacung tegak dengan bebasnya.
“Ohh.. Luar biaassaa.. Don.. Besar sekali,” serunya kagum. “Isepp.. Tante, jangan dipandang aja,” pintaku.
Tante Sari mengabulkan permintaanku. Sambil melepaskan gaun tidurnya, dia lalu berjongkok dihadapanku. Wajahnya pas di depan selangkanganku. Tangan kirinya mulai mengusap-usap dan meremas-remas buah pelirku. Sedangkan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku dengan irama pelan tapi pasti. Mulutnya didekatkan kepenisku dan dia mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku. Aku meringis merasakan geli yang membuat batang penisku semakin tegang.
“Ohh.. Akhh.. Tan.. Te.. Nikk.. matt,” seruku tertahan, ketika Tante Sari mulai memasukkan penisku kemulutnya. Mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang besar dan panjang. penisku keluar masuk di mulutnya. Tante Sari sungguh lihai memainkan lidahnya. Aku dibuatnya seolah-olah terbang keawang-awang.
Tante Sari melepaskan penisku dari kulumannya setelah sekitar lima belas menit. Kemudian dia memintaku duduk dilantai. Dia lalu naik kepangkuanku dengan posisi berhadapan. Diraihnya batang penisku, dituntunnya ke lubang vaginanya. Perlahan-lahan dia mulai menurunkan pantatnya. Kurasakan kepala penisku mulai memasuki lubang yang sempit. Penisku serasa dijepit dan dipijit-pijit. Mungkin karena sudah sepuluh tahun tidak pernah terjamah laki-laki. Meski agak susah, akhirnya amblas juga seluruh batang penisku ke dalam lubang vaginanya.
Tante Sari mulai menaik-turunkan pantatnya, dengan irama pelan. Diiringi desahan-desahan lembut penuh birahi. Sesekali dia memutar-mutar pantatnya, penisku serasa diaduk-aduk dilubang vaginanya. Aku tak mau kalah, kuimbangi gerakkannya dengan menyodok-nyodokkan pantatku ke atas. Seirama gerakkan pantatnya.
Oh, senangnya melihat penisku sedang keluar masuk vaginanya. Bibirku menjilati buah dadanya secara bergantian, sedangkan tanganku mendekap erat pinggangnya. Semakin lama semakin cepat Tante Sari menaik turunkan pantatnya. Nafasnya tersengal-sengal. Dan kurasakan vaginanya berkedut-kedut semakin keras.
“Ohh.. Don.. Aku.. Mau.. Keluarr,” pekiknya. “Tahan.. Tan.. Te.. Akuu.. Belumm.. Mauu,”sahutku. “Akuu.. Tak.. Tahann.. Sayang,” teriaknya keras. Tangannya mencengkeram keras punggungku. “Akuu.. Ke.. Ke.. Luarr.. Sayangg,” jeritnya panjang.
Tante Sari tak dapat menahan orgasmenya, dari vaginanya mengalir cairan yang membasahi seluruh dinding vaginanya. Tante sari turun dari pangkuanku lalu merebahkan tubuhnya dipangkuan. Kepalanya berada pas diselangkanganku. Tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku. Dan mulutnya mengulum kepala penisku dengan lahapnya.
Perlakuannya pada penisku membuat penisku berkedut-kedut. Seakan-akan ada yang mendesak dari dalam mau keluar. Dan kurasakan orgasmeku sudah dekat. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkanganku. Hingga penisku semakin dalam masuk kemulutnya.
“Akhh.. Tante.. Akuu.. Mau keluarr,” teriakku. “Keluarin.. Dimulutku sayang,” sahutnya. Tante sari semakin cepat mengocok dan mengulum batang penisku. Diiringi jeritan panjang, spermaku muncrat ke dalam mulutnya. “Ohh.. Kamu.. Hebatt.. Don, aku puas,” pujinya, tersenyum ke arahku. Tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati dan menelan sisa-sisa spermaku.
Suara ranjang berderit di dalam kamar, membuat kami bergegas memakai pakaian dan pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Kemudian masuk ke kamar Masing-masing. Beberapa menit kemudian kudengar langkah kaki Mbak Irma ke kamar mandi. Dari balik jendela kamarku dapat kulihat Mbak Irma hanya mengenakan handuk yang yang dililitkan ditubuhnya. Memperlihatkan paha mulus dan tubuh sexynya. Membuatku mengkhayal, alangkah senangnya bisa bersetubuh dengan Mbak Irma.
Sekitar jam 02.00 dinihari, aku terbangun ketika kurasakan ada yang bergerak-gerak di selangkanganku. Rupanya Tante Sari sedang asyik mengelus-elus buah pelirku dan menjilati batang penisku.
“Akhh.. terus.. Tante.. terus,” gumanku tanpa sadar, ketika dia mulai mengulum batang penisku. Dengan rakus dia melahap penisku. Sekitar sepuluh menit berlalu kutarik penisku dari mulutnya. Kusuruh dia menungging, dari belakang kujilati lubang vaginanya, bergantian dengan lubang anusnya. Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya yang basah dan memerah. Sedikit demi sedikit penisku memasuki lubang vaginanya. Semakin lama semakin dalam, hingga seluruh batang penisku amblas tertelan lubang vaginanya.
Aku mulai memaju mundurkan pantatku, hingga penisku keluar masuk lubang vaginanya. Sambil kuremas-remas pantatnya.
“Ooh.. Don.. Nikk.. Matt.. Bangett,” rintihnya.
Aku semakin bernafsu memaju mundurkan pantatku. Tante sari mengimbangi gerakkanku dengan memaju mundurkan juga pantatnya, seirama gerakkan pantatku. Membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Semakin lama semakin cepat gerakkan pantatnya.
“Don.. Donnii.. Akuu.. Tak.. Tahann,” jeritnya. “Akuu.. Mauu.. Ke.. Keluarr,” imbuhnya.
Kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan menjepit penisku. Tangannya mencengkeram dengan keras diranjang.
“Ooh.. Oo.. Aku.. Keluarr,” lolongnya panjang.
Dan kurasakan ada cairan yang merembes membasahi dinding-dinding vaginanya. Tante Sari terlalu cepat orgasme, sedangkan aku belum apa-apa. Aku tak mau rugi, aku harus puas, pikirku. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kuarahkan ke lubang anusnya.
“Akhh.. Donn.. Jangann.. Sakitt,” teriaknya, ketika kepala penisku mulai memasuki lubang anusnya. Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku lebih keras hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Dan kurasakan nikmatnya jepitan lubang anusnya yang sempit. Perlahan-lahan aku mulai menarik dan mendorong pantatku, sambil memasukkan jari-jariku ke lubang vaginanya. Tante sari menjerit-jerit merasakan nikmat dikedua lubang bawahnya.
“Enak khan Tante?” tanyaku. “Hemm.. Enakk.. Banget.. Sayang,” sahutnya sedikit tersipu malu.
Semakin lama semakin cepat kusodok lubang anusnya. Sambil kutepuk-tepuk pantatnya. Kurasakan penisku berkedut-kedut ketika orgasmeku akan tiba dan crott! crott! crott! Kutumpahkan spermaku dilubang anusnya.
“Penismu yang pertama sayang, memasuki lubang anusku,” katanya sambil membalikkan tubuhnya dan tersenyum padaku. “Kamu luar biasa Don, belum pernah kurasakan nikmatnya bersetubuh seperti ini,” imbuhnya. “Tante mau khan, setiap malam kusetubuhi?” tanyaku. “Siapa yang menolak diajak enak,” sahutnya seenaknya.
Sejak saat itu, hampir setiap malam kusetubuhi Tante sari. Ibu tiri Mbak Irma yang haus sex, yang hampir sepuluh tahun tidak dinikmatinya, sejak kematian suaminya.
Tak terasa sudah lima hari aku berada di rumah Mas Iwan. Selama lima hari pula aku menikmati tubuh Tante Sari, mertuanya yang haus sex. Tante Sari yang sepuluh tahun menjanda, betul-betul puas dan ketagihan bersetubuh denganku. Meski telah berusia setengah baya, tapi nafsu birahinya masih meletup-letup, tak kalah dengan gadis remaja.
Sore itu, sehabis mandi dan berpakaian, Mas Iwan mengajakku jalan-jalan. Katanya mau ketemu seorang teman yang sudah lama dirindukannya. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, sampailah kami di rumah teman Mas Iwan. Sebuah rumah yang berada dikawasan yang cukup elite. Kedatangan kami disambut dua orang wanita kakak beradik, Mbak Rina dan Mbak Vira. Keduanya sama-sama cantik dan sexy. Mas Iwan memperkenalkanku pada kedua teman wanitanya.
“Mas Iwan, aku kangen banget,” katanya sambil memeluk Mas Iwan. “Aku juga Rin,” sahut Mas Iwan.
Sambil meminum kopi susu yang disuguhkan Mbak Rina, kami bercakap-cakap. Mbak Rina duduk dipangkuan Mas Iwan. Dan Mas Iwan merangkulnya dengan mesra. Mbak Rina tanpa malu-malu menceritakan, kalau Mas Iwan adalah pacar pertamanya dan Mas Iwanlah yang membobol perawannya.
Mbak Vira hanya tersenyum mendengar cerita kakaknya yang blak-blakan. Makin lama kelakuan Mbak Rina makin mesra saja. Tanpa malu-malu, dia mengecup dan melumat bibir Mas Iwan dan Mas Iwan menyambutnya dengan sangat bernafsu. Aku jadi risih menyaksikan kelakuan mereka. Sekitar sepuluh menit mereka bercumbu di depan kami.
“Kita lanjutin di kamar aja say,” kata Mbak Rina pada Mas Iwan. Mas Iwan mengangguk tanda setuju, sambil membopong tubuh Mbak Rina ke dalam kamar. “Kalian jangan ngintip ya,” kata Mas Iwan pada kami sambil tersenyum.
Aku dan Mbak Vira hanya bengong melihat kemesraan mereka. Tanpa menghiraukan larangan Mas Iwan, Mbak Vira beranjak dari tempat duduknya sambil meraih tanganku menuju kamar Mbak Rina. Kami kemudian berdiri di depan pintu kamar Mbak Rina yang terbuka lebar. Dari situ aku dan Mbak Vira melihat Mas Iwan merebahkan tubuh Mbak Rina diatas ranjang dan mulai melepaskan gaun Mbak Rina. Aku terkesima melihat mulusnya dan sexynya tubuh Mbak Rina, ketika seluruh pakaiannya dibuka Mas Iwan.
Nafsu birahiku tak tertahankan lagi, penisku menegang dibalik celanaku. Tanpa sadar kupeluk tubuh Mbak Vira yang berdiri di depanku. Mbak Vira diam saja dan membiarkanku memeluknya. Malah tangan dibawa ke belakang dan disusupkan ke balik celanaku. Mendapat perlakuan seperti itu, nafsuku semakin memuncak dan penisku semakin menegang. Apalagi saat Mbak Vira menggerak-gerakkan tangannya mengocok-ngocok batang penisku.
Sementara di dalam kamar, Mas Iwan menarik tubuh Mbak Rina ketepi Ranjang. Kedua paha Mbak Rina dibukanya lebar-lebar. Maka terpampanglah vagina Mbak Rina yang indah, dihiasi bulu-bulu yang dicukur rapi. Mas Iwan kemudian berjongkok dan mendekatkan mulutnya kebibir vagina Mbak Rina.
“Ohh.. Say.. Yang.. Nikk.. Mat,” desah Mbak Rina tertahan, ketika Mas Iwan mulai menjilati vaginanya. Lidah Mas Iwan menari-nari dan mencucuk-cucuk vagina Mbak Rina. Pantat Mbak Rina terangkat-angkat menyambut jilatan Mas Iwan. Kedua pahanya terangkat dan menjepit kepala Mas Iwan.
“Sudah.. Say.. Aku.. nggak tahan.. Masukin punyamu say,” pinta Mbak Rina penuh nafsu. Mas Iwan kemudian berdiri dan melepaskan semua pakaiannya.
Dengan sedikit membungkukkan badannya, Mas Iwan memegang penisnya dan mengarahkannya ke lubang vagina Mbak Rina yang telah basah dan merah merekah. Slepp! Kepala penis Mas Iwan mulai memasuki vagina Mbak Rina.
“Aow.. terus.. Say.. terus.. Genjot,” seru Mbak Rina, ketika Mas Iwan mulai mendorong pantatnya naik turun. Penisnya keluar masuk dari vagina Mbak Rina.
Melihat Mas Iwan dan Mbak Vira sedang bersetubuh di depanku, membuat nafsu birahiku semakin tinggi. Kususupkan tanganku ke balik celana dalamnya. Dapat kurasakan vaginanya yang telah basah, pertanda Mbak Vira juga bangkit nafsu birahinya. Kucucuk-cucuk vaginanya dengan jari-jariku. Dia mendesah penuh nafsu. Mbak Vira mengimbangi dengan semakin cepat mengocok-ngocok penisku. Sekitar sepuluh menit Mbak Vira mengocok penisku. Mbak Vira kemudian menyudahi kocokkannya dan membalikkan badannya, menghadap ke arahku. Ditariknya celanaku hingga terlepas.
Setelah celanaku terlepas, keluarlah penisku yang tegang penuh dan mengacung-acung dengan bebasnya. Mbak Vira terpukau melihat penisku yang besar dan panjang. Mbak Vira kemudian berjongkok dikakiku, wajahnya berada pas di depan selangkanganku. Mbak Vira mendekatkan mulutnya kebatang penisku. Mula-mula dia menjilati penisku dari kepala hingga pangkalnya. Terus dia mulai mengulum dan menghisap kepala penisku.
Kemudian sedikit demi sedikit batang penisku dimasukkannya ke dalam mulutnya sampai kepala penisku menyodok ujung mulutnya. Dan mulutnya penuh sesak oleh batang penisku. Dengan lihainya, Mbak vira mulai memaju-mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar-masuk dari dalam mulutnya. Mataku merem-melek merasakan nikmat dan badanku serasa panas dingin merasakan kulumannya.
Mbak Vira sangat lihai mengulum penisku. Kudorong maju pantatku dan kujambak rambutnya, membenamkan kepalanya ke selangkanganku. Sekitar lima belas menit berlalu Mbak Vira menyudahi kulumannya, dan melepaskan seluruh pakaiannya. Kemudian dia berdiri menghadap ke dinding.
“Oohh.. Akhh.. Akuu.. nggak tahann.. Don,” serunya tertahan. “Entot aku.. Entott.. Don,” imbuhnya.
Kutarik sedikit tubuhnya dari belakang, hingga dia menungging. Kuraih batang penisku dan kuarahkan pas ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong maju pantatku, hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.
“Aow.. Pelan-pelan Don,” pekiknya, ketika seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya yang masih sempit. Pekikkan yang keluar dari mulutnya membuatku semakin bernafsu dan pelan-pelan kumaju-mundurkan pantatku.
“Akhh.. Enakk.. Don.. Enakk.. Banget,” desahnya sambil menoleh ke belakang sambil tersenyum padaku. “Akhh.. Akuu.. Ke.. luarr, Rin,” teriakkan Mas Iwan dari dalam kamar mengejutkanku, namun tak menghentikan sodokkanku pada Mbak Vira. “Aku.. jugaa.. Sayang,” sahut Mbak Rina pada Mas Iwan.
Sedetik kemudian Mas Iwan dan Mbak Rina mencapai orgasme bersamaan. Mas Iwan menumpahkan spermanya di dalam vagina Mbak Rina. Kemudian Mas Iwan merebahkan tubuhnya disamping tubuh Mbak Rina, dan tertidur pulas.
Sementara itu, aku semakin cepat memaju-mundurkan pantatku, membuat Mbak Vira berteriak-teriak saking nikmatnya. Kurasakan vaginanya berkedut-kedut semakin lama semakin cepat dan menjepit penisku.
“Donn.. Donii.. Akuu.. Mauu.. Keluarr,” teriaknya panjang. “Tahann.. Mbak.. Aku.. Belum.. Apa-apa,” sahutku. “Akhh.. Akuu.. Tak.. Tahan.. Don.. Akuu,” jawabnya terputus dan vaginanya semakin keras menjepit penisku.
Tak lama kemudian Mbak Vira mencapai orgasme. Kurasakan ada cairan-cairan yang merembes didinding vaginanya. Kucabut penisku dari lubang vaginanya dan kusuruh dia berjongkok dihadapanku. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya keselangkangku. Mbak Vira mengerti maksudku. Dia mulai menjilati dan menghisap-isap penisku lalu mengulumnya. Sambil tangan kirinya mengusap-usap buah pelirku.
Sedetik kemudian Mbak Rina datang membantu, dan langsung berjongkok dihadapanku. Lidahnya dijulurkan untuk menjilati buah pelirku. Tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal penisku. Secara bergantian, kakak beradik, Mbak Rina dan Mbak Vira, mengocok-ngocok, menjilati dan mengulum penisku. Penisku keluar dari mulut Mbak Vira kemudiam masuk ke mulut Mbak Rina, kemudian keluar dari mulut Mbak Rina lalu masuk kemulut Mbak Vira, begitulah seterusnya. Hingga kurasakan penisku berkedut-kedut.
“Mbakk.. Akuu.. Mauu.. Ke.. Keluarr,” jeritku. “Keluarin di mulutku Don,” sahut mereka hampir bersamaan.
Dan crott! crott! crott! Spermaku muntah dimulut Mbak Vira yang sedang kebagian mengulum. Mbak Vira menelan spermaku tanpa rasa jijik sedikitpun. Kemudian Mbak Rina merebut penisku dari Mbak Vira dan memasukkan ke mulutnya. Dan tak mau kalah dengan adiknya, sisa-sisa spermaku dihisap dan dijilatinya sampai bersih.
“Kamu puas Don,” kata Mbak Vira. “Puas sekali Mbak, Mbak berdua luar biasa,” sahutku. “Kamu mau yang lebih seru nggak,”kata Mbak Rina. “Mau, mau Mbak,”sahutku.
Mereka kemudian mengajakku ke kamarnya, dimana Mas Iwan sedang tertidur pulas sehabis bersetubuh dengan Mbak Rina. Mbak Rina menyuruhku tidur terlentang diranjang. Mbak Rina kemudian menarik kakiku, hingga pantatku berada ditepi ranjang dan kakiku menjuntai kelantai. Lalu Mbak Rina berjongkok dilantai dengan wajah berada pas di depan selangkanganku. Mbak Rina mulai mengusap-usap dan mengocok-ngocok batang penisku yang masih layu, sehabis orgasme. Kurasakan sedikit ngilu tetapi kutahan.
Mbak Rina menyudahi usapan dan kocokannya. Dan mulai menjilati dan menghisap-isap penisku dimulai dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Lidahnya berputar-putar dan menari-nari diatas batang penisku. Puas menjilati penisku, Mbak Rina kemudian memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk kemulutnya. Dan kurasakan sedikit demi sedikit penisku mulai menegang didalam mulutnya, hingga mulutnya penuh sesak oleh batang penisku yang sudah tegang penuh. Mbak Rina sangat pintar membangkitkan birahiku. Mulutnya maju mundur mengulum penisku. Pipinya sampai kempot, saking semangatnya mengulum penisku.
Melihat kakaknya yang sedang menjilati dan mengulum batang penisku, Mbak Vira nafsunya bangkit lagi. Dia meraba-raba dan memasukkan jari-jari tangan kirinya ke dalam vaginanya sendiri, sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah dadanya hingga mengeras dan padat. Diiringi desahan-desahan penuh birahi.
Puas bermain-main dengan vagina dan buah dadanya sendiri, Mbak Vira kemudian naik ke atas tubuhku. Dan mengangkangi wajahku. Lubang vaginanya berada pas diatas wajahku. Dia menurunkan pantatnya, hingga bibir vaginanya menyentuh mulutku. Kujulurkan lidahku untuk menjilati vaginanya yang telah basah. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya, dia mengerang-erang merasakan nikmat. Mbak Vira menarik rambutku, membenamkan wajahku diselangkangannya. Kepalaku dijepit dengan kedua paha mulusnya.
Kini kami bertiga, aku dan kakak beradik sedang berlomba mencari kepuasan. Mbak Vira sedang kujilati vaginanya, sedangkan pada bagian bawah tubuhku Mbak Rina dengan asiknya mengulum batang penisku. Beberapa waktu berlalu Mbak Rina melepaskan kulumannya, dan berjongkok diatas selangkanganku. Dengan tangannya, diraihnya batang penisku dan diarahkannya ke lubang vaginanya. Bless! Dengan sekali dorongan pantatnya, masuklah seluruh batang penisku ke dalam vaginanya yang basah tapi hangat.
Lalu Mbak Rina menaik turunkan pantatnya, sambil mengeluarkan desahan-desahan nikmat dari mulutnya. Sesekali pantatnya diputar-putar hingga penisku serasa dipelintir. Saat menikmati goyangan Mbak Rina, aku terus menjilati vagina Mbak vira sambil memasukkan jari-jariku ke lubang anusnya. Sedang asiknya aku menjilati vagina Mbak Vira, kurasakan vaginanya berkedut-kedut.
Beberapa detik kemudian ada cairan yang keluar dari dalam vaginanya. Mbak Vira mencapai orgasme. Pahanya makin keras menjepit kepalaku. Tanpa rasa jijik kusedot dan kutelan cairan vaginanya. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, Vagina Mbak Rina juga berkedut-kedut, otot-otot vaginanya menegang.
“Ohh.. Don.. Aku.. Keluar,” teriak Mbak Rina.
Air maninya mengaliri deras dan membasahi batang penisku. Kemudian dia terkulai lemas sampingku. Membuat penisku yang masih tegang terlepas dan mengacung-acung. Mbak vira yang kondisi sudah pulih sehabis orgasme, kemudian berjongkok diatas selangkanganku, menggantikan kakaknya. diraihnya penisku dan diarahkannya ke lubang anusnya. Mbak Vira menurunkan pantatnya sedikit demi sedikit hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Kurasakan penisku seperti dijepit dan dipijit-pijit oleh sempitnya lubang snusnya.
“Oohh.. Mbak.. Nikk.. Matt.. Enakk,”teriakku, ketika Mbak Vira mulai menaik turunkan pantatnya, membuat penisku keluar masuk dari lubang anusnya. Sesekali dia menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, membuatku merasakan nikmat yang luar biasa. Sekitar tiga puluh menit Mbak Vira menggenjot tubuhku.
“Mbakk.. Akuu.. Ke.. Keluarr,” jeritku.
Kurasakan penisku berkedut-kedut dan crott! crott! crott! kutumpahkan seluruh spermaku di dalam lubang anusnya. Mbak Vira kemudian merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Sambil menindihku dia tersenyum puas. Malam itu, aku dan Mas Iwan menginap disana. Dan berpesta sampai pagi, sampai kami sama-sama puas dan kelelahan.
Panasnya sinar matahari yang menerobos jendela kamarku, membangunkanku dari tidurku yang lelap. Setelah hampir semalam penuh aku merasakan nikmatnya bersetubuh dengan Mbak Rina dan Mbak Vera. Dan aku baru pulang dari rumahnya kerumah Mas iwan jam 05.00 dinihari.
Dengan sedikit bermalas-malasan, aku pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Selesai mandi badan rasanya segar sekali. Siang itu kurasakan lain dari biasanya, rumah Mas Iwan tampak sepi sekali. Oh ya, aku baru ingat kalau hari ini, Mas Iwan mengantar Tante Sari kondangan ke kampung sebelah. Jadi yang ada di rumah hanya Mbak Erna dan Aku.
Dengan hanya mengenakan handuk yang kulilitkan dipinggangku, aku pergi ke dapur. Membuat secangkir kopi. Sampai didapur kudapati Mbak Erna sedang mencuci piring.
“Pagi Mbak,” sapaku.
Mbak Erna tak menjawab sapaanku. Mukanya cemberut. Aku heran, tumben Mbak Erna begitu, biasanya dia sangat ramah padaku.
“Ada apa sih Mbak, kok cemberut begitu,” tanyaku lagi. “Mbak marah sama aku? atau Mbak nggak senang ya, aku disini,” imbuhku.
Mbak erna masih diam saja, membuatku tak enak hati dan bertanya-tanya dalam hati.
“Ok, Mbak. Kalau Mbak nggak senang, aku pulang aja deh,” “Jangan-jangan pulang Don, aku nggak marah sama kamu,” sahutnya sambil menarik tanganku. “Habis Mbak marah sama siapa? Boleh tahu kan Mbak?” tanyaku lagi. “Ok, Mbak akan kasih tahu, tapi jangan bilang sama siapa-siapa ya!,” jawabnya. “Aku janji Mbak,” kataku meyakinkannya. “Don, aku lagi kesal sama Mas Iwan,” kata Mbak sari. “Kesal kenapa Mbak,” selaku. “Belakangan ini, Mas Iwan dingin sekali padaku Don,” katanya sambil merebahkan kepalanya didadaku. “Setiap aku pingin begituan, dia selalu menolak,” imbuhnya sambil tersipu malu. “Mungkin Mas Iwan lagi lelah Mbak,” hiburku sambil kuusap-usap rambutnya. “Ah, masak setiap malam lelah,” sahutnya. “Mungkin ada yang bisa aku bantu, untuk menghilangkan kekesalan Mbak,” pancingku.
Mbak Erna tak menjawab pertanyaanku. Sebagai orang yang cukup berpengalaman soal sex, aku tahu Mbak Erna sangat kesepian dan menginginkan hubungan sexsual. Maka dengan memberanikan diri, kukecup lembut keningnya. Dan kurasakan remasan halus tangannya yang masih memegang tanganku. Merasa mendapat respon positif, kugerakkan bibirku menciumi kedua pipinya dan berhenti dibelahan bibir mungilnya.
Mbak Ernapun membalas kecupanku pada bibirnya dengan kuluman yang hangat, penuh gairah. kukeluarkan lidahku, mencari lidahnya. Kuhisap-hisap dan kusedot-sedot. Kulepaskan tanganku dari genggamannya dan kugerakkan menggerayangi tubuh Mbak Erna. Dan perlahan-lahan kususupkan tangan kananku kebalik gaun tidurnya. Dan kurasakan halusnya punggung Mbak Erna. Sementara tangan kiriku meremas-remas pantatnya yang padat. Mbak Erna melepaskan seluruh pakaiannya. Agar aku lebih leluasa menggerayangi tubuhnya.
Setelah semua terlepas maka terpampanglah pemandangan yang luar biasa. Dengan jelas aku bisa melihat buah dadanya yang montok, perutnya yang ramping dan vaginanya yang dicukur bersih. Membuat nafsu birahiku semakin menjadi-jadi dan kurasakan penisku menegang. Akupun melepaskan kulumanku pada bibirnya dan dengan sedikit membungkukkan badanku. Aku mulai menjilati buah dadanya yang mulai mengeras, secara bergantian.
Puas menjilati buah dadanya, jilatanku kupindahkan ke perutnya. Dan kurasakan halusnya kulit perut Mbak Erna. Mbak Erna tak mau ketinggalan, ditariknya handuk yang melilit dipinggangku. Dengan sekali sentakan saja, handukku terlepas.
“Aow, besar sekali don penismu,” decaknya kagum, sambil memandangi penisku yang telah menegang dan mengacung-ngacung setelah handukku terlepas. Mbak Erna menggerakkan tangannya, meraih batang penisku. Diusap-usapnya dengan lembut kemudian dikocok-kocoknya, membuat batang penisku semakin mengeras.
Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu, Kusudahi jilatanku pada perutnya. Kuangkat tubuhnya dan kududukkan diatas meja dapur. Kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Dan terpampanglah di depanku bukit kecil yang dicukur bersih. Bibir vagina yang memerah dengan sebuah daging kecil yang tersembul diatasnya. Kubungkukkan tubuhku dan kudekatkan wajahku ke selangkangannya. Dan aku mulai menjilati pahanya yang putih mulus, dihiasi bulu-bulu halus. Sambil tanganku meraba-raba vaginanya.
Beberapa menit berlalu, kupindahkan jilatanku dari pahanya ke vaginanya. Mula-mula kujilati bibir vaginanya, terus kebagian dalam vaginanya. Lidahku menari-nari didalam lubang vaginanya yang basah.
“Ohh.. terus.. Don.. terus.. Nik.. Matt,” serunya tertahan. Membuatku semakin bersemangat menjilati lubang vaginanya. Kusedot-sedot klitorisnya. Pantat Mbak Erna terangkat-angkat menerima jilatanku. Ditariknya kepalaku, dibenamkannya pada selangkangannya.
“Ohh.. Don.. Aku.. Tak.. Tahan.. Masukin Don.. Masukin penismu,” pintanya menghiba.
Kuturuti kemauannya. Aku kemudian berdiri. Kuangkat kedua kakinya tinggi-tinggi, hingga ujung jari kakinya berada diatas bahuku. Kudekatkan penisku keselangkangannya. Mbak Erna meraih penisku dan menuntunnya ke lubang vaginanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku masuk ke lubang vaginanya.
Aku diam sejenak mengatur posisi supaya lebih nyaman, lalu kudorong pantatku lebih keras, membuat seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Kurasakan penisku dijepit dan dipijit-pijit lubang vaginanya yang sempit. Vaginanya penuh sesak karena besarnya batang penisku.
“Aow.. Pelan-pelan.. Don.. penismu gede sekali,” pekiknya, ketika aku mulai memaju mundurkan pantatku, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.
Tak terasa sudah tiga puluh menit aku memaju mundurkan pantatku. Dan kurasakan vagina Mbak Erna berkedut-kedut. Dan otot-otot vaginanya menegang.
“Ohh.. Don.. Aku.. Keluarr.. Sayang,” teriaknya lantang. Sedetik kemudian kurasakan cairan hangat keluar dari vaginanya. Dan Mbak Erna mencapai orgasmenya. Mbak Erna tahu kalau aku belum mencapai puncak kenikmatan. Dia turun dari atas meja dapur. Kemudian berjongkok dihadapanku. Diraihnya penisku dan dikocok-kocok dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya meremas-remas buah pelirku.
“Akhh.. Mbak.. Enak.. Nikk.. Mat.. terus,” seruku, ketika Mbak Erna mulai menjilati batang penisku. Dari kepala hingga pangkal penisku dijilatinya. Mataku merem melek merasakan nikmatnya jilatan Mbak Erna. Aku semakin merasa nikmat ketika Mbak Erna memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Dan mulai mengulum batang penisku. Mbak Erna memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku keluar masuk dari mulutnya. Sementara tangannya mengocok-ngocok pangkal penisku.
“Oohh.. Mbak.. Akuu.. Tak.. Tahan,” teriakku.
Dan kurasakan penisku berkedut-kedut semakin lama semakin cepat. Kujambak rambutnya dan kubenamkan kepalanya diselangkanganku.
“Mbak.. Akuu.. Ke.. Luarr,” teriakku lagi lebih keras. Mbak Erna semakin cepat memaju mundurkan mulutnya. Dan crott! crott! crott! penisku memuntahkan sperma yang sangat banyak di mulutnya. Mbak Ernapun menelannya tanpa ragu-ragu. Dan tanpa rasa jijik sedikitpun dia menjilati sisa-sisa spermaku sampai bersih.
“Terimakasih Don, kamu telah memberiku kepuasan,” pujinya sambil tersenyum. “Sama-sama Mbak, aku juga sangat puas,” sahutku. “Mbak masih mau lagi kan,” tanyaku. “Mau dong, tapi kita mandi dulu yuk,” ajaknya.
Kemudian kami meraih pakaian masing-masing untuk selanjutnya bersama-sama pergi ke kamar mandi membersihkan badan. Sehabis mandi, masih sama-sama telanjang, kubopong tubuhnya menuju taman disamping rumah. Aku ingin melaksanakan impianku selama ini, yaitu bersetubuh ditempat terbuka.
“Don.. Jangan disini sayang, nanti dilihat orang,” protesnya. “Kan nggak ada siapa-siapa di rumah Mbak,” sahutku.
Mbak Ernapun tidak protes lagi, mendengar jawabanku. Sambil berdiri kupeluk erat tubuhnya. Kulumat bibirnya. Mbak Erna membalas lumatan bibirku dengan pagutan-pagutan hangat. Cukup lama kami bercumbu, kemudian aku duduk dikursi taman. Dan kusuruh Mbak Erna berjongkok dihadapanku. Mbak Erna tahu maksudku. Diraihnya batang penisku yang masih layu. Dielus-elusnya lembut kemudian dikocok-kocok dengan tangannya.
Setelah penisku mengeras Mbak Erna menyudahi kocokkannya, dia mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Lidahnya dijulurkan dan mulai menjilati kepala penisku. Lidahnya berputar-putar dikepala penisku, kemudian turun kepangkalnya.
“Oohh.. terus.. Mbak.. Nikmat banget,” desahku. “Isepp.. Mbak.. Isep,” pintaku. Mbak Erna menuruti kemauanku.
Dimasukkannya penisku kemulutnya. Hampir sepertiga batang penisku masuk ke mulutnya. Sambil tersenyum padaku, dia mulai memaju mundurkan mulutnya, membuat penisku maju keluar masuk dimulutnya.
“Mbak.. Aku.. Tak.. Tahan,” seruku. Mbak Erna kemudian naik ke pangkuanku. Vaginanya pas berada diatas selangkanganku. Diraihnya penisku dan dibimbingnya ke lubang vaginanya. Mbak Erna mulai menurunkan pantatnya, sedikit demi sedikit batang penisku masuk ke lubang vaginanya semakin lama semakin dalam. Hingga seluruh batang penisku masuk ke lubang vaginanya. Sesaat kemudian Mbak Erna mulai menaik turunkan pantatnya. Sesekali digoyang-goyangkan pantatnya kekiri-kekanan. Aku tak mau kalah, kusodok-sodokkan pantatku ke atas seirama dengan goyangan pantatnya.
“Ohh.. Don.. Aku.. Mauu.. Ke.. luarr,” teriaknya setelah hampir tiga puluh menit menggoyang tubuhku. Dan kurasakan otot-otot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram dadaku dengan keras. Sesaat kemudian kurasakan cairan hangat merembes dilubang vaginanya.
“Aku tak ingin mengecewakanmu Don,” katanya sambil tersenyum. Dia menarik penisku keluar dari lubang vaginanya, kemudian memasukkannya ke lubang anusnya. Mbak Erna rupanya tahu kesenanganku. Meski agak susah, akhirnya bisa juga seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Perlahan tapi pasti Mbak Erna mulai menaik turunkan pantatnya. Membuatku merasakan nikmat yang tiada taranya.
Cukup lama Mbak Erna menggoyang-goyangkan pantatnya, kemudian kami berganti posisi. Kusuruh dia menungging, membelakangiku dengan tangan bertumpu pada kursi taman. Kugenggam penisku dan kuarahkan tepat ke lubang anusnya. Kudorong sedikit demi sedikit, sampai seluruhnya amblas tertelan lubang anusnya. Lalu kudorong pantatku maju mundur. Kurasakan nikmatnya lubang anus Mbak Erna. Sambil kucucuk-cucuk lubang vaginanya dengan jari-jariku. Membuat nafsu birahi Mbak Erna bangkit lagi. Mbak Erna mengimbangi gerakkanku dengan mendorong-dorong pantatnya seirama gerakkan pantatku.
Aku semakin mempercepat gerakkan pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme. Demikian juga jari-jariku semakin cepat mencucuk vaginanya.
“Mbak.. Mbak.. Akuu.. Mau.. Keluar,” seruku. “Akuu.. Juga.. Don,” sahutnya.
Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, kami mencapai orgasme. Kutarik penisku dari lubang anusnya, dan kutumpahkan spermaku dipunggungnya. Mbak Erna kemudian membalikkan badannya dan berdiri, sambil memintaku duduk kursi taman. Didekatkannya selangkangannya kewajahku. Ditariknya rambutku dan dibenamkannya kepalaku keselangkangannya. Dan akupun mulai menjilati vaginanya sambil duduk. Kuhisap dan kusedot-sedot cairan hangat yang keluar dari lubang vaginanya. Mbak Erna sangat puas dengan perlakuanku.
Hari itu kami melakukan persetubuhan sampai puas, dengan berbagai macam gaya. Sungguh luar biasa Mbak Erna, meskipun tinggal dikampung. Tapi dalam soal bersetubuh dia tak kalah dengan orang kota. Memang sungguh nikmat istri Mas Iwan. Vagina dan lubang anusnya sama nikmatnya. Membuatku ketagihan menyetubuhinya.
Tak terasa sudah satu bulan aku berlibur dikampung Mas Iwan. Malam-malam yang kulewati bersama Mbak Erna dan Tante Sari membuat waktu satu bulan terasa cepat sekali. Sudah saatnya aku kembali kekotaku, karena tiga hari lagi aku harus ke sekolah.
Saat berangkat dari kampung Mas Iwan, aku tidak sendirian. Ada Vivi, anak kandung Tante Sari menemaniku. Gadis cantik berkulit putih dan bertubuh langsing ini, baru tamat SMP dan akan melanjutkan SMU di kota. Tante sari meminta tolong padaku agar mengantarkan Vivi, mencari rumah kost di dekat sekolah.
Dengan menempuh dua jam perjalanan, sampailah kami di kota. Dan setelah berpuar-putar cukup lama, akhirnya kudapatkan rumah kost untuk Vivi. Pemilik rumah adalah seorang janda cantik berusia sekitar 32 tahun, namanya Yeni. Setelah memberikan kunci kamar pada Vivi, Tante Yeni meninggalkan kami berdua.
Sehabis membantu Vivi mengangkat barang-barangnya ke dalam kamar, aku merasa haus. Kusuruh Vivi ke warung untuk membeli minuman. Sambil duduk menunggu kedatangan Vivi, iseng-iseng kunyalakan VCD. Ngawur aja kusetel salah satu film. Aku terkejut, ternyata isinya film porno.
Adegan-adegan difilm itu, membangkitkan nafsu birahiku. Kurasakan batang penisku mengeras dan berdiri tegak di balik celanaku. Kuturunkan celanaku, dan kukeluarkan batang penisku. Kuelus-elus dan kukocok-kocok batang penisku. Saking asiknya aku mengocok-ngocok batang penisku, sampai kedatangan Vivi tak kurasakan.
“Mas, Doni lagi ngapain,” suara Vivi mengejutkanku. “Akh, nggak ngapa-ngapain,” sahutku. “Itu apa?” tanyanya lagi sambil memandangi celanaku.
Astaga! Aku lupa menaikkan celanaku. Sehingga Vivi dengan jelas melihat penisku yang sedang berdiri tegak. Merasa sudah kepalang basah, kulanjutkan saja mengocok penisku.
“Kamu bisa membantuku Vi?,” tanyaku. “Bantu apa Mas?,” katanya balik bertanya. “Kocokkin penisku Vi,” pintaku.
Vivi menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kutarik tangannya dan kuletakkan diatas penisku. Vivi yang juga sudah terangsang akibat ikut nonton film porno, menggenggam batang penisku. Dengan lembut dia mengelus-elus dari kepala sampai kepangkal penisku. Aku merasa seperti melayang.
Aku melepaskan seluruh pakaianku sambil memeluk tubuh Vivi yang sedang mengocok penisku. Kutarik kaosnya dan kususupkan tanganku kebalik BHnya. Kuraba-raba buah dadanya. Perlahan-lahan buah dadanya mengeras. Cukup lama aku meraba-raba buah dadanya, kemudian kutarik Bhnya hingga terlepas. Setelah terlepas, terlihatlah buah dadanya yang padat dan mengeras. Aku melanjutkan lagi meremas-remas buah dadanya. Vivi mendesah-desah merasakan nikmat, tangannya semakin cepat mengocok penisku.
Sekitar lima belas menit berlalu kami berganti posisi. Sambil menarik rok mininya, kodorong tubuhnya hingga terlentang diranjang. Hanya celana dalamnya saja yang melekat menutupi selangkangannya. Kutindih tubuhnya dari atas lalu kukecup bibirnya, kujulurkan lidahku mengisi rongga mulutnya yang terbuka. Vivi menyambutnya dengan hisapan yang tak kalah hebatnya.
Setelah cukup lama berpagutan, kuputar tubuhku. Membentuk posisi 69. Selangkanganku berada diatas wajahnya, sedangkan selangkangannya berada dibawah wajahku. Kujulurkan lidahku menjilati bagian bawah perutnya, sambil tanganku melepas celana dalam Vivi. Vivi mengangkat pantatnya memudahkan aku melepaskan celana dalamnya dan meleparkannya ke lantai kamar. Lidahku bergerak turun menyapu bibir vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu tipis.
“Ohh.. Mas don.. Enakk,” desahnya ketika aku mulai menjilati vaginanya yang basah, membuatku semakin bersemangat menjilati vaginanya. Kucucuk-cucuk dan kusedot-sedot klitorisnya yang sebesar biji kacang.
Saat aku menjilati lubang vaginanya, Vivi juga sedang asyik menjilati penisku. Sambil tangan kirinya mengocok-ngocok pangkal penisku sedangkan tangan kanannya mengelus-elus buah pelirku dengan lembut. Sesaat kemudian Vivi memasukkan penisku ke mulutnya. Hampir seluruh batang penisku masuk ke mulutnya. Kudorong pantatku ke atas dan ke bawah, sehingga penisku keluar masuk dimulutnya.
Tak terasa sudah dua puluh menit berlalu. Aku bangkit dan berdiri dilantai kamar. Kutarik tubuhnya, hingga pantatnya berada ditepi ranjang. Kedua pahanya kubuka lebar-lebar. Kuarahkan penisku tepat ke lubang vaginanya.
“Ja.. Jangan.. Mas, aku masih perawan,” katanya.
Aku tak memperdulikan kata-katanya. Kudorong maju pantatku hingga kepala penisku menyeruak masuk. Vivi berteriak lebih keras ketika aku mendorong lebih keras dan penisku menembus selaput daranya. Akupun lebih bersemangat mendorong pantatku dan amblaslah seluruh batang penisku ke lubang vaginanya yang sangat sempit. Penisku serasa dijepit sempitnya lubang vaginanya. Beberapa detik kubiarkan penisku di dalam vaginanya.
Kupandangi wajahnya yang meringis menahan sakit. Dengan perlahan-lahan kuangkat pantatku lalu kuturunkan lagi. Membuat penisku keluar masuk dilubang vaginanya. Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Beginikah rasanya menyetubuhi seorang perawan.
“Ohh.. Mas.. Enakk,” desahnya yang mulai merasakan
Nikmatnya disetubuhi. Pantatnya digerakkan naik turun seirama gerakkan pantatku. Rasa sakitnya telah hilang berganti dengan rasa nikmat. Sekitar tiga puluh menit berlalu, kurasakan vaginanya berkedut-kedut dan otot-otot vaginanya menegang. Tangannya mencengkeram seprei dengan keras.
“Ohh.. Mas.. Akuu.. Mauu,” desahnya terputus. “Mau keluar sayang,” sahutku. Vivi mengangguk sambil tersenyum. “Aku juga Vi,” imbuhku. Semakin cepat kudorong-dorong pantatku. “A.. Akuu.. Ke.. Luarr,” teriaknya lantang.
Kurasakan cairan hangat merembes didinding vaginanya. Sedetik kemudian kurasakan penisku berkedut-kedut. Dan Crott! crott! crott! Kutumpahkan sperma yang sangat banyak dilubang vaginanya. Dan tubuhku ambruk menindih tubuhnya.
“Kamu menyesal Vi,” tanyaku sambil tersenyum puas, karena baru kali ini aku menyetuBHi seorang perawan. “Nggak Mas, semua sudah terjadi,” sahutnya. “Kamu mau lagi khan,” godaku. Vivi tersenyum padaku, senyum penuh arti.
Kira-kira satu jam kami tertidur. Akupun terbangun dan bergegas ke kamar mandi membersihkan badan. Mengingat kejadian tadi, bersetubuh dengan Vivi, membuat nafsu birahiku bangkit lagi. penisku yang tadi telah layu, kini tegang dan mengeras. Setelah mengelap tubuhku dengan handuk akupun bergegas ke kamar, dimana Vivi sedang tertidur pulas. Dan ia terbangun ketika aku lagi asyik menjilati lubang vaginanya.
“Oh.. Mas.. Apa yang kamu lakukan,” tanyanya. “Aku pingin setubuhi kamu lagi sayang,” sahutku sambil tersenyum.
Vivi membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga aku lebih leluasa menjilati vaginanya. Beberapa menit berlalu kusuruh dia menungging. Aku mengambil posisi dibelakangnya. Dari belakang, aku menjilati lubang anusnya, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya.
Setelah kurasa cukup, kuarahkan penisku ke lubang vaginanya. Dan aku mulai mendorong maju pantatku. Sedikit demi sedikit penisku masuk ke lubang vaginanya. Semakin lama semakin dalam penisku memasukinya, sampai seluruhnya amblas, tertelan lubang vaginanya. Akupun mendorong pantatku maju mundur, membuat penisku keluar masuk dari lubang vaginanya.
“Ohh.. Nikk.. Matt.. Mas.. Enakk,” jeritnya tertahan. Sekitar tiga puluh menit berlalu, kutarik penisku dari lubang vaginanya hingga terlepas. Kemudian kugenggam penisku dan kuarahkan ke lubang anusnya.
“Jangan, Mass sakitt, ja.. “jeritnya sambil meringis. Belum habis dia bicara, kudorong pantatku dengan keras. Dan Bless! Seluruh batang penisku masuk ke lubang anusnya. Kukocok lubang anusnya dengan irama pelan semakin lama semakin cepat, sambil tanganku mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Dan Vivipun merasakan sensasi yang luar biasa dikedua lubangnya. Jeritan-jeritannya berganti dengan desahan-desahan nikmat penuh nafsu.
Aku semakin bersemangat mendorong-dorong pantatku, ketika kurasakan akan mencapai orgasme. Sepuluh menit kemudian penisku menyemburkan sperma didalam anusnya. Dan tak lama berselang Vivi menyusul, tubuhnya mengejang hebat. Kemudian Vivi terkulai lemas dan tertidur.
Aku kemudian berdiri dan mengenakan celanaku. Saat aku akan mengambil handuk ke dalam almari, tanpa sengaja aku menoleh keluar jendela. Samar-samar aku melihat sesosok bayangan wanita yang sedang berdiri dibalik jendela kamar. Rupanya orang itu sedang mengitip aku dan Vivi yang sedang bersetubuh dari balik korden yang lupa aku tutup.
Saat aku keluar mencarinya, wanita itu bergegas pergi. Aku membuntuti wanita itu. Melihat potongan tubuhnya dari belakang aku yakin kalau wanita itu adalah Tante Yeni, ibu kostnya Vivi. Dan aku keyakinanku semakin kuat, saat wanita itu masuk kekamar tidur Tante Yeni dan langsung menutup pintu. Aku berjalan mendekat dan berdiri di depan pintu kamarnya.
Aku mengintip dari lubang kunci. Dan memang benar, wanita yang tadi mengintipku adalah Tante Yeni. Sampai didalam kamar Tante Yeni melepaskan seluruh pakaiannya. Aku terkesima melihat tubuh Tante Yeni yang putih mulus dan sexy, meski sudah berumur sebaya ibuku. Membuat jantungku berdetak kencang. Nafsu birahiku yang baru saja tersalurkan bersama Vivi, perlahan-lahan bangkit lagi.
Pemandangan selanjutnya lebih seru lagi. Tante Yeni merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan kedua kaki terbuka lebar-lebar, memperlihatkan indahnya bentuk vaginanya. Tante Yeni meremas-remas buah dadanya sendiri dengan tangan kirinya. Perlahan buah dadanya mulai mengeras. Sedangkan tangan kanannya meraba-raba selangkangannya. Desahan-desahan nikmat keluar dari bibirnya, membuatku semakin tak tahan. Batang kemaluanku sudah berdiri tegak.
Dengan sangat hati-hati, aku membuka pintu kamarnya. Dan ternyata tidak terkunci. Sambil melepaskan celanaku, aku berjalan mengendap-endap mendekatinya. Tante Yeni yang sedang asyik meraba-raba tubuhnya sendiri, tidak tahu kalau aku masuk ke kamarnya.
Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menindihnya. Tante Yeni sangat terkejut melihat kehadiranku. Aku segera menyumpal mulutnya yang sedang Terbuka saat dia hendak berteriak dengan mulutku. Dan aku langsung melumatnya. Tante Yeni yang sedang dirasuki nafsu birahi, membalas lumatanku dengan pagutan-pagutan yang tak kalah hebatnya.
Cukup lama aku melumat bibirnya, kemudian aku menjilati lehernya, terus turun ke buah dadanya yang sudah mengeras. Kedua buah dadanya aku jilati secara bergantian, membuat desahannya semakin keras. Aku menyudahi jilatanku pada kedua buah dadanya, kemudia aku berlutut ditepi ranjang, diantara kedua kakinya. Tanganku yang nakal mulai meraba-raba bibir vaginanya yang dicukur bersih.
Tanpa berfikir lama, aku menjulurkan lidahku, menjilati, menghisap dan sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vagina Tante Yeni dan lidahku menari-nari di dalam lubang vaginanya. Tante Yeni mengangkat-angkat pantatnya, menyambut jilatanku. Rintihan-rintihan kecil keluar dari mulutnya setiap kali lidahku menghujam lubang vaginanya. Disaat dia sedang menikmati jilatanku, aku memasukkan jari-jariku ke dalam lubang vaginanya. Sambil sesekali aku menjilati lubang anusnya. Tante Yeni sangat menikmati perlakuanku, dia menekan kepalaku dan membenamkannya diselangkangannya.
Sepuluh menit berlalu, aku menyudahi jilatanku. Aku kemudian berdiri, sambil menarik pinggulnya ketepi ranjang, kedua kakinya kubuka lebar-lebar. Tanpa membuang waktu lagi, batang kemaluanku yang sudah tegang dari tadi langsung kuhujamkan ke lubang vaginanya. Tante Yeni menjerit saat batang kemaluanku yang besar dan panjang menerobos masuk ke lubang vaginanya. Aku merasakan jepitan bibir vaginanya yang begitu seret. Aku mulai menggerakkan pantatku maju mundur. Tante Yeni sangat menikmati setiap gerakkan pantatku, dia menggeliat dan mendesah disetiap gerakan kemaluanku keluar masuk dari lubang vaginanya.
Aku semakin mempercepat memaju mundurkan pantatku saat Tante Yeni memperlihatkan tanda-tanda orang yang mau orgasme.
“Ohh.., Don.., akuu.., mau.., keluarr,” jeritnya cukup keras. Tante Yeni menggelinjang hebat, kedua pahanya menjepit pinggangku. Rintihan panjang keluar dari mulutnya saat klitorisnya memuntahkan cairan kenikmatan. Aku merasakan cairan hangat yang meleleh disepanjang batang kemaluanku. Aku membiarkan Tante Yeni beristirahat sambil menikmati orgasmenya. Setelah Tante Yeni berhasil menguasai dirinya, tanpa membuang waktu lagi aku membalikkan tubuhnya dalam posisi menungging.
Lalu aku menciumi pantatnya. Tante Yeni mengeliat menahan geli saat lidahku menelusuri vagina dan anusnya. Kemudian aku meludahi lubang anusnya beberapa kali. Setelah kurasakan daerah itu benar-benar licin, aku membimbing batang kemaluanku dengan tangan kiriku sementara tangan kananku membuka lubang anusnya. Tante tak bereaksi apa-apa dan membiarkan saja apa yang kulakukan. Perlahan kudorong pantatku. Tante Yeni merintih sambil menggigit bibirnya menahan rasa perih akibat tusukan kemaluanku pada lubang anusnya yang sempit. Setelah beberapa kali mendorong dan menarik akhirnya seluruh batang kemaluanku masuk ke lubang anusnya.
Sambil menikmati jepitan lubang anusnya, aku mendiamkan sebentar batang kemaluanku disana untuk beradaptasi. Tante Yeni menjerit saat aku mulai menghujamkan kemaluanku. Tubuhnya terhentak-hentak ketika sodokkanku bertambah kencang dan kasar. Sambil terus meningkatkan irama sodokkan, tanganku dengan kasar mencucuk-cucuk lubang vaginanya. Akibat menahan sensasi nikmat ditengah-tengah rasa ngilu dan perih pada kedua lubang bawah tubuhnya, Tante Yeni sampai menangis. Setiap kali aku menyodokkan kemaluanku ke lubang anusnya, dia mengaduh namun dia tak mau aku menyudahinya. Sampai akhirnya kurasakan suatu perasaan yang sangat nikmat mengaliri sekujur tubuhku.
Aku mengerang panjang, saat mengalami orgasme yang pertama. Tanganku mencengkeram keras pantatnya. Aku menumpahkan seluruh spermaku didalam lubang anusnya. Tubuhku menegang beberapa saat, kemudian terkulai lemas. Tak lama kemudian Tante Yeni menyusul, dia mengeram sambil tangannya mencengkeram bantal kuat-kuat. Cairan hangat dan kental meleleh dari lubang vaginanya.
Dengan nafas yang masih memburu dan tubuh yang masih lemas, Tante Yeni bangkit kemudian duduk ditepi ranjang. Dia meraih batang kemaluanku lalu memasukkan ke mulutnya. Tante Yeni menjilati sisa-sisa sperma yang masih blepotan dibatang kemaluanku sampai bersih tanpa tersisa setetespun. Tante Yeni tersenyum puas merasakan nikmat yang sudah cukup lama tidak dirasakannya, sejak dia bercerai dengan suaminya.

The post Cerita Sex Gejolak Nafsu Yang Terpendam appeared first on Kumpulan Cerita Sex Hari Ini.

Cerita Sex Dengan Seorang Wanita Yang Kesepian

$
0
0

Ketika itu usiaku 25 tahun dan aku bekerja di sebuah perusahaan asing yang beroperasi di luar Jakarta selama 24 jam sehari, sehingga ada bagian tertentu di kantor pusat yang bertugas dalam 3 shift untuk memonitor kegiatan operasi di lapangan dan aku adalah salah satu pegawainya. agen poker
Pada suatu hari ketika sedang tugas malam, aku menerima telepon nyasar sampai 3 kali dari seorang wanita. Akhirnya karena jengkel, timbul keinginanku untuk iseng-iseng menggodanya serta mengajak berkenalan yang ternyata ditanggapinya dengan antusias sampai tidak terasa kami mengobrol selama 1,5 jam di telepon.
Wanita itu memperkenalkan namanya sebagai Lisna (aku memanggilnya Mbak Lis), berusia 34 tahun dan telah bersuami serta mempunyai 3 orang anak. Suaminya seorang pejabat di sebuah instansi pemerintah berusia 48 tahun yang menikahi Mbak Lis ketika dia berusia 18 tahun dan baru lulus SLTA. Anak pertamanya perempuan berusia 15 tahun.
Sejak saat itu aku tidak pernah lagi merasa jenuh dan sepi bila sedang tugas malam karena Mbak Lis sering meneleponku walau hanya sekadar untuk mengobrol saja. Menurut pengakuannya, Mbak Lis merasa kesepian karena sering ditinggal suaminya bertugas ke luar kota dan dia mengetahui suaminya punya simpanan di luar.
Sebagai orang dewasa, pembicaraan kami juga sering menyerempet hal-hal yang agak miring. Kalau sudah begitu, biasanya nada bicara Mbak Lis berubah menjadi sedikit berbisik berat seperti orang bangun tidur sementara aku enjoy dengan kesendirianku di ruang kantor yang dingin ber-AC.
Tak terasa tiga bulan sudah kami bertelepon ria tanpa pernah bertemu muka dan selama itu selalu dia yang meneleponku ke kantor ataupun ke rumah karena aku tidak pernah diberi nomor teleponnya (katanya dia takut ketahuan suaminya).
Suatu siang Mbak Lis menelepon ke rumahku dan mengajakku nonton film, mulanya aku ragu karena merasa belum siap untuk bertemu. Aku berdalih bahwa badanku masih letih karena habis tugas malam, tetapi Mbak Lis tetap memaksa dan meminta bertemu sorenya supaya aku bisa istirahat dulu. Aku lalu menyanggupinya karena tidak mau mengecewakan dia.
Jam 14:30 sehabis mandi, Mbak Lis meneleponku lagi dan kami janjian untuk bertemu di sebuah bioskop dengan tidak lupa memberitahukan ciri masing-masing. Sesampainya di bioskop aku sempat dibuat kesal karena tidak kujumpai wanita dengan ciri-ciri seperti yang dikatakan Mbak Lis, wah jangan-jangan dia mau ngerjain aku nih.
Setelah hampir 1 jam menunggu, tiba-tiba aku merasakan sebuah tepukan ringan di punggungku. Dan ketika aku berbalik, tampak Mbak Lis sudah berdiri di belakangku dengan senyumnya yang membuatku terpana.
“Bayu ya?” sapanya sambil mengulurkan tangan.
“Ya, mm.. Mbak Lis..?” aku balas bertanya agak tergagap sambil menyambut tangannya. Ah, betapa halus dan lembutnya tangan itu.
“Maaf ya terlambat, soalnya macet sih..” katanya kemudian.
“Nggak apa-apa kok Mbak, saya juga belum terlalu lama menunggu”, jawabku berbohong sambil mataku tak lepas menatapnya. Rasa kesalku segera hilang setelah melihat Mbak Lis yang tampak anggun itu.
Sosok tubuh Mbak Lis sedang-sedang saja, tingginya 158 cm, berat sekitar 45 kg, kulitnya kuning halus dan rambut hitam bergelombang sebahu. Wajahnya ayu memancarkan kelembutan seorang ibu dan kalau berbicara ramah sekali dengan selalu diiringi senyum yang tak pernah lepas dari bibir mungilnya yang tipis.
Dia tampak begitu anggun (dan seksi) dengan setelan blus ketat sutra hijau muda berlengan pendek dan celana panjang katun hijau lumut yang menampakkan bulu-bulu halus di tangannya dan lekuk tubuhnya yang sintal. Aku rasanya seperti kehilangan kata-kata untuk berbicara, sampai akhirnya Mbak Lis yang memulai lagi.
“Kita makan dulu yuk, kamu pasti belum makan. Kebetulan di dekat sini ada restoran ayam bakar yang enak lho”, ajaknya sambil menggandeng tanganku.
Kami makan dengan santai sambil berbincang-bincang disertai gurauan yang kadang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Kulihat Mbak Lis sudah bisa berbicara lebih lepas sehingga suasana kakupun berangsur-angsur hilang.
Sehabis makan kami kembali ke gedung bioskop dan setelah membeli tiket kami menyempatkan waktu untuk melihat gambar-gambar film yang ada di lobby bioskop sambil tetap bergandengan tangan. Tapi kali ini Mbak Lis lebih merapatkan tubuhnya ke tubuhku dengan cara memeluk lenganku bahkan terkadang dia bersikap lebih berani dengan memeluk pinggangku, secara refleks aku pun membalas dengan merangkul bahunya atau memeluk pinggulnya.
Sentuhan bagian depan tubuh Mbak Lis membuat naluri kejantananku tergugah, apalagi ketika kulihat kancing paling atas blus yang dikenakannya sudah terbuka (aku tidak tahu kapan dia membukanya). Tampak belahan sepasang bukit yang mulus mengintip dari balik BH-nya membuat darahku berdesir dan tatapan mataku seakan tak mau lepas darinya.
Ketika pengumuman tanda dimulainya jam pertunjukan terdengar, kami pun memasuki gedung bioskop untuk mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor kursi yang tertera di tiket (sengaja aku memilih tempat duduk di deret paling belakang). Mbak Lis duduk di sebelah kananku sambil tangan kirinya menggenggam dan sesekali meremas tangan kananku.
Tak lama kemudian lampu bioskop dipadamkan dan film dimulai, kami nonton dalam keadaan diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kira-kira 10 menit berlalu, Mbak Lis menyandarkan kepalanya di bahuku dan tangan kanannya menarik tanganku ke wajahnya. Diusapkannya jari-jariku ke pipinya, ke telinganya lalu ke bibirnya sambil memberikan kecupan ringan di setiap jari-jariku.
Ketika aku sedang menatap wajahnya yang tertunduk menciumi jari-jariku, Mbak Lis menengadah dan balas menatapku. Mata kami saling menatap dalam jarak yang sangat dekat, kemudian kuberanikan tanganku mengangkat dagunya dan mencium bibirnya yang tipis. Mbak Lis diam saja, tidak menolak dan juga tidak membalas ciumanku, bibirnya masih terkatup rapat. Aku jadi penasaran dan semakin nekat, kukecup lagi bibirnya dengan sekali-kali mengulumnya.
Akhirnya Mbak Lis bereaksi juga, bibirnya terkuak sedikit dan dia membalas ciumanku, lama sekali kami berciuman sampai kemudian Mbak Lis menghentikannya sambil mendesahkan namaku serta meremas dan menarik kembali tanganku ke bibirnya. Tapi kali ini Mbak Lis tidak hanya menciumi jari-jariku, dia juga mulai memasukkan jariku ke dalam mulutnya dan mengulumnya dengan disertai jilatan-jilatan halus dan gigitan nakal.
“Mbak jadi gemas, Bay”, bisiknya.
“Mbak yang bikin gemas”, bisikku sambil mengecup daun telinganya. Mbak Lis menggelinjang kegelian, membuatku semakin bergairah menciumi daerah sensitif di sekitar telinga dan lehernya itu.
“Aaahh Bayu..” Mbak Lis mendesah lagi.
“Kamu bandel..”
“Tapi suka kan..?” kataku sambil merengkuh wajahnya dan mendaratkan ciuman di bibirnya.
Kali ini Mbak Lis membalas ciumanku dengan bergairah sambil memainkan lidahnya di dalam mulutku, sehingga lidah kami saling berpagutan. Tangan Mbak Lis mulai meremas dadaku. Aku pun tak mau kalah, kuusapkan tangan kiriku pada daerah-daerah sensitif di telinganya, lehernya dan terus turun sampai ke dadanya lalu menyusup ke dalam blusnya.
“Hmm..” terdengar Mbak Lis menggumam dalam kuluman bibirku.
“Ouuhh.. uuhh..” desahnya sambil tangannya mencengkeram leher bajuku ketika kuremas dadanya dan kuraba puting susunya dari balik BH.
“Masukin tangannya, sayang..” kata Mbak Lis sambil membuka satu lagi kancing blusnya.
Kusingkap BH-nya dan kurogoh dadanya yang kenyal, sementara tangan kanan Mbak Lis mulai merambat turun ke perutku dan turun terus sampai ke selangkanganku. Diremas-remasnya batang kemaluanku yang sudah tegang dari luar celana sambil mengerang dan mendesah sementara bibir kami terus berciuman dan mengulum lidah. Kupilin puting susu Mbak Lis dengan jari-jariku sambil meremas dadanya. Ooh.. ingin sekali rasanya aku menciumi dada itu serta menghisap dan menjilati putingnya. Tangan Mbak Lis pun makin bergairah mengusap dan meremas selangkanganku.
“Buka dong Bay..” desah Mbak Lis sambil berusaha untuk membuka zipper celanaku. Kulepaskan pelukanku untuk membantunya membuka kait ikat pinggangku, lalu dengan sigap Mbak Lis memasukkan tangannya ke dalam celanaku dan melanjutkan meremas batang kemaluanku yang masih tertutup celana dalam. Sesekali tangannya merogoh lebih dalam untuk meremas biji-biji kemaluanku. Uuhh.. nikmatnya.
Mbak Lis lalu menyandarkan kepalanya di dadaku, disingkapnya celana dalamku ke bawah sehingga batang kemaluanku kini terbebas dan mengacung seutuhnya seakan memperlihatkan kesiagaannya. Kurasakan kehangatan tangan Mbak Lis ketika mencengkeram batang kemaluanku, meremasnya dan mengusap-usapkan ibu jarinya pada kepala batang kemaluanku, membuatku mendesis menahan rasa geli yang mengalirkan nikmat di sekujur tubuhku.
“Hmm..” kudengar Mbak Lis beberapa kali menggumam sambil memperhatikan dan mengurut batang kemaluanku yang berkedut-kedut dalam genggamannya. Kurasakan kepala Mbak Lis yang pelan-pelan bergerak turun untuk menghampiri batang kemaluanku, rupanya Mbak Lis sudah tidak dapat menahan keinginannya untuk memenuhi ajakan batang kemaluanku yang tegak menantangnya. “Jangan Mbak..” bisikku sambil menahan gerakan turun kepala Mbak Lis karena kusadari situasi di dalam bioskop tidak memungkinkan kami untuk lebih dari sekedar melakukan pekerjaan tangan. Mbak Lis lalu menengadahkan wajahnya menatapku.
“Bayu.. please..” Mbak Lis mendesah meminta persetujuanku dengan tatapan mata sayu sambil tangannya terus mengurut kejantananku.
“Jangan Mbak.. dikocok saja..” balasku sambil menaikkan kaki ke sandaran kursi di depanku yang kebetulan kosong untuk memudahkan Mbak Lis meng-eksploitasi batang kemaluanku.
Kurengkuh wajah Mbak Lis dengan tangan kiriku dan kucium bibirnya yang merekah di hadapanku sementara tangan kananku memeluk bahunya. Kami berciuman lama sekali dengan saling memilin lidah di dalam mulut. Kurasakan tangan Mbak Lis semakin intens meremas dan mengocok batang kemaluanku, sementara mulutnya sesekali menggumam dalam pagutanku ketika dirasakannya tanganku mengelus daerah sensitif di belakang telinganya.
Tangan kiriku kini sibuk membuka kancing blus yang dikenakan Mbak Lis dan menyusup ke dalamnya, meremas dadanya yang kenyal serta mempermainkan puting susunya dengan jari-jariku. Mbak Lis merubah posisi duduknya dengan bersandar di dadaku dan memindahkan kendali atas batang kemaluanku ke tangan kirinya. Didekapkannya kedua tanganku di dadanya sehingga aku lebih leluasa meremas kedua dadanya yang kini telah terbuka karena BH-nya telah kusingkapkan ke atas serta memilin kedua puting susunya yang telah mengeras.
“Aaahh.. oouuhh..” Mbak Lis medesah dan kemudian kulihat tangan kanannya bergerak ke bawah menggosok-gosok selangkangannya dan tangan kirinya semakin keras mencengkeram batang kemaluanku sambil mengusap kepala kejantananku dengan ibu jarinya.
Kurasakan aliran darah di selangkanganku bertambah cepat dan deras, menimbulkan sensasi kenikmatan yang tak terbayangkan.
“Mbak nggak tahan, Bayu..” desahnya sambil menarik satu tanganku ke mulutnya dan kemudian menjilati dan mengulum jariku dengan penuh nafsu.
Akhirnya puncak sensasi itu datang juga ketika kurasakan kawah di selangkanganku menggelegar ingin memuntahkan laharnya. Kutarik tanganku dari dada Mbak Lis dan kucengkeram tangannya yang sedang mengocok batang kemaluanku. Serasa tak sabar, kubantu Mbak Lis mengocok batang kemaluanku lebih kencang. Dan akhirnya.. “Ooouuhh..” aku mendesah tertahan ketika kurasakan batang kemaluanku mengejang kemudian berkedut-kedut memuntahkan cairan kenikmatan yang menyemprot berkali-kali membasahi tangan kami.
“Ooouuhh.. enak sekali Mbak..” kataku sambil melepaskan nafas panjang ketika kurasakan puncak kenikmatanku mereda, batang kemaluanku telah berhenti memuntahkan cairannya dan tinggal menyisakan lelehannya yang kemudian diratakan oleh Mbak Lis dengan jari telunjuk ke seluruh permukaan kepala batang kemaluanku.
Tanpa mengucapkan kata-kata, Mbak Lis sejenak beralih dari pelukanku untuk mengambil tissue dari dalam tasnya. Kemudian sambil kembali bersandar di lenganku, dengan telaten disekanya batang kemaluanku mulai dari kepala sampai ke batang dan pangkalnya. Ah, sejuk sekali kurasakan usapannya. Lalu dilanjutkannya menyeka tanganku dan tangannya sendiri yang terkena semprotan spermaku dengan lembar tissue lainnya.
Mbak Lis lalu mengecup bibirku dengan mesra, tidak kurasakan birahi di kecupannya yang begitu lembut. Seakan telah terlupakan terpaan hawa nafsu yang baru kami alami bersama. Aku kagum padanya, begitu cepat Mbak Lis menetralisir emosinya. Kami lama terdiam sambil berpelukan setelah sama-sama merapikan pakaian yang acak-acakan.
Ketika film berakhir dan lampu bioskop telah dinyalakan, kami saling berpandangan seakan tidak percaya dengan apa yang baru dilakukan. Segera kami berdiri dan bersiap untuk meninggalkan gedung bioskop, sampai kemudian Mbak Lis menahanku dan memandang geli ke arahku.
“Kamu seperti ngompol..” katanya sambil tertawa kecil dan menunjuk celanaku. Dengan penasaran aku menunduk dan ketika menyadari apa yang ditunjuk oleh Mbak Lis, aku pun tersenyum kecut menahan geli dan malu. Ternyata semburan spermaku begitu kuat sehingga ada yang kesasar keluar dan meninggalkan noda basah di celanaku.
“Mbak sih.. sudah ah, nggak usah dibahas”, kataku sambil mencubit pinggang Mbak Lis dan mendorongnya perlahan keluar bioskop.
“Mbak antar kamu pulang ya?” kata Mbak Lis sesampainya kami di luar bioskop.
“Nggak usah Mbak, saya mau langsung ke kantor saja”, balasku.
“Kalau begitu Mbak antar kamu ke kantor boleh kan, please..” desak Mbak Lis. Aku tak dapat menolak dan hanya mengangguk, Mbak Lis lalu menyerahkan kunci mobil dan memintaku untuk mengemudikan mobilnya.
Di dalam mobil kami tidak banyak berbicara, seakan terlarut dalam perasaan masing-masing. Mbak Lis menyandarkan kepalanya di bahuku sambil memeluk dan mengelus-elus lenganku. Tak terasa kami telah memasuki halaman gedung kantorku. Sebelum aku meninggalkan mobil, Mbak Lis kembali mencium mesra bibirku.
“Maaf Bayu, jangan kapok ya?” kata Mbak Lis sambil mengelus pipiku.
“Apanya yang kapok?” balasku sambil mengedipkan mata dan perlahan-lahan keluar dari mobil.
“Kamu bandel..” kata Mbak Lis mencubit lenganku.
“Nanti malam Mbak temanin ya?” Mbak Lis menyambung sambil menarik bajuku dan kami pun kembali berciuman di jendela mobil.

The post Cerita Sex Dengan Seorang Wanita Yang Kesepian appeared first on Kumpulan Cerita Sex Hari Ini.

Cerita Sex Pengorbanan Seorang Ibu

$
0
0

Sebenarnya aku ingin kuliah di Yogya, karena kelihatannya kota tersebut sangat nyaman untuk kuliah, tetapi akhirnya aku kuliah di Semarang, tempat masa kecilku dulu, karena dalam UMPTN aku diterima di sebuah PTN di sana pada pilihan kedua.poker online
Sejak percintaanku dengan Mbak Yuni, aku menjadi terobsesi untuk bercinta dengan wanita yang usianya sama dengan Mbak Yuni, terutama ibu-ibu muda yang sudah mempunyai anak, daripada wanita yang seusia atau lebih muda dariku. Jika sedang berjalan-jalan di Mal, aku selalu mencari pemandangan ibu-ibu muda yang sedang berjalan-jalan bersama anak dan suaminya. Ingin rasanya aku bercinta dengan mereka. Tetapi hasratku itu hanya sebatas angan semata karena aku tidak mempunyai keberanian untuk malakukannya dan bagaimana caranya, hingga saat-saat yang kuimpikan akhirnya datang juga. Kejadian ini terjadi pada waktu aku di semester 4.
Suatu siang sehabis ujian semesteran hari terakhir, aku jalan-jalan sendiri di kawasan Simpang Lima, aku ingin memuaskan hobiku memelototi ibu-ibu muda. Setelah cukup puas aku putuskan untuk pulang. Ketika sedang berjalan di area parkir mobil, aku melihat seorang wanita yang sedang sewot dengan kedua anaknya (kelihatannya kembar). Kulihat barang belanjaan yang dibawanya jatuh berserakan.
“Adik kok bandel banget sih.. Tuh kan belanjaan mama pada jatuh” kata wanita itu dengan nada kesal.
Spontan saja aku ingin membantu memunguti barang-barang yang jatuh.
“Iya.. Adik nggak boleh nakal, kasihan kan mamanya, barangnya jadi jatuh” kataku sambil memunguti barang yang jatuh. Wanita itu agak terkejut dengan kehadiranku.
“Eh.. Makasih, tuh kan apa kata Om, adik nggak boleh nakal” kata wanita itu sambil ikut membungkuk mengambil barang.
Aku langsung refleks melihat ke arah wanita itu yang tepat berada di depanku dan aku mendapatkan pemandangan yang sangat indah. Belahan bajunya yang agak rendah membuat kedua buah dadanya terlihat jelas begitu indah. Sepasang buah dada yang putih mulus terlihat menggantung dan sedikit tergoncang-goncang. Aku leluasa memandangnya karena aku memakai topi. Sambil memunguti barang aku sesekali melirik ke arah pemandangan yang mengasyikkan itu yang membuatku terangsang.
“Ini Mbak” kataku sambil menyodorkan barang yang aku ambil.
“Terima kasih..” katanya sambil tersenyum.
Baru kusadari ternyata wanita ini sangat cantik. Wajahnya putih bersih, tubuhnya pun sexy menurutku. Lalu ia masuk ke dalam sedan Viosnya. Aku pun segera meninggalkan tempat itu menuju parkiran motor dan pulang ke kos. Sampai di kos, aku rebahkan badan di tempat tidur sambil membayangkan pemandangan indah yang baru saja aku lihat. Hal itu masih terbayang-bayang berhari-hari. Aku hanya bisa berkhayal bercinta dengannya sampai akhirnya aku lampiaskan dengan onani.
Karena sangat terobsesi untuk bercinta dengannya, aku berusaha untuk bertemu lagi dengannya. Berkali-kali aku datang ke tempat yang sama dengan harapan aku dapat bertemu dengannya, tetapi tidak pernah bertemu.
Suatu siang, kira-kira sebulan sejak aku bertemu dengannya, aku berjalan-jalan di Citraland Mal. Ketika aku sedang berjalan, aku berpapasan dengan seorang wanita, dan dalam hati aku kenal wanita itu. Aku balikkan badan, dan ia pun membalikkan badan. Aku ingat, wanita itu adalah wanita yang selama ini aku impikan siang dan malam.
“Hei.. Kamu yang waktu itu nolongin aku kan?”
“Iya Mbak” kataku dengan hati girang karena wanita itu juga masih ingat sama aku.
“Makasih lho sekali lagi”
“Ah nggak apa apa, saya kan cuma sekedar membantu” kataku sambil memperhatikan bahwa wanita ini memang TOP BGT. Ia memakai T-shirt agak ketat dipadu jeans membuat lekuk sexy tubuhnya terlihat.
“Cari apa, kok sendirian ” katanya.
“Ah enggak, lagi jalan-jalan aja” kataku.
“Bagaimana, kalo sebagai ucapan terima kasih, aku traktir kamu makan” katanya.
“Ah nggak usah Mbak” kataku basa-basi, padahal dalam hati aku memang ingin sekali berlama-lama dekat dengannya. Dia memaksa, akhirnya kami pun berjalan menuju KFC.
Alangkah bahagianya aku waktu itu. Kami pun berkenalan, namanya Mbak Elga yang berumur 30 tahunan. Ia tinggal di perumahan di kawasan Semarang Atas bersama sepasang anak lelaki kembarnya yang kini kelas 3 SD. Suaminya bekerja di Jakarta dan pulang ke Semarang seminggu sekali. Wah pasti kesepian wanita ini, kesempatan pikirku.
Ia tidak ikut ke Jakarta karena suaminya hanya sementara saja bertugas di Jakarta. Suaminya sebenarnya menempati Cabang Semarang, tetapi karena di Jakarta ada kekosongan dan perlu segera diisi, maka suaminya ditarik sementara ke Jakarta selama sekitar 7 bulan yaitu sampai akhir tahun 2004, dan baru berjalan 2 bulan. Karena itu ia tidak ikut karena anaknya telanjur bersekolah di Semarang. Ia dan suaminya berasal dari Jakarta. Ia siang itu akan menjemput anaknya dari sekolah. Setiap hari itulah pekerjaan rutinnya mengantar dan menjemput anak ke Sekolah.
Selama mengobrol, mataku tak pernah lepas memandang dadanya yang menyembul indah dari balik t-shirt ketatnya. Seperti biasa, aku memakai topi sehingga aku leluasa saja menikmati buah dadanya. Walaupun tertutup, aku bisa membayangkan betapa indah isi yang ada dibaliknya. Sepasang buah dada yang luar biasa indah, putih, mulus, ooh.. Ingin rasanya aku meremas, mengulum, menjilat dan memelintir puting susunya sehingga ia menggelinjang, mengerang dan mendesah kenikmatan. Di akhir obrolan ia memberikan alamat dan nomor HP-nya dan mengundangku untuk datang ke rumahnya.
Sejak pertemuan kedua dengan Mbak Elga, hasratku untuk dapat bercinta dengannya semakin menggebu. Siang malam aku memikirkan cara bagaimana agar ia mau bercinta denganku. Aku ragu karena aku lihat ia termasuk wanita yang baik dan sopan, tidak pernah dia memancing pembicaraan yang mengarah ke urusan ranjang. Mungkin ia hanya butuh teman ngobrol saja pikirku.
Karena keinginanku yang sangat besar, aku putuskan untuk pergi ke rumahnya seminggu kemudian. Aku berangkat dari kos dengan hati deg-degan. Dalam hatiku berkata, kalau tidak dicoba, bagaimana aku dapat yang aku inginkan. Targetku hari itu adalah PDKT dengan Mbak Elga. Hari itu Selasa sekitar pukul 09.00, karena ia pasti di rumah hanya sendirian.
Setelah sekitar 15 menit kemudian, aku sampai di gerbang perumahan yang cukup mewah. Aku dihentikan oleh Satpam. Setelah aku jelaskan bahwa aku akan bertamu ke rumah Mbak Elga, aku diijinkan masuk setelah meninggalkan KTP. Dalam hatiku berkata, pantas Mbak Elga berani tinggal sendiri, rupanya keamanan perumahan ini sangat ketat, hanya ada satu pintu masuk. Aku segera mencari rumah ke arah yang ditunjukkan Satpam. Tak lama kemudian aku tiba di depan rumah bernomor 19. Lalu aku pencet bel di pagar rumah, dan beberapa saat kemudian kulihat Mbak Elga keluar.
“Eh.. Kamu Ris..” kata Mbak Elga sambil membukakan pintu.
“Lagi ngapain Mbak. Ngganggu ya..? Kataku basa-basi.
“Ah enggak, biasa lagi sibuk sama urusan rumah tangga, namanya juga ibu rumah tangga.. Ayo masuk, motormu masukin juga”
Ia menggunakan T-shirt dan celana pendek sehingga sepasang kakinya yang indah terlihat. Rumahnya cukup besar walau hanya 1 lantai.
“Kamu santai aja di sini”
“Iya Mbak..”
“Kamu sengaja ke sini?”
“Enggak Mbak, tadi mau ke rumah teman tapi orangnya pergi, rumahnya deket sini ya daripada langsung pulang, aku mampir ke sini” kataku berbohong.
“Kamu di sini dulu yach? Aku mau nyelesein nyuci dulu, tinggal dikit lagi kok, kamu kalo mo minum ambil sendiri yach..?” Katanya sambil meninggalkanku menuju ke belakang.
Aku lalu nonton teve. Deg-degan juga nih dada. Dalam pikiranku cuma pengen ngentot tuh cewek, tapi gimana ya caranya? Kurang lebih 15 menit, Mbak Elga selesai, lalu ia duduk dan kami pun mengobrol ke sana kemari. Mataku sesekali melirik pahanya yang putih mulus seakan menantangku untuk menjamahnya. Penisku tegang, kepalaku pusing, kacau!
“Oh iya.. Mumpung ada kamu, bantuin aku menggeser meja itu ya” katanya sambil menunjuk meja yang berisi beragam hiasan kecil di atasnya.
“Digeser kemana Mbak?” tanyaku sambil melangkah menuju meja yang dimaksud.
“Agak kesini dikit Ris, biar tidak terlalu mepet dengan pintu”
Kami berdua lalu menggeser meja tersebut. Ketika sudah selesai dan aku berniat duduk lagi di sofa, kakiku tersandung kaki meja sehingga keseimbanganku hilang. Badanku langsung saja menubruk badan Mbak Elga dan menindihnya di atas sofa. Wajahku menempel di wajahnya, sesaat kami hanya berpandangan, desahan hangat nafasnya kurasakan menerpa wajahku.
Kutatap matanya, kulihat bibirnya merekah merah begitu indah sehingga membuatku tak tahan untuk tidak menikmati bibir indah tersebut. Aku nekad, kalau dia marah, paling-paling aku ditampar, dan itu pernah aku alami. Kukecup lembut bibirnya dan kurasakan ia menyambut kecupanku, tetapi itu hanya sesaat karena ia melepaskan bibirnya dan mendorong badanku. Akupun tersadar dan segera berdiri. Aku lalu berjalan ke arah jendela, aku menerawang keluar. Aku merasa bersalah, tetapi juga bahagia. Kulihat Mbak Elga masih termenung duduk di atas sofa. Kami berdua terdiam beberapa saat lamanya.
Setelah beberapa saat kami berdua terdiam, aku menghampiri Mbak Elga dan duduk di sampingnya.
“Mbak.. Aku minta maaf atas kejadian tadi ya..?” Kataku.
“Kenapa tadi kamu menciumku Ris..?” Kata Mbak Elga.
“Maaf Mbak, saya tadi nggak sadar, itu terjadi begitu saja” kataku mencoba menghindar.
Mbak Elga hanya terdiam mendengar jawabanku sambil memandangku.
“Ris..” Katanya terpotong. Aku hanya diam sambil menunggu kelanjutan katanya.
“Ris.. Apa kamu ingin melanjutkan yang tadi?” tanya Mbak Elga.
Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Tak tahu harus bilang apa, sejujurnya aku ingin menjawab bahwa aku memang sangat menginginkannya, tapi entah kenapa sepertinya kata-kata itu sulit keluar dari mulutku. Beberapa saat lamanya kami hanya berpandangan. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, kupandang tajam matanya dan kusimpulkan lewat bahasa matanya, bahwa dia juga menginginkanku seperti aku menginginkannya.
Tanpa menjawab pertanyaannya aku langsung melumat bibirnya kuat-kuat dan ia juga membalasnya dengan penuh nafsu dan terjadilah ciuman panas yang penuh dengan gairah. Tubuhnya kusandarkan di sofa. Beberapa saat lamanya kami saling melumat bibir dan beradu lidah, nafas kami mulai terengah-engah. Tanganku kuarahkan ke dadanya lalu kuremas buah dadanya dari balik T-shirtnya.
Badannya mulai menggelinjang terbakar gairah. Ia melepas ciumannya, lalu ia lepaskan T-shirt dan BH yang dikenakannya. Kulihat sepasang buah dada yang sangat indah berukuran sedang yang masih kencang, putih tetapi terlihat ada beberapa bekas cupang. Mungkin bekas cupang suaminya. Langsung aku serang buah dada itu. Dengan penuh nafsu aku jilati, kulumat, dan kuhisap kedua buah dadanya bergantian.
“Ooh.. Terus Ris.. Enak.. Sedot teruss..” kata Mbak Elga sambil menggelinjang kesana kemari.
Buah dada itu semakin keras dan kenyal sehingga membuatku semakin gemas untuk menikmatinya. Tanganku mengelus-elus pahanya yang mulus, lalu tanganku kuarahkan ke pangkal pahanya, kubuka resliting celananya, kutelusupkan tanganku ke arah memeknya yang ternyata telah basah, aku usap lembut memeknya di atas celana dalamnya.
“Ris.. Kita ke kamar aja yach..” kata Mbak Elga. Aku mengangguk kecil tanda setuju.
Aku lalu mengangkat tubuh Mbak Elga yang setengah telanjang menuju ke kamar yang ditunjukkannya. Kamar itu cukup luas dengan spring bed yang kelihatannya sangat nikmat untuk bercinta. Aku rebahkan tubuh wanita cantik ini di atas ranjang lalu aku copot celana yang masih menutupi sebagian tubuhnya dan kini ia telah benar-benar telanjang.
Aku terpana melihatnya. Bagiku Mbak Elga begitu sempurna sebagai seorang wanita. Badannya sexy, putih, mulus, sepasang buah dadanya juga indah, kakinya, pokoknya semuanya TOB deh. Apalagi posisinya sekarang yang sangat menantang. Tubuh mulusnya telentang tanpa ditutupi sehelai benang pun. Posisinya di ranjang agak mengangkang, memperlihatkan miliknya tanpa malu-malu. Buah dadanya yang indah dengan putingnya yang mengacung membuatku semakin tak kuasa untuk menahan nafsu. Kutelan ludahku yang terasa mengental.
“Aris.. Kok malah bengong, ayo sini..” Kata Mbak Elga dengan genit.
Aku tersadar dari lamunanku dan segera kupereteli pakaianku dan kini aku juga sudah telanjang. Kurasakan penisku sudah tegang dan berdenyut-denyut, terasa lebih keras dari biasanya. Segera aku naik ke atas ranjang, lalu aku berbaring di sebelah tubuhnya. Aku belai rambutnya, ia tersenyum manja. Kupandangi wajahnya, betapa cantik wanita ini, lalu aku kecup bibirnya. Mulutku mengecup dan mengulum bibir Mbak Elga yang hangat dan basah. Ia meladeni dengan segenap nafsu. Ia julurkan lidahnya, dengan segera aku kulum lidahnya, terasa nikmat sekali.
“Ohh.. Riss..” desahnya dengan mata yang sayu.
Kulihat bibir merahnya yang indah penuh dengan air liurku. Setelah puas melumat bibir merahnya aku ciumi lehernya lalu ke arah dadanya. Sesaat aku pandangi buah dada milik wanita cantik ini. Benda ini yang membuatku tak bisa melupakannya, dan kini tidak hanya bisa aku bayangkan, tetapi aku juga bisa menikmatinya. Kuremas dengan gemas kedua buah dadanya dengan kedua tanganku, terasa kenyal menggemaskan dan tidak membosankan untuk mempermainkannya. Ukurannya memang sedang, tetapi sangat indah bentuknya dan terlihat terawat.
“Oouuffss.. Ahh.. Auww..” erang Mbak Elga terus menerus.
Kini giliran mulutku yang akan melahap buah dada ini, aku kecup dan kusedot puting buah dada sebelah kanan dan kiri secara bergantian membuat Mbak Elga semakin terbakar gairahnya. Kuhisap kuat-kuat buah dadanya sambil sesekali kugigit puting susunya. Ia mendesah-desah erotis sambil meremas-remas rambutku, menikmati sensasi permainan mulutku di dadanya.
“Auww.. Oh my god.. Ohh.. Auww..”, Mbak Elga berteriak-teriak penuh kenikmatan, membuatku semakin bersemangat untuk terus menghisap dan mengulum buah dada wanita cantik ini.
Buah dadanya terus kukulum, kuhisap, kujilati, dan kupelintir berulang kali membuatnya semakin terbakar gairah. Sejenak aku lepaskan mulutku dari buah dadanya. Aku pandangi wajahnya yang terlihat sayu, wajahnya penuh dengan peluh, bibir merahnya bergetar.
Aku kembali melahap buah dadanya sambil mempermainkan memeknya. Jariku kumasukkan ke dalam lubang yang semakin licin karena cairan kewanitaannya yang mengalir deras. Itilnya kugesek-gesek hingga membuat tubuhnya menggelinjang tak karuan kesana kemari.
“Sayang.. Teruss.. Sedot terus Riss.. Aahh.. Auww.. Aahh..” erang Mbak Elga penuh rasa nikmat sambil sesekali menelan ludahnya yang mengental.
Kini kuarahkan kepalaku ke selangkangannya. Aku pandangi memek merah yang mengkilat karena basah oleh cairan kewanitaannya. Rumput hitam yang cukup tebal tampak tumbuh di sekitarnya, pemandangan yang sangat menakjubkan. Kudekatkan mulutku dan tercium aroma khas wanita yang membuatku semakin bernafsu. Aku mulai menjilati memek Mbak Elga, kujulurkan lidahku dalam-dalam sambil sesekali kusedot kuat-kuat. Setiap kali lidahku menggelitik clitorisnya, ia mengerang keras penuh nikmat. Pinggulnya bergerak tak karuan sehingga membuatku harus memegang pahanya agar aku tetap dapat menikmati memeknya. Cairannya semakin deras mengalir, membuatku mau tak mau menghisapnya, terasa hangat dan gurih.
“Oh my god.. Aahh.. Terus.. Enak Ris.. Aauuww.. Aaww..” Mbak Elga menjerit tak karuan, apalagi ketika lidahku menyentuh klitorisnya, ia menjerit keras sambil menggelinjang kuat.
Aku benar-benar puas melihatnya seperti ini. Sesekali aku lepasku mulutku dari jepitan selangkangannya untuk mengambil nafas sejenak, lalu aku lakukan lagi hal yang sama. Mbak Elga semakin keras mendesah, gerakan tubuhnya juga semakin tak terkendali. Dia akan segera mencapai puncak. Aku percepat sedotan, kecupan, jilatan mulut dan lidahku di memeknya.
“Ayo sayang.. Aku mo kel.. Luar nih.. Ahh.. Yang cepaat.. Oohh.. Sshh.. Oohh..” katanya sambil menjerit-jerit kenikmatan.
Aku percepat gerakan lidahku dan kemudian Mbak Elga orgasme, ia mengangkat pinggulnya, kedua pahanya mengapit kuat kepalaku, dan kurasakan cairan yang sangat banyak menyiram mulutku.
“Ohh.. Yess.. Oh my god.. Oohh.. Oohh..” Mbak Elga mendesah panjang ketika berhasil mencapai puncak kenikmatan.
Kuhisap cairan yang keluar. Badannya bergetar hebat beberapa saat. Kubiarkan sejenak mulutku tetap di selangkangan pahanya, membiarkan ia menikmati apa yang baru saja diraihnya. Kukecup lembut bibir vaginanya yang masih berdenyut-denyut mengeluarkan sisa-sisa cairan.
Aku lalu berbaring di sebelahnya sambil membelai rambutnya. Kulihat wajahnya penuh dengan keringat, telihat kepuasan terpancar dari wajah cantiknya. Kukecup lembut bibirnya.
“Thanks Ris.. Aku puas banget..” kata Mbak Elga.
“Mau lagi kan Mbak? Kataku menggoda.
“Iya, tapi aku juga pengen menikmati punya kamu dulu” katanya sambil menggenggam penisku.
Aku mengerti apa yang diinginkannya, lalu telentang dan ia mengarahkan mulutnya ke arah penisku. Tangannya menggenggam batang penisku lalu dikecupnya ujung penisku, ia mulai menjilati kepala dan batang penisku sambil dikocok-kocok dengan tangan lembutnya. Dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya dan kurasakan ia begitu pintar memainkan lidahnya menggelitik penisku.
Disapunya semua permukaan penisku mulai dari bawah hingga ke atas, permainan lidahnya dengan lincah menggelitik setiap mili bagian penisku. Serasa aku melayang ke awang-awang, aku hanya bisa mendesah meresapi betapa pintarnya Mbak Elga memberikan aku kepuasan. Kalau ini diteruskan bisa jebol pertahananku. Setelah beberapa lama Mbak Elga puas menikmati penisku, ia melepaskan mulutnya.
“Ris.. Puasin aku sekarang yach..” katanya sambil telentang di sampingku.
Aku segera mengarahkan penisku ke arah memeknya. Kini penisku telah sampai di mulut vaginanya, kepala penisku menempel di bibir memeknya yang merah basah. Aku mulai melesakkan penisku ke dalam memeknya dengan perlahan sambil kunikmati nikmatnya gesekan batang penisku dengan dinding vaginanya. Penisku tidak mengalami kesulitan membelah memeknya yang sudah sangat basah. Kulihat Mbak Elga juga menikmati hal ini, matanya terpejam meresapi sensasi gesekan alat kelamin kami sambil menggigit-gigit sendiri bibirnya.
Aku mulai menggerakkan pinggulku pelan-pelan. Kurasakan gesekan penisku dengan memeknya begitu nikmat, mungkin karena lama aku tidak merasakannya. Mbak Elga seperti biasa, ia mendesah-desah, matanya merem melek kenikmatan. Ia gerakkan pinggulnya mengimbangi permainanku.
Perkenalkan namaku Aris, aku adalah penulis cerita berjudul “Hadiah Kedewasaan dari Mbak Yuni 1 dan 2”. Kali ini aku akan menceritakan pengalaman sexku yang lain. Kejadian ini terjadi pada Bulan Agustus 2004 yang lalu.
*****
Sebenarnya aku ingin kuliah di Yogya, karena kelihatannya kota tersebut sangat nyaman untuk kuliah, tetapi akhirnya aku kuliah di Semarang, tempat masa kecilku dulu, karena dalam UMPTN aku diterima di sebuah PTN di sana pada pilihan kedua.
Sejak percintaanku dengan Mbak Yuni, aku menjadi terobsesi untuk bercinta dengan wanita yang usianya sama dengan Mbak Yuni, terutama ibu-ibu muda yang sudah mempunyai anak, daripada wanita yang seusia atau lebih muda dariku. Jika sedang berjalan-jalan di Mal, aku selalu mencari pemandangan ibu-ibu muda yang sedang berjalan-jalan bersama anak dan suaminya. Ingin rasanya aku bercinta dengan mereka. Tetapi hasratku itu hanya sebatas angan semata karena aku tidak mempunyai keberanian untuk malakukannya dan bagaimana caranya, hingga saat-saat yang kuimpikan akhirnya datang juga. Kejadian ini terjadi pada waktu aku di semester 4.
Suatu siang sehabis ujian semesteran hari terakhir, aku jalan-jalan sendiri di kawasan Simpang Lima, aku ingin memuaskan hobiku memelototi ibu-ibu muda. Setelah cukup puas aku putuskan untuk pulang. Ketika sedang berjalan di area parkir mobil, aku melihat seorang wanita yang sedang sewot dengan kedua anaknya (kelihatannya kembar). Kulihat barang belanjaan yang dibawanya jatuh berserakan.
“Adik kok bandel banget sih.. Tuh kan belanjaan mama pada jatuh” kata wanita itu dengan nada kesal.
Spontan saja aku ingin membantu memunguti barang-barang yang jatuh.
“Iya.. Adik nggak boleh nakal, kasihan kan mamanya, barangnya jadi jatuh” kataku sambil memunguti barang yang jatuh. Wanita itu agak terkejut dengan kehadiranku.
“Eh.. Makasih, tuh kan apa kata Om, adik nggak boleh nakal” kata wanita itu sambil ikut membungkuk mengambil barang.
Aku langsung refleks melihat ke arah wanita itu yang tepat berada di depanku dan aku mendapatkan pemandangan yang sangat indah. Belahan bajunya yang agak rendah membuat kedua buah dadanya terlihat jelas begitu indah. Sepasang buah dada yang putih mulus terlihat menggantung dan sedikit tergoncang-goncang. Aku leluasa memandangnya karena aku memakai topi. Sambil memunguti barang aku sesekali melirik ke arah pemandangan yang mengasyikkan itu yang membuatku terangsang.
“Ini Mbak” kataku sambil menyodorkan barang yang aku ambil.
“Terima kasih..” katanya sambil tersenyum.
Baru kusadari ternyata wanita ini sangat cantik. Wajahnya putih bersih, tubuhnya pun sexy menurutku. Lalu ia masuk ke dalam sedan Viosnya. Aku pun segera meninggalkan tempat itu menuju parkiran motor dan pulang ke kos. Sampai di kos, aku rebahkan badan di tempat tidur sambil membayangkan pemandangan indah yang baru saja aku lihat. Hal itu masih terbayang-bayang berhari-hari. Aku hanya bisa berkhayal bercinta dengannya sampai akhirnya aku lampiaskan dengan onani.
Karena sangat terobsesi untuk bercinta dengannya, aku berusaha untuk bertemu lagi dengannya. Berkali-kali aku datang ke tempat yang sama dengan harapan aku dapat bertemu dengannya, tetapi tidak pernah bertemu.
Suatu siang, kira-kira sebulan sejak aku bertemu dengannya, aku berjalan-jalan di Citraland Mal. Ketika aku sedang berjalan, aku berpapasan dengan seorang wanita, dan dalam hati aku kenal wanita itu. Aku balikkan badan, dan ia pun membalikkan badan. Aku ingat, wanita itu adalah wanita yang selama ini aku impikan siang dan malam.
“Hei.. Kamu yang waktu itu nolongin aku kan?”
“Iya Mbak” kataku dengan hati girang karena wanita itu juga masih ingat sama aku.
“Makasih lho sekali lagi”
“Ah nggak apa apa, saya kan cuma sekedar membantu” kataku sambil memperhatikan bahwa wanita ini memang TOP BGT. Ia memakai T-shirt agak ketat dipadu jeans membuat lekuk sexy tubuhnya terlihat.
“Cari apa, kok sendirian ” katanya.
“Ah enggak, lagi jalan-jalan aja” kataku.
“Bagaimana, kalo sebagai ucapan terima kasih, aku traktir kamu makan” katanya.
“Ah nggak usah Mbak” kataku basa-basi, padahal dalam hati aku memang ingin sekali berlama-lama dekat dengannya. Dia memaksa, akhirnya kami pun berjalan menuju KFC.
Alangkah bahagianya aku waktu itu. Kami pun berkenalan, namanya Mbak Elga yang berumur 30 tahunan. Ia tinggal di perumahan di kawasan Semarang Atas bersama sepasang anak lelaki kembarnya yang kini kelas 3 SD. Suaminya bekerja di Jakarta dan pulang ke Semarang seminggu sekali. Wah pasti kesepian wanita ini, kesempatan pikirku.
Ia tidak ikut ke Jakarta karena suaminya hanya sementara saja bertugas di Jakarta. Suaminya sebenarnya menempati Cabang Semarang, tetapi karena di Jakarta ada kekosongan dan perlu segera diisi, maka suaminya ditarik sementara ke Jakarta selama sekitar 7 bulan yaitu sampai akhir tahun 2004, dan baru berjalan 2 bulan. Karena itu ia tidak ikut karena anaknya telanjur bersekolah di Semarang. Ia dan suaminya berasal dari Jakarta. Ia siang itu akan menjemput anaknya dari sekolah. Setiap hari itulah pekerjaan rutinnya mengantar dan menjemput anak ke Sekolah.
Selama mengobrol, mataku tak pernah lepas memandang dadanya yang menyembul indah dari balik t-shirt ketatnya. Seperti biasa, aku memakai topi sehingga aku leluasa saja menikmati buah dadanya. Walaupun tertutup, aku bisa membayangkan betapa indah isi yang ada dibaliknya. Sepasang buah dada yang luar biasa indah, putih, mulus, ooh.. Ingin rasanya aku meremas, mengulum, menjilat dan memelintir puting susunya sehingga ia menggelinjang, mengerang dan mendesah kenikmatan. Di akhir obrolan ia memberikan alamat dan nomor HP-nya dan mengundangku untuk datang ke rumahnya.
Sejak pertemuan kedua dengan Mbak Elga, hasratku untuk dapat bercinta dengannya semakin menggebu. Siang malam aku memikirkan cara bagaimana agar ia mau bercinta denganku. Aku ragu karena aku lihat ia termasuk wanita yang baik dan sopan, tidak pernah dia memancing pembicaraan yang mengarah ke urusan ranjang. Mungkin ia hanya butuh teman ngobrol saja pikirku.
Karena keinginanku yang sangat besar, aku putuskan untuk pergi ke rumahnya seminggu kemudian. Aku berangkat dari kos dengan hati deg-degan. Dalam hatiku berkata, kalau tidak dicoba, bagaimana aku dapat yang aku inginkan. Targetku hari itu adalah PDKT dengan Mbak Elga. Hari itu Selasa sekitar pukul 09.00, karena ia pasti di rumah hanya sendirian.
Setelah sekitar 15 menit kemudian, aku sampai di gerbang perumahan yang cukup mewah. Aku dihentikan oleh Satpam. Setelah aku jelaskan bahwa aku akan bertamu ke rumah Mbak Elga, aku diijinkan masuk setelah meninggalkan KTP. Dalam hatiku berkata, pantas Mbak Elga berani tinggal sendiri, rupanya keamanan perumahan ini sangat ketat, hanya ada satu pintu masuk. Aku segera mencari rumah ke arah yang ditunjukkan Satpam. Tak lama kemudian aku tiba di depan rumah bernomor 19. Lalu aku pencet bel di pagar rumah, dan beberapa saat kemudian kulihat Mbak Elga keluar.
“Eh.. Kamu Ris..” kata Mbak Elga sambil membukakan pintu.
“Lagi ngapain Mbak. Ngganggu ya..? Kataku basa-basi.
“Ah enggak, biasa lagi sibuk sama urusan rumah tangga, namanya juga ibu rumah tangga.. Ayo masuk, motormu masukin juga”
Ia menggunakan T-shirt dan celana pendek sehingga sepasang kakinya yang indah terlihat. Rumahnya cukup besar walau hanya 1 lantai.
“Kamu santai aja di sini”
“Iya Mbak..”
“Kamu sengaja ke sini?”
“Enggak Mbak, tadi mau ke rumah teman tapi orangnya pergi, rumahnya deket sini ya daripada langsung pulang, aku mampir ke sini” kataku berbohong.
“Kamu di sini dulu yach? Aku mau nyelesein nyuci dulu, tinggal dikit lagi kok, kamu kalo mo minum ambil sendiri yach..?” Katanya sambil meninggalkanku menuju ke belakang.
Aku lalu nonton teve. Deg-degan juga nih dada. Dalam pikiranku cuma pengen ngentot tuh cewek, tapi gimana ya caranya? Kurang lebih 15 menit, Mbak Elga selesai, lalu ia duduk dan kami pun mengobrol ke sana kemari. Mataku sesekali melirik pahanya yang putih mulus seakan menantangku untuk menjamahnya. Penisku tegang, kepalaku pusing, kacau!
“Oh iya.. Mumpung ada kamu, bantuin aku menggeser meja itu ya” katanya sambil menunjuk meja yang berisi beragam hiasan kecil di atasnya.
“Digeser kemana Mbak?” tanyaku sambil melangkah menuju meja yang dimaksud.
“Agak kesini dikit Ris, biar tidak terlalu mepet dengan pintu”
Kami berdua lalu menggeser meja tersebut. Ketika sudah selesai dan aku berniat duduk lagi di sofa, kakiku tersandung kaki meja sehingga keseimbanganku hilang. Badanku langsung saja menubruk badan Mbak Elga dan menindihnya di atas sofa. Wajahku menempel di wajahnya, sesaat kami hanya berpandangan, desahan hangat nafasnya kurasakan menerpa wajahku.
Kutatap matanya, kulihat bibirnya merekah merah begitu indah sehingga membuatku tak tahan untuk tidak menikmati bibir indah tersebut. Aku nekad, kalau dia marah, paling-paling aku ditampar, dan itu pernah aku alami. Kukecup lembut bibirnya dan kurasakan ia menyambut kecupanku, tetapi itu hanya sesaat karena ia melepaskan bibirnya dan mendorong badanku. Akupun tersadar dan segera berdiri. Aku lalu berjalan ke arah jendela, aku menerawang keluar. Aku merasa bersalah, tetapi juga bahagia. Kulihat Mbak Elga masih termenung duduk di atas sofa. Kami berdua terdiam beberapa saat lamanya.
“Ouffss.. Lebbih cepat dong Ris.. Aahh..” desah Mbak Elga.
Tetapi aku tetap menggerakkan punggungku pelan-pelan, karena aku memang benar-benar ingin menikmati tiap detik bercinta dengan bidadari cantik ini.
“Oohh.. Please.. Yang cepat Riss.. Ahh.. Pleasee..” kata Mbak Elga terus merengek.
“Kenapa sih Mbak? Udah gatel banget ya..” godaku.
“Kamu nakal Ris.. Ohh.. Please..” desah Mbak Elga sambil mencubit pinggangku tetapi aku tidak mempedulikan permintaannya.
Tiba-tiba Mbak Elga membalikkan badan sehingga kini ia yang berada di atas. Lalu ia bangkit dan duduk di atas pahaku. Rupanya wanita cantik ini benar-benar sudah tidak tahan.
“Kamu nakal Ris..” katanya sambil mengarahkan memeknya ke arah penisku.
Digenggamnya penisku dengan tangannya, lalu dengan perlahan ia menurunku pinggulnya, dan tak lama kemudian penisku telah amblas ditelan bibir vaginanya. Dengan posisi agak membungkuk, tangannya berpegangan di atas dadaku untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Ini adalah posisi favoritku, seperti halnya ketika aku bercinta dengan Mbak Yuni. Dengan posisi ini aku bisa melihat dengan leluasa ekspresi seorang wanita yang sedang dikuasai birahi dan sedang meniti tangga nafsu menuju puncak kenikmatan.
Mbak Elga menggerakkan pinggulnya naik turun sampai sebatas leher penisku dengan tempo yang cepat. Karena terlalu cepat, kadang-kadang penisku lepas dari jepitan memeknya, sehingga ia terpaksa memasukkanya lagi. Mulutnya mendesis-desis sambil menggigit bibir bawahnya dengan giginya yang putih bersih. Matanya yang sayu sesekali melirik ke arahku. Wajahnya dipenuhi keringat. Sungguh sexy! Sepasang buah dadanya yang indah dengan puting coklat kemerahan yang mengacung ke depan tergoncang-goncang menggemaskan, membuatku tak tahan untuk tidak menjamahnya. Kuremas lembut kedua buah dada yang kenyal itu, sambil sesekali kupelintir puting susunya.
“Ohh.. Aagghh.. Sshh.. Aahh.. Enak nggak Ris..” jeritnya nikmat.
“Ohh.. Iya Mbak.. Teruss..” kataku yang juga dilanda rasa nikmat.
Setelah kurang lebih 5 menit, kurasakan ada gejolak dalam diriku yang mencari jalan keluar. Kulihat Mbak Elga pun semakin dikuasai nafsu birahi. Keringat semakin mengucur deras dari seluruh tubuhnya. Ia menghentikan gerakan pinggulnya sambil merebahkan badannya di atas badanku.
“Aku nggak kuat lagi Ris.. Beri aku sekarang ya.. Please..” katanya penuh harap.
Aku lalu membalikkan badannya sehingga kembali ia kutindih dibawah. Aku mulai memompa memeknya dengan cepat karena akupun juga ingin segera mencapai puncak kenikmatan. Terdengar bunyi berkecipak dari gesekan penis dan memeknya, terdengar indah, menggairahkan.
“Aahh.. Ssthh.. Aarghh.. Come on baby.. Yess.. Lebih cepat..” rintihnya sambil mempercepat gerakan pinggulnya mengimbangi gerakan pinggulku.
Setelah berjuang beberapa lama, akhirnya Mbak Elga mendapatkan yang diinginkannya. Puas rasanya melihat Mbak Elga orgasme sambil menggelepar-gelepar seperti ikan kehabisan air. Ia menghentak-hentakkan kakinya seperti ingin melepaskan sesuatu yang seakan teramat berat. Ia menjerit-jerit dan mengerang-ngerang keras melampiaskan kepuasan yang baru saja diraihnya. Ia gigit pundakku dengan gemas. Pinggulnya terangkat ke atas, tangannya mencengkeram pantatku yang ditekannya ke arah bawah.
“Oh my god, oh my god.. Oggh.. Yess.. Aaww, sshh.. Aahh..” Mbak Elga mengerang kenikmatan dan menjerit panjang.
Kurasakan cairan orgasmenya menyiram batang penisku yang terjepit di dalamnya. Kuhentikan sejenak gerakan pinggulku untuk memberikan kesempatan ia menikmati hasil perjuangannya. Beberapa detik lamanya ia dilandai puncak birahi, kurasakan jepitan memeknya kuat seakan-akan meremas-remas penisku. Kini kurasakan badai kenikmatan yang melandanya mulai reda, kucumbu bibirnya yang masih mendesis-desis merasakan sisa-sisa kenikmatan.
Aku yang juga segera ingin mendapatkan seperti apa yang baru diraih Mbak Elga, apalagi ditambah jepitan liang vaginanya membuatku tak kuat lagi untuk menahannya. Aku mulai menggerakkan pinggulku lagi dengan perlahan lalu kupercepat dan tak lama kemuadian akupun tak kuasa lagi untuk menahannya.
“Aku mau keluar Mbak.. Ahh.. Sstt..” desahku.
“Keluarin di dalam aja Ris.. Ayo sayangg..” Katanya sambil menggoyangkan pinggulnya.
Akhirnya air maniku keluar dengan deras menyembur ke dalam rahimnya. Crat.. Crat.. Kurasakan beberapa kali dan liang vagina itupun semakin banjir, terasa hangat. Kurasakan penisku tegang hebat, serasa memenuhi lubang memek Mbak Elga. Nikmat luar biasa serasa terbang di angkasa.
Aku terbaring lemas di atas tubuh Mbak Elga. Aku cumbu bibirnya sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami raih. Kubelai rambutnya sambil kuusap pipi halusnya yang penuh dengan keringat. Penisku terasa mengecil di dalam liang vaginanya. Kurasakan dua buah dadanya menekan lembut dadaku.
Beberapa saat kemudian aku turunku badanku dan tidur di samping badan wanita cantik ini. Mataku menerawang ke langit-langit kamar dan membayangkan kenikmatan yang seolah-olah aku tidak percaya bahwa ini benar-benar terjadi. Kulihat Mbak Elga juga menerawang, aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya.
“Thanks Mbak..” kataku sambil berusaha mengecup bibirnya. Tetapi ia menepis wajahku dengan tangannya sambil bangkit lalu duduk di tepi ranjang sambil menutupi tubuh indahnya dengan selimut. Ia menangis.
Aku tentu saja terkejut dan bertanya-tanya dalam hati, apakah dia menyesal dengan apa yang baru saja ia lakukan? Aku mendekat lalu duduk di sampingnya. Kututupi penisku yang terkulai lemah tak berdaya dengan bantal.
“Mbak Elga.. Ada apa? Mbak nyesel ya dengan apa yang kita lakukan?” tanyaku. Ia hanya menggelengkan kepala sambil masih menangis.
“Trus kenapa Mbak?”
“Aku nggak nyesel, aku tahu ini akan terjadi.. Sejak suamiku tugas di Jakarta, terus terang Ris.. Aku kesepian. Kalau hanya seminggu sekali kami berhubungan seks, itu kurang bagiku Ris.. Saat aku lagi pengen dan nggak ada pelampiasan, kepalaku pusing, aku jadi gampang uring-uringan, gampang marah. Aku kasihan sama si kembar. Aku jadi sering marah-marah sama mereka hanya karena hal-hal sepele” katanya berpanjang lebar sambil mengusap air matanya.
“Aku coba mencari pelampiasan dengan masturbasi, tapi itu nggak cukup, aku nggak puas. Muncul dalam benakku untuk mencari pelampiasan ke lelaki lain, tapi aku nggak tahu dengan siapa dan aku harus mencari kemana, aku nggak punya teman di sini. Pas aku ketemu dengan kamu dan makan di KFC, dalam hatiku aku ingin mengajakmu bercinta, karena aku tak tahu lagi dengan siapa aku akan melampiaskan nafsuku ini, tapi kata-kata itu terasa sulit keluar dari mulutku. Masih ada gejolak dalam batinku. Aku juga ragu, karena kulihat kamu orangnya sopan..” katanya lalu ia terdiam sejenak.
“Aku tahu ini akan terjadi.. Aku tak bisa menahannya lagi.. Sudahlah Ris, aku harus menjemput Si Kembar” katanya sambil berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi dengan telanjang badan, aku melihatnya dari belakang, bokongnya yang indah seakan menantangku. Horny lagi aku jadinya. Ingin rasanya aku mendekapnya dari belakang lalu membopong tubuh indahnya ke kamar mandi dan menyetubuhinya lagi, tetapi suasana tidak memungkinkan.
Aku memakai pakaianku yang berserakan di lantai lalu aku menunggu Mbak Elga sambil menonton teve. Mimpi apa aku semalam, kok dapat rejeki kayak gini, rencana cuma PDKT dulu sama Mbak Elga, malah dapet apa yang aku incar. Tak lama kemudian ia datang dan duduk di sampingku. Wajah cantiknya terlihat segar, badannya pun harum.
“Nih buat kamu” kata Mbak Elga sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan.
“Buat apa Mbak? Kataku.
“Ya buat yang tadi..”
“Nggak Mbak, aku nggak perlu itu”
“Ris.. Kamu harus mau menerima uang ini. Aku mau hubungan antara kita hanya sebatas nafsu saja. Aku nggak mau ada perasaan apa pun di antara kita. Bagiku cintaku tetap untuk keluarga. Aku melakukan ini, merendahkan diriku, semua ini demi anakku. Apapun dan bagaimanapun keluarga tetap nomor satu bagiku. Aku mau kamu melakukannya lagi sampai suamiku kembali ke Semarang nanti, setelah itu hubungan kita berhenti, kamu mengerti kan?” Katanya sambil menyelipkan uang tersebut ke saku bajuku.
“Iya Mbak, aku mengerti..” kataku.
Aku lalu pulang dan Mbak Elga pergi menjemput anaknya. Sejak saat itu hingga kini ia memintaku melayaninya paling tidak seminggu sekali, tetapi paling sering seminggu dua kali sampai suaminya kembali bertugas di Semarang yaitu pada awal Januari 2005. Ia cuma meminta satu syarat, jangan membuat cupang di tubuhnya, karena suaminya pasti akan curiga.
Agar tetangga tidak curiga dengan hubungan kami, aku bersembunyi di jok belakang mobilnya. Ia menjemputku sehabis ia mengantar anaknya ke sekolah dan membawaku keluar waktu ia mau menjemput anaknya. Kami janjian lewat SMS, tempat kami bertemu juga berpindah-pindah agar aman. Demi Mbak Elga aku bela-belain liburan semester tidak pulang. Aku bilang ke orang tua bahwa aku ikut semester pendek.

The post Cerita Sex Pengorbanan Seorang Ibu appeared first on Kumpulan Cerita Sex Hari Ini.

Cerita Sex Perselingkuhan Yayuk Seksi

$
0
0

Setahun setelah menikah, Heru mengajak istri dan Ibunya untuk berlebaran di kampungnya di Jawa. Mereka mengambil transportasi lewat laut yang lebih murah karena dititipi untuk membawa barang-barang berupa perabot meubel pesanan seorang atasan Heru di Jawa. Waktu itu belum ada kapal penumpang Pelni yang bagus sehingga terpaksa menumpang sebuah kapal barang.
Kebetulan saat menjelang Lebaran itu penumpang di semua angkutan memang penuh. Di kapal yang ditumpangi Yayuk pun semua kabin awak kapal sudah habis disewakan sehingga keluarga Yayuk tidak kebagian kamar lagi dan terpaksa menggelar tikar di salah satu geladak kapal, itu pun kebagian geladak sebelah luar yang ditutupi terpal.
Karena suasananya berangin dingin tidak menyenangkan, sesaat kapal bertolak, Yayuk yang berpembawaan berani tanpa memberitahu keluarganya diam-diam menghadap sendiri kepada Kapten kapal menanyakan kemungkinan ada kamar lagi untuk mereka. Oleh Kapten dia diminta menanyakan sendiri pada Enos, Perwira Satu yang mengatur masalah penumpang.agen poker
Pergi menemui Enos di kamar kerjanya Yayuk baru di jumpa pertama sudah sempat tertegun melihat ketampanan laki-laki yang simpatik ini, tapi di situ meskipun sudah merengek-rengek ternyata memang tidak ada kamar lagi. Dalam pada itu Enos yang juga sekali melihat sudah langsung tergiur dengan kecantikan dan kemulusan Yayuk, mencoba iseng menggoda karena dinilainya perempuan muda ini jinak dan mudah didekati. Waktu itu Yayuk sedang merayu untuk diperbolehkan dia dan Ibu mertuanya menggunakan kamar kerja Enos.
“Waduh gimana ya Yuk, nanti Mas nggak punya tempat kerja lagi.
Tapi.. hmm.. bisa juga sih, asal nanti Yayuk sendiri tidurnya di kamar sebelah situ, gimana, bisa kan?” kata Enos yang sebetulnya sudah kasihan akan memberi cuma saja disertai iseng-iseng merayu sambil menunjuk kamar tidurnya di sebelah.
“Lho itu kan kamar tidur Mas, lalu Mas sendiri tidurnya di mana?”
“Ya sama di situ juga.”
“Ihhik.. berdua di situ sih malah bukannya tidur Mas.. Lagipula Ibu Yayuk nanti mau di kemanain?” jawab Yayuk tertawa malu-malu genit.
“Kan bisa aja, mula-mula berdua Ibu di sini tapi kalau Ibu sudah tidur kamunya pindah ke kamar Mas,” kata Enos semakin berani berlanjut.
“Wihh.. itu sih nekat Mass.. nanti ketauan Ibu malah rame nggak karuan,” Yayuk tertawa geli sambil memukul canda pangkal lengan Enos yang mulai merapat kepadanya.
Keduanya ketika itu berbicara sambil berdiri berhadapan.
“Kalau cuma bikin supaya nggak ketauan sih gampang, yang penting maunya dulu, nanti diaturnya belakangan.”
“Ah Mas sih guyon aja, nanti udah gitu tapi tau-taunya harga sewanya dimahalin juga?”
“Ini bener-bener serius, pokoknya kalau mau malah bisa Mas kasih gratis,” kejar lagi Enos tapi sudah mulai menarik Yayuk merapat padanya.
Enos 30 tahun, laki-laki playboy peranakan Menado-Jawa ini memang pintar memanfaatkan ketampanannya untuk menaklukkan wanita. Yakin bahwa Yayuk bisa ditaklukkan, dia makin berani apalagi dilihatnya ada kesempatan terbuka. Begitu rapat dia pun mulai merangkul pundak Yayuk.
“Tapii.. gimana caranya Mass..” terdengar nada Yayuk bimbang tergiur tawaran Enos.
“Pokoknya tenang aja.. Bilang mau dulu nanti Mas yang jamin pasti aman..”
Kali ini bujukan Enos sudah diikuti aksinya. Yayuk yang masih menunduk malu-malu diangkat dagunya untuk diajak bertatap mesra. Dan ketika Yayuk masih terdiam ragu, Enos sudah menunduk dan memberinya satu ciuman dalam menempel di bibirnya. Yayuk sempat gelagapan, tapi ajakan berciuman laki-laki berwajah tampan simpatik ini cepat saja memukaunya dan melambungkannya dalam asyik.
Sehingga dia jadi terikut membalas melumat, saling bergelut lidah bertukar ludah. Yang begini jelas tambah memperlemah Yayuk karena tiba-tiba tubuhnya terasa melayang dipondong Enos dibawa berpindah ke kamar tidur sebelah. Tentu saja Yayuk kaget, meronta-ronta untuk lepas tapi bibirnya disumbat ketat oleh bibir Enos dan baru dilepas ketika tubuhnya sudah dibaringkan di atas tempat tidur.
“Aduhh nggak Mas, aku nggak mau..! ja.. jangan Mass, jangan sekarang..!” panik dia ingin ke luar dari kepungan Enos tapi cepat dibujuk Enos.
Yayuk memang sudah mulai terbujuk Enos tapi suasananya dianggap tidak cocok saat itu.
“Sstt, sst tenang aja.. Mas juga nggak ngajakin sekarang kok..?”
“Tapi ngapain aku dibawa ke sini!?”
“Mas cuma mau buktiin lewat ciuman tapi kuatir di sebelah situ ada yang mergokin kita, kalau di sini kan aman. Tenang aja, percaya sama Mas deh.”
Yayuk terbujuk lagi dan agak tenang, dia pun segera menerima lagi ciuman dan lumatan Enos. Kembali dia melambung dalam asyiknya berciuman, di sini Enos semakin menjadi-jadi. Tangan pelaut senior ini cepat saja menyusup lewat bawah rok Yayuk, mendarat di selangkangannya langsung meremasi bukit kemaluannya.
Lagi-lagi Yayuk kaget ingin lepas tapi posisinya sudah dibuat terkunci lebih dulu oleh Enos yang sewaktu mengawali ciuman sudah naik berbaring di sebelahnya. Di atas mulutnya disumbat ciuman, masing-masing tangan yang sebelah ditindih dan sebelah lagi dicekal tangan Enos yang melingkari bawah lehernya, sementara sebelah kaki Enos pahanya menyusup di tengah selangkangan menjaga paha Yayuk tidak bisa merapat.
Semakin keras Yayuk berusaha, semakin ketat tekanan Enos dan semakin gencar terasa rangsangan Enos di kemaluannya. Bukan sekedar meremasi dari luar lagi tapi Enos sudah menyusupkan tangannya langsung bermain di bibir kemaluannya. Di situ jari-jarinya sudah meraba-raba celah lubangnya mulai mengiliki kelentitnya. Masih terakhir Yayuk berkutetan sebentar tapi kemudian kalah juga, malah mengikuti rangsangan jari Enos yang mulai meningkatkan birahinya terangkat naik.
Apalagi ketika satu jari Enos ditelusupkan ke dalam lubang dan mulai mengorek-ngorek di dalam situ, Yayuk dari semula ingin berontak lepas, sekarang malah pasrah kepada Enos. Ini dibuktikan ketika Enos mengendorkan cekalan tangannya, Yayuk ternyata tidak ribut ingin lepas malah terdiam hanyut dengan mata terpejam menikmati asyik ciuman bergelut lidah sambil lubang kemaluannya dilocoki jari Enos.
Ini di luar dugaan Enos mendapati Yayuk yang kebetulan cepat sekali terangsang berahinya. Memang sadar sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercinta tapi untuk langsung berhenti Enos tidak tega sebab dilihatnya Yayuk sudah terlalu hanyut jauh mendekati orgasmenya. “Hhghh ssh..” betul juga, mengerang pelan terdengar suara Yayuk meskipun tidak kentara tapi Enos tahu bahwa Yayuk sedang berorgasme saat itu.
Sebentar digencarnya rangsangan membantu Yayuk sampai terasa mengendor barulah Enos berhenti. “Tuu kaan, percaya kalau Mas nggak mau jahat sama Yayuk. Ini cuma sekedar supaya lebih kenal deket, soalnya cewek cantik kayak Yayuk gini bikin Mas langsung gemes pengen cium sambil diremes-remes. Ayo, rapiin dulu bajunya habis itu bisa ajak Ibunya ke sini,” kata Enos dalam gaya merayu lembut simpatik untuk tetap mengambil hati Yayuk.
Caranya seperti sudah yakin bahwa Yayuk pasti akan menyetujui tawarannya tapi memang Yayuk juga seperti tersihir dengan undangan itu. Dia hanya sempat ragu-ragu waktu berjalan menemui keluarganya, cuma saja di situ dia justru mengikuti apa yang ditawarkan Enos untuk mengajak Ibu mertuanya menginap di kamar kerja Enos. Tentu saja Ibu senang dengan kebaikkan Enos, padahal Yayuk sendiri setelah itu berdebaran jantungnya menunggu pengalaman baru yang akan dialaminya malam nanti.
Kapal keluar mengarungi lautan, siang itu sudah langsung diterpa ombak membuat para penumpang mulai pening. Lewat makan malam sebagian besar sudah menggeletak lunglai termasuk Ibu dan Yayuk. Melihat itu Enos memberi pil anti mabuk pada Ibu, tapi ketika Yayuk juga minta, dia membisiki bahwa itu sebenarnya obat tidur dan Yayuk dicegah untuk ikut meminumnya.
Betul juga menjelang tengah malam ibunya sudah terkulai pulas di sebelahnya dan ketika itu Enos yang sedari tadi kalau ke luar masuk lewat pintu tersendiri dari kamar tidurnya, kali ini pura-pura masuk dari pintu kamar kerja. Meyakinkan dulu bahwa Ibu benar-benar sudah pulas, dia menarik lengan Yayuk mengajaknya ke kamar sebelah. Yayuk yang sudah terkesan dengan kejadian siang tadi sudah tidak ragu-ragu untuk bergerak bangun mengikuti ajakan Enos ke kamar tidurnya. Baru saja masuk sudah langsung diangkat Enos dibaringkan di tempat tidur.
“Tapi Mass.. aku masih takut kalau ketauan..” bisik Yayuk menguatirkan perasaannya.
“Nggak usah kuatir.. Ibumu nggak akan bangun sampai besok pagi. Sini Mas yang bantu bukain bajunya ya..?” hibur Enos sambil menawarkan bantuannya tapi diambil alih sendiri oleh Yayuk.
Enos menutup sebentar gordyn tempat tidur yang umumnya terpasang khusus pada tempat tidur kapal, dia sendiri katanya akan ke kamar mandi dulu. Suasana ruangan remang-remang dengan hanya lampu meja menyala, di tempat tidur lebih gelap lagi terhalang oleh gordyn. Tidak lama Enos kembali hanya mengenakan sarung saja ketika naik menyusul Yayuk yang rupanya betul-betul patuh sudah bertelanjang polos menuruti permintaan Enos.
Meskipun samar-samar tapi cukup jelas terpandang tubuh padat Yayuk, sudah langsung melonjakkan gairah nafsu Enos namun begitu dia tetap menjaga kelembutannya agar tidak berkesan kasar pada perkenalan pertama ini. Dipikir-pikir nekat juga Yayuk sudah langsung pasrah dengan laki-laki yang baru pertama dikenalnya ini, tapi ketampanan yang memikat serta kepintaran Enos merayu betul-betul sudah menaklukan hati Yayuk.
Siang tadi keasyikan yang dialaminya sudah begitu membuatnya terkesan, sekarang berulang lagi ketika kedua bibir mulai bertemu kembali membuatnya cepat jatuh dalam birahi karena dia memang sengaja menuju ke situ. Sambil bibir bertemu kecup mesra, diterimanya rangsangan tangan Enos yang menggerayang meraba dan meremasi tubuh kewanitaannya. Beda dengan tadi, Enos tidak lagi perlu keras terburu nafsu sebab Yayuk didapatinya sudah lebih dulu pasrah, lembut saja tapi cukup mengipasi bara birahi Yayuk terbakar menyala.
“Kita bikinnya pelan-pelan aja ya? Jaga suara supaya nggak didenger Ibumu..” begitu pesan Enos yang sekaligus membuktikan pada Yayuk bahwa sebenarnya laki-laki ini kalem dan bukan type kasar.
Ini makin menenangkan Yayuk dan dalam tempo sekejap dia sudah terlupa pada suaminya yang sedang meringkuk kedinginan dan pening, tidur beralaskan tikar di lantai besi di geladak yang berangin kencang, sebab dia sendiri di atas kasur empuk sedang dipeluk hangat seorang lelaki tampan yang membuainya dengan kecupan mesra diiringi asyik susunya diremas-remas, dipilin-pilin geli puting susunya.
Meningkat asyik lagi ketika mulut Enos selepas ciuman merambat dengan kecupan seputar leher, menurun hingga tiba di bukit susunya, di situ berganti-ganti kedua puncak bukitnya dikerjai kecapan mulut. Yayuk mulai menggelinjang meresapi geli-geli enak pentilnya dijilat-jilat dan dihisap-hisap mulut Enos yang terlatih. Tapi yang lebih membuatnya buntu kesadaran adalah ketika Enos melengkapi rangsangan dengan merambatkan sebelah tangannya ke arah selangkangan dan mengulang permainan siang tadi.
Membuka lebih lebar jepitan paha Yayuk, begitu terkuak segera tangannya menyusup dan mengawali dengan remasan-remasan di bukit kemaluannya sebelum disusul dengan jari-jarinya mengukiri celah lembabnya. Di sini saja sudah membuat Yayuk mengejang-ngejang dengan rahang terasa kaku. Apalagi sewaktu satu jari tengah Enos disogokkan menggeseki mulut lubang kemaluannya “Serr.. serr.. serr..” cairan pelicinnya mulai terpompa ke luar.
Tapi serasa sudah banjir, Enos kelihatan masih asyik berlambat-lambat. Padahal kalau tidak teringat pesan tadi, ingin rasanya Yayuk merengek dan menggeliat-geliat binal disengat geli seperti ini. Rupanya Enos menunggu sampai betul-betul matang, barulah dia masuk ke babak utama. Berhenti sebentar untuk membuka sarungnya membebaskan batang kemaluannya, segera dia pun berpindah mengambil posisi di tengah selangkangan Yayuk. Dibubuhinya ludah dulu diujung kepala penisnya sebelum mulai dicucukkan ke lubang kemaluan Yayuk.
“Hhngghahh..” Yayuk tersedak tenggorokannya ketika mulai menerima desakan pertama ujung batang kemaluan Enos. Maklum masih asing dengan batang baru ini meskipun diingini juga untuk melepaskan tuntutan kepuasannya. Tapi kalau nada di atas kedengaran seperti kaget belum terbiasa, sambutan di bawah justru luar biasa. Baru di pembukaan pertama Enos sudah langsung mendapatkan kehangatan Yayuk.
Karena diburu oleh tuntutan laparnya, kemaluan perempuan ini bergerak seperti refleks, menjepit dan menarik batang kemaluan Enos langsung dibawa tenggelam masuk. Kontan Enos kedodoran menurunkan tubuhnya seolah-olah ikut ditarik oleh sedotan lubang kemaluan itu. Tentu saja Enos senang bukan main mendapat partner bercinta yang mengasyikkan seperti ini.
Dalam pada itu Enos dari sebelumnya sudah mempersiapkan diri, batang kemaluannya yang kebetulan punya ukuran agak lebih besar dari milik suaminya Yayuk itu sengaja diolesi obat agar tegang lebih lama. Waktu baru masuk agak meringis juga Yayuk, tapi sesudah mulai bisa menyesuaikan diri dan Enos juga membantu dengan membakar lewat kecupan-kecupan mesra di seputar wajahnya. Yayuk mulai melanjutkan lagi memainkan otot-otot lubang kemaluannya.
Diputar sebentar saja dia sudah menikmati asyik yang menggaruki liang kemaluannya. Makin dikocok makin menjadi-jadi rasa itu memaksa orgasmenya mulai mendekat untuk terlepas ke luar. Apalagi berikutnya Enos menyusuli dengan juga memainkan pantatnya naik turun menggesek-gesek batang kemaluannya, Yayuk makin cepat dibawa ke puncak permainan tanpa dapat terbendung lagi. Akhirnya memeluk mencengkerami punggung Enos diapun menyentak-nyentak sewaktu mulai berorgasme.
“Hhoghh.. sshhgh..” hanya suara tenggorokannya yang tersenggak mengiringi saat kepuasannya itu, berusaha disembunyikan dengan cara menggigiti pundak Enos. Enos jelas tahu keadaan Yayuk tapi dia tidak mau berhenti untuk memberi kesempatan Yayuk menarik nafas. Sebab liang kemaluan yang diputar-putar menjepit menarik-narik dan menganduk-nganduk itu sudah membuatnya terasa begitu enak, sementara dia sendiri belum kebagian terpuaskan.
Repotnya buat Yayuk ialah lawan mainnya ini cukup tangguh dan berpengalaman, manalagi Enos memakai obat penunda rasa sehingga bisa berlama-lama menikmati keasyikkan permainan sementara Yayuk malah keteteran dibuatnya. Sudah banjir keringat keduanya namun permainan masih seru dan hangat sekali.
Padahal biasanya perempuan kalau terlalu lama disetubuhi sudah melemah dan menurun gairahnya, tapi batang kemaluan Enos yang keras kaku seperti ampuh untuk merangsang terus di jepitan liang kemaluana Yayuk memaksa orgasmenya keluar sambung menyambung. Sehingga ketika Enos akhirnya sampai juga pada ejakulasinya untuk pertama kali, Yayuk sendiri sudah untuk yang ke tiga kalinya.
Begitu lepas Yayuk langsung terkulai lemas dengan tulang-tulang serasa dicopoti. Betul-betul lelah sekali tapi tidak urung satu hal sudah tertanam di hatinya yaitu kesan indah memuaskan sekali dari hasil permainan bersama Enos yang dinilainya begitu jantan dan batang kemaluannya pun luar biasa enaknya. Maklum, Yayuk selama ini hanya terpuaskan lewat milik suaminya saja. Dengan sendirinya begitu dapat dari Enos terasa lebih dari cukup untuk memuaskan kemaluan lapar milik Yayuk.
Kelanjutan malam itu meskipun Enos masih belum puas mengerjai Yayuk, tapi dia tidak memaksa ketika Yayuk karena perasaan takutnya berkeras untuk kembali tidur bersama Ibu mertuanya. Tapi cara Enos yang pintar mengambil hati begini justru menarik simpati Yayuk untuk mengulang lagi di malam berikutnya dengan senang hati.
Begitulah selama perjalanan empat hari empat malam dari, kalau penumpang lainnya mabuk pening oleh goyang ombak lautan, Yayuk sendiri justru mabuk enak oleh goyang senggama bersama Enos. Meskipun perjumpaan singkat namun Yayuk sudah terpincuk ketagihan dengan Enos. Terbukti di saat-saat terakhir sekalipun di suasana yang boleh dibilang nekat tapi Yayuk toh mau juga menutup keisengannya bersama lelaki tampan itu.
Masih beberapa jam menjelang tiba, semua penumpang sudah sibuk mengemasi barang-barangnya. Waktu itu di kamar kerja Enos, suami dan Ibu mertua Yayuk juga sibuk mengemasi perlengkapan mereka sementara Yayuk sendiri sedang ke luar mandi. Yayuk selesai mandi dan berjalan kembali ke kamar kerja Enos, rupanya sudah ditunggu Enos di balik pintu kamar tidurnya.
Begitu akan melintas di situ tiba-tiba pintu terbuka dan Enos langsung menangkap lengan Yayuk menariknya masuk ke kamar tidur itu. Karuan saja Yayuk kaget dan memberi isyarat bahwa keluarganya sedang berkumpul di sebelah. Tapi Enos berkeras sehingga meskipun serba salah terpaksa dituruti juga oleh Yayuk, apalagi di tikungan gang terdengar langkah kaki orang, Yayuk takut kalau terlihat bahwa dia sedang bertarik-tarikan dengan Enos di depan pintu.
Cepat dia meloncat masuk dan secepat itu juga buru-buru melewati celah pintu penghubung kamar sebelah yang terkuak. Pintu itu memang cuma bisa ditutup setengah dikaitkan dengan tali karena sudah rusak, tapi masih ada penghalang gordyn sehingga tidak terlihat keadaan di sini dari kamar kerja sebelah.
Langsung mengambil tempat terlindung di arah ujung tempat tidur, Yayuk berdiri dengan jantung berdebaran sementara Enos membalik kaset menyetel musik untuk menunjukkan pada orang sebelah bahwa dia masih ada di kamar sekaligus untuk meredam suara kehadiran Yayuk.
“Iddihh Mas nekat ahh.. kalau ketauan aku di sini gawat nantinya.. Ehh, adduh! mau ngapain lagi Mass.. Sebentar lagi mau nyampe aku pasti ditungguin sekarang ini..!?”
Baru saja mengeluh Yayuk sudah menyambung protes kaget karena Enos tiba-tiba mengangkat tubuhnya untuk dibaringkan di tempat tidur. Meskipun begitu suaranya ditekan untuk berbisik pelan.
“Masih jauh nyampenya Yuk.. Soalnya Mas masih penasaran kamu. Nanti kapan lagi bisa ketemunya, paling-paling setelah lewat dari sini kamu lupa lagi sama Mas.”
“Ya enggak sih Mas, kan aku udah janji akan ngirimin surat buat Mas, siapa tau nanti ketemu lagi.”
“Itu sih tetap Mas tunggu, cuma untuk perpisahan sekarang ini kasih sekali yang terakhir kan boleh?” Enos menawar sambil tangannya bekerja untuk menurunkan celana dalam Yayuk.
“Tapi aku nggak enak Mass.. risih aku suamiku deket sekali di sebelah. Nanti kedengeran suaraku dia curiga, gimana alasannya?” Yayuk mengutarakan keberatannya meskipun begitu dibiarkannya juga celana dalamnya dilolosi lepas oleh Enos.
“Gampang, nanti bilang aja Mas Enos lagi ngasih bekal istimewa buat Bu Heru..”
“Bekal apa.. aahahngg..!?” Yayuk tersenyum geli dengan canda Enos tapi kemudian dia mengerang manja ketika tiba-tiba dirasanya celah kemaluannya kena disosor mulut Enos.
Sebentar dia kikuk kegelian mencoba untuk menolaki kepala Enos tapi karena Enos tetap berkeras, dia mengalah juga apalagi dia mulai merasakan enak kemaluannya dikerjai mulut Enos. Rasa geli-geli asyik ketika klitorisnya dijilat-jilat, digigiti gemas dan lubang kemaluannya disodok-sodok kaku ujung lidah Enos. Yayuk dengan suaminya belum pernah dipermainkan seperti ini.
Jelas ketika mendapatkan permainan baru dari Enos, dia pun semakin menyukai Enos yang dinilainya pintar untuk bisa memberikan kenikmatan dan kepuasan dalam seks kepadanya. Sehingga kalau beberapa menit lalu dia masih setengah hati karena suami dan mertuanya sedang ada di sebelah, sekarang dia sudah tidak perduli apa-apa lagi. Buntu otaknya oleh rangsangan geli-geli mengasyikkan ini, menelentang diam dengan mata sayu terpejam-pejam mulut setengah menganga sambil terkangkang lebar memberikan kemaluannya yang terkuak bebas dikerjai Enos.
Enos sendiri baru kali ini melihat jelas bentuk kemaluan Yayuk, sebab selama ini selalu main dalam suasana gelap. Kontan gairah kelelakiannya terangsang oleh liang kemaluan yang montok dan menggembung menggiurkan ini, serasa rakus mulutnya mengecapi gemas-gemas nafsu diikuti jarinya mengoreki lubangnya yang lunak hangat. Asyik bermain di situ tapi lama-lama tidak tahan juga.
Enos berhenti setelah melihat Yayuk sudah matang dirangsang, turun dia dari tempat tidur untuk menurunkan celananya. Berdiri di samping Yayuk kali ini dia sengaja membebaskan kemaluannya memamerkan batang telanjangnya dipandangi Yayuk dengan mata sayu bernafsu. Makin didekatkan batang itu ke muka Yayuk.
“Basahin sebentar sama ludahmu Yuk..!” pintanya menguji kesediaan Yayuk. Apa yang dimaksud segera dipenuhi Yayuk karena perempuan kalau sudah dibuktikan lebih dulu dihisap kemaluannya memang jadi murah hati. Padahal inipun masih risih dia melakukannya pada suaminya. Dalam berahinya terlupa sudah rasa risih dan jijik apalagi dengan lelaki bukan suaminya, langsung saja Yayuk mendekatkan kepalanya membawa mulutnya mencaplok kepala batang Enos.
Segera dihisap-hisap dan dilocoknya bagian yang bisa tertampung di mulutnya berdasarkan nalurinya sambil memejamkan mata untuk ikut menikmati rasa yang terdapat di situ. Dia mulai mendapatkan keasyikan tersendiri dengan mengulum batang kemaluan lelaki seperti ini tapi sayangnya tidak berlama-lama karena Enos tidak ingin kehabisan waktu.
Meminta batangnya dilepas, Enos naik langsung menindih Yayuk dengan menempelkan rapat kedua kemaluan masing-masing, tapi rupanya dia belum langsung mulai, masih menggosok-gosokkan batang tegangnya di depan mulut lubang sambil mengajak Yayuk bercumbu diiringi kecupan mesra di seputar wajahnya. Kalau belum dimasukkan memang belum bereaksi, jadi Yayuk masih bisa meladeni cumbu rayu Enos, saling berbisik dengan juga membalas berkecupan sama mesranya.
“Kalau udah di rumah nanti jangan lupa sama Mas Enos, ya Yuk..?”
“He ehh.. aku nggak bakalan lupa sama Mas, abisnya pinter maennya. Tapi jangan-jangan Mas sendiri yang lupa sama Yayuk?”
“Oo nggak, Mas pasti keinget terus sama memeknya Bu Heru yang pinter ngocok sendiri ini..”
“Ngg.., kontolnya Mas Enos yang mantep..” balas Yayuk tersenyum geli.
“Bu Heru suka ya? tapi jangan bilang-bilang Pak Heru kalau memeknya dipakai Mas, ya?” kata Enos sambil mulai memasukkan batangnya di lubang kemaluan Yayuk yang sedari tadi sudah siap menganga di bawahnya.
Begitu tertancap langsung disambung gerakan keluar masuknya pelan.
“Asal jangan kenceng-kenceng Maass.. nanti rusak, Pak Heru di sebelah bisa marah.. Sshh hmm.. enak banget kontolnya Mas Enos.. enaakk rassanya..” sambil bertimpal canda Yayuk pun segera meresap asyik garukkan batang kemaluan Enos, liang kemaluannya mulai mengimbangi dengan goyang mengocok seirama dengan Enos.
“He ehh.. sambil diputer-puter gitu Bu Heru.. Iyya sshh asyik kocokkannya.. sshmm..”
Keduanya mulai tenggelam dalam asyiknya bersanggama. Sekalipun suaminya berada dekat di sebelah dan namanya disebut-sebut tapi Yayuk betul-betul sudah terlupa dengan cinta sucinya kepada sang suami. Terlupa dirinya dalam nikmat beradu kemaluan dengan lelaki yang relatif baru dikenalnya ini.
Satu-satunya yang masih teringat cuma menjaga suara jangan terlepas mencurigakan. Padahal kalau saja Heru tahu apa yang terjadi di balik dinding sebelah, tentu bisa pingsan dia saking dibakar cemburu. “Ssshh nghh.. aahsh mngh.. hhgh sshh.. ahh aaoohh dduhh.. mmhgng..” mungkin bisa terlepas ke kamar sebelah suara desah nafas dan erang tenggorokan keduanya yang keenakkan, tapi tentu saja Heru tidak curiga bahwa itulah erang rintih istrinya yang sedang berorgasme melepaskan kepuasannya.

The post Cerita Sex Perselingkuhan Yayuk Seksi appeared first on Kumpulan Cerita Sex Hari Ini.

Cerita Sex Cewek Janda Dari muda

$
0
0

Saat itu (saat saya masih SMA) sudah sekitar pukul 20.30 malam, namun teman alias pacar saya belum juga pulang. Ia kelas 2 SMA di Bandung, namanya Carlos (kini ia ada di Perancis telah bekeluarga mempunyai 2 anak laki-laki). Ia anak blasteran, papanya orang Jakarta dan mamanya orang Perancis.
Saya mulai bingung, “Los, kok lu belom pulang sih..?”
“Kenapa sayang..? Kamu nggak mau aku nemenin kamu? Padahal khan di rumah kamu nggak ada orang!”
Memang pada saat itu di rumahku sepi, karena orangtua saya sedang pergi ke luar kota, sedangkan pembantu saya pulang kampung karena orangtuanya sakit keras. Dan saat itu kami hanya berduaan sambil menonton film yang dibawa oleh pacar saya. Dia sudah mengetaui sebelumnya bahwa rumah saya itu kosong. Tidak ada orang, hanya saya sendiri saja. agen poker
Entah saat itu setan apa yang muncul dalam benak Carlos, tiba-tiba saja ia meraba-raba payudara saya.
“Yang, aku baru kali ini nyentuh loh! Ternyata punyamu mulus juga, besar lagi..”
Saya tersentak kaget, lalu saya mencoba untuk melepaskan diri. Namun ia memeluk saya lebih erat, belum lagi VCD yang dibawa Carlos membuat nafas lebih cepat dari sebelumnya. Dan di VCD tersebut muncul adegan si cowok memasukkan tangannya ke rok si cewek. Carlos melakukan hal yang sama pada saya. Ia memasukkan tangannya ke dalam rok saya dan mulai mengelus vagina saya. Saya lebih tersentak dari sebelumnya.
“Sudah basah ya! Kamu mau nggak aku cium bibirmu, terus ntar kamu isap lidahku ya!”
Kini pelukannya semakin erat, ia mendekatkan dada saya pada dadanya lalu ia langsung melumat bibir saya. Saya sungguh sangat kaget karena baru kali ini ia melakukan hal ini.
Memang kami belum lama jadian, baru sekitar 2 minggu. Dan ini pertama kalinya saya mengajaknya ke rumah dan nonton di kamar saya. Ia terus memainkan tangannya di vagina saya, lalu kembali ke dada. Kemudian ia tiba-tiba membuka dan merobek pakaian saya. Saya mulai berontak, namun ia tetap memeluk dengan erat.
“Tenang sayang. Nanti juga kamu terbiasa. Adegan ini sudah tidak jarang di Perancis. Lagian aku khan pacarmu sendiri. Rileks ajah, nanti juga kamu katagihan.” bisiknya.
Saya berontak sekali lagi, namun ia memeluk dengan lebih erat dan mulai menjilati payudara saya.
“Sssh.. ahh.. mmhh.. su.. dah.. Car.. los.. ge.. li..” rintih saya.
Namun lama-lama saya merasakan nikmatnya. Ia melepaskan saya tiba-tiba, membuka semua pakaiannya dengan cepat, juga ia menutup gorden, dan kembali pada saya. Kini ia mulai lagi meraba payudara saya dan langsung membuka kaitan BH saya. Kini saya setengah bugil tanpa BH. Kini terpampang kedua susu saya, namun kini saya tidak berontak lagi karena merasakan kenikmatan. Ia lalu menarik reslueting rok saya, kemudian ia langsung membuka CD saya. Ia mengelus-elus vagina saya.
“Sssh.. shh.. mmhh.. aahh.. e.. nak.. Sayang..” desah saya.
Kini ia memainkan penisnya di payudara saya.
“Yang.. enak..”
“Rileks aja ya Shan..!”
Ia kembali meremas susu saya, menjilatnya lalu menuju vegina saya. Didekatkan penisnya ke vagina saya, dan tanpa berpikir panjang, ia langsung memasukkan penisnya ke dalam vagina saya yang masih kering.
“Aaadduuhh..! Saakkiitt..!” saya menjerit.
“Blesp.. blespp..” kini penisnya sepenuhnya masuk ke dalam vagina saya.
Saya hendak berteriak menahan sakit, namun ia langsung saja meremas susu saya dan melumat bibir saya lagi, sehingga saya tidak dapat berteriak. Padahal kini Carlos telah menembus selaput keperawanan saya.
Kini saya dan Carlos mencapai puncak, “Crroot.. crott..” spermanya masuk ke dalam vagina saya.”Croott.. croott..” dan kini saya yang mengeluarkan cairan.
“Yang.. aku.. lemes nih..!” kata saya.
Ia menarik penisnya keluar dari vagina saya dan tidur di sebelah saya. Ia membelai rambut dan mengelus-elus payudara saya.
“Gimana..? Enak kan..?”
Ia bangkit dan menjilat vagina saya sambil meremas payudara saya. Saya mencapai klimaks untuk yang kedua kalinya, ia langsung saja menjilati dan menghisap cairan yang keluar dari vagina saya. Padahal cairan itu keluar bersama darah keperawanan saya.
Setelah itu kini ia mencapai klimaks, ia memaksa saya untuk memasukkan penisnya ke dalam mulut saya. Pada awalnya saya menolak, namun kini ia dengan kasarnya memasukkan penisnya ke dalam mulut saya.
“Croott.. croott..,” saya mencoba menelan semua spermanya.
Setelah itu ia kembali ke arah vagina sekali lagi, ia menancapkannya dan mulai menaik-turunkan penisnya. Kini saya yang mengikuti irama gerakannya, saya mulai menggoyang pantat, dan kami berbalik. Kini saya berada di atas
Carlos, dan saya mulai memaju-mundurkan pantat saya. Sekali lagi kami mencapai klimaks.
“Croot.. croott..!” secara bersamaan kami mengeluarkan cairan.
Setelah itu saya langsung melepaskan tubuh saya ke ranjang, ke dada Carlos, dan terlihat waktu menunjukkan pukul 22.30.
“Setengah sebelas. Apa kamu tidak pulang Carloss..?” tanya saya ragu-ragu.
“Tidak. Aku sudah minta ijin pada Mama tadi untuk nemenin kamu.”
Lalu kami tertidur pulas karena kelelahan.
Paginya Carlos membangunkan saya.
“Yang, bangun..!” bisiknya.
Saya terbangun, “Ada apa Los..?” tanya saya refleks.
“Lihat, sudah pagi. Bangun dong..! Mandi yuk..!”
Saya lihat jam kini sudah pukul 08.00. Saya mengangguk lemah dan pergi ke kamar mandi dengannya.
Selama di kamar mandi saya menghindari Carlos, takutnya nanti ia mulai melakukannya lagi, karena saya pikir kalau terjadi lagi nanti bisa-bisa berabe dengan orangtuanya, lagi pula orangtua saya sebentar lagi pulang. Saya mempercepat mandi saya, lalu segera berpakaian. Kemudian saya membereskan kamar, VCD dan ruang keluarga. Tidak lama kemudian Carlos selesai mandi. Ia berpakaian lalu menuju ke arah saya. Ia memeluk saya.
“Bagaimana? Enak kan Sayang..?” bisiknya.
Saya menggangguk, lalu saya teringat bahwa orangtua saya akan pulang.
“Los sebaiknya kamu cepat pulang! Ortuku bentar lagi pulang, lagian nanti ortumu cemas.”
“Ortumu udah mau pulang? Ya, nggak apa-apa. Kenapa? Takut? Aku sih nggak! Ama calon mertua sendiri kok takut?”
Aku kaget, “Calon mertua..?”
“Iya. Aku khan mau tanggung jawab atas kelakuanku! Baru kali ini loh aku melakukannya! I Sueerr..!”
“Gombal! Bohong! Kamu waktu kemarin bilang kalo udah sering!”
“Aku khan cuman bo’ong! Ya udah deh gue pulang! VCD-nya buat elo aja! Shin, besok loe mau khan maen ke rumah gue! Khan besok Sabtu! Loe mau lagi khann..?”
“Aku tanya dulu ama ortuku.”
“Oke deh! Bye..”
Sejenak saya ingin menangis, kini saya tidak perawan lagi! Apa benar Carlos mau bertanggung jawab. Kini saya mulai merasa bahwa masa depan saya suram. Ini semua gara-gara saya mengajaknya ke rumah karena saya merasa kesepian. Namun tidak lama kemudian ada suara orang yang mengetuk pintu.
Saya membuka pintu, namun yang saya temukan bukanlah kedua orangtua saya, namun paman dan bibi saya yang menggunakan pakaian hitam dan bibi berlinangkan air mata. Segera saya tarik bibi ke dalam sebelum ia berbicara, saya sudah mengerti dari semua ini. Saya ingin berteriak namun saya sadar bahwa tidak ada gunanya.
Segera saya mengganti pakaian, kini saya bersama bibi dan paman menuju pemakaman.
“Kapan terjadinya Bi..? Apa yang terjadi..?” tanya saya membuka pembicaraan.
“Kemarin lusa Shin! Orangtuamu mendapat kecelakaan.
Mereka segera dilarikan ke rumah sakit, namun dokter tak bisa menolong. Karena kaca yang pecah tepat mengenai jantung ayahmu, dan ibumu tertusuk pada nadi tanggannya.”
Sepanjang perjalanan saya menangis sambil memikirkan. Kini saya sudah SMA, kini saya tidak punya orangtua, terlebih lagi keperawanan saya suda direnggut oleh pacar saya. Saya sungguh-sungguh memikirkan hal ini.
Setelah dari pemakaman saya segera pulang. Saya melihat Carlos sudah menunggu saya.
“Aku sudah tahu semuanya dari Irma,” katanya membuka pembicaraan.
Memang saat saya ke pemakaman ada Irma di sana.
“Shan, aku serius kini. Aku sungguh-sungguh tak tau. Aku sendiri kaget karena beritanya tiba-tiba dari ortuku.
Besok aku akan pulang ke Perancis karena mamaku bilang aku akan meneruskan studiku di sana. Padahal di sini pun aku baru 2 bulan. Tapi aku tadi bilang pada mamaku bahwa aku akan mengajak kamu. Mamaku setuju dan aku segera ke sini. Saat aku tiba, Irma telepon padaku. Ia menceritakan semuanya.”
“Maaf Carlos. Aku tidak bisa ikut! Orangtuaku baru saja meninggal, dan kini aku harus ikut kamu keluar negeri..?”
“Tapi Shan.., kamu.. kamu.. sudah aku renggut harta yang paling berharga darimu, aku mau tanggung jawab.”
“Tidak.. aku tidak bisa ikut denganmu.”
Terjadi berdebatan antara saya dengan Carlos saat itu, dan segera saja ia pergi meninggalkan saya selamanya.
Beberapa bulan kemudian saya merasakan mual dan pusing, tadinya saya pikir hanya gejala masuk angin, tapi ternyata setelah saya periksakan ke dokter, saya hamil. Berbagai macam cara saya tempuh untuk menggugurkan bayi ini namun bibi melarang saya. Bibi sudah mengetahui semuanya.
“Shin, bayi ini tak berdosa, jangan kau bunuh dia. Biarkan saja dia tetap hidup, biarkan kau melahirkannya. Lagi pula kau sudah keluar dari sekolahmu.”
Memang, setelah orangtua saya meninggal, saya keluar dari sekolah. Dan kini saya hanya berkeinginan melahirkan anak saya. 9 bulan kemudian saya melahirkan seorang anak perempuan, saya beri dia nama “***** Tabah *****”.
Kini saya hidup menjanda pada umur 20 tahun. Setelah beberapa minggu saya melahirkan, saya mulai mencari pekerjaan, namun tidak ada yang mau menerima karena saya tidak lulus SMA. Lalu dengan berat hati saya bekerja di klub malam.

The post Cerita Sex Cewek Janda Dari muda appeared first on Kumpulan Cerita Sex Hari Ini.

Cerita Sex Pertama Kali Dapat Perawan

$
0
0

Nama terkenalku adalah Ryan Kwan. Panggil saja aku Ryan apa Yan. Tentu saja wanita lebih memilih memanggilku Yang yang berarti sayang. Jelas saja mereka menyayangiku karena aku mempunyai kontol yang besar dan panjang. Tidak ada wanita yang telah merasakan kontolku yang tidak ketagihan dan minta tambah.
Pada usia 26 aku telah menjadi ahli sex. Sudah banyak wanita dan gadis yang kunikmati tubuhnya dan kuajarkan sex. Dari yg masih muda, tua, perawan, gadis, janda bahkan istri orang juga telah termakan oleh rayuanku. Gemuk kurus tinggi pendek postur tubuhnya Sempit longgar memeknya gede kecil buah dadanya semua pernah kurasakan. Aku kenal berbagai wanita dari jaringan internet bahkan dari kenalan langsung diberbagai mall. Poker Online
Sudah berapa hari ini belum kudapatkan wanita yang bisa kurayu, Dengan iseng aku pergi ke Galaxy Mall berharap bisa ketemu dengan wanita yang bisa merasakan kontolku. Jam 10 pagi, kukelingi satu persatu lantai mencari sasaranku. Dari lantai satu sampai lantai lima.
Banyak sekali yang ingin kusetubuhi. Berpapasan dengan wanita yang lewat tidak lupa kutebarkan senyumanku yang manis berharap mereka membalas senyumanku. Itu yang kulakukan kepada setiap wanita. Sudah jam 12 siang.
Perutku sudah berbunyi. Waktunya makan siang pikirku. Sambil makan kulihat sekeliling dan mataku berhenti setelah melihat wanita diujung pojok. Wanita itu juga sedang melihatku dan ternyata sedang sendiri juga. Inilah wanita yang kucari buat menemaniku hari ini, pikirku. Wanita bergaun hitam, sangat sexy dan cantik.
Kulihat umurnya sekitar 20. Pahanya yang putih mulus membuatku menelan ludah beberapa kali. Kuhabiskan makananku dengan cepat dan sambil memegang minumanku, kusamperin kemejanya.
“Hi” sapaku sambil menebarkan senyumanku yang manis tentu saja.
“Hi juga” balasnya sambil tersenyum juga. Wah rejeki nomplok nih, pikirku.
“Sendirian mbak?”
“Tadinya sendirian, tapi ga lama lagi juga berdua” katanya. Kaget dengan jawabannya.
“Berdua sama siapa mbak? Temannya?” Tanyaku.
“Berdua sama kamu dong mas, bukankah mas mau duduk bersamaku?” Lega juga dengan jawabannya, lalu kutarik bangku dan duduk disebelahnya.
“Kenalan, nama saya Ryan Kwan, mbak boleh panggil saya Ryan atau Yan, boleh juga panggil saya Yang kalau sayang sama saya, jangan panggil saya Mas ya, saya bukan Emas” kataku sambil mengulurkan tanganku untuk menjabat tangannya.
Tanganku disambut sambil menjabat tanganku
“Merry Zhang, panggil saja Merry, jangan panggil Mbak, saya belum menikah”
“Merry, Merry, Merry, kamu belum menikah tetapi saya bersedia merry ama kamu” ujarku mulai bercanda.
“Ah kamu Yan, bisa aja bercandanya, kamu sendiri sama siapa kesini?”
“Tadinya sih sendiri Mer, tapi sekarang sudah sama kamu.” Kupandang lagi wajahnya yang cantik, manis, suaranya lembut sekali.
Ah otakku mulai mencari akal untuk menidurinya.
“Mer, hari ini ada acara apa?” “Ga ada Yan, lagi suntuk nih”
“Gimana kalau kita happy happy hari ini Mer?”
“Happy dimana Yan?” “Kita ke karaoke yok, nyanyi biar ga suntuk?”
“Berdua?” “Lah iya lah, masa sekampung”
“Ya, Oke lah kalau begitu, ayo” kemudian kami turun dan menuju ke mobil saya.
Kubukakan pintu mobil untuknya masuk. Sempat kulihat celana dalamnya yang berwarna putih sewaktu dia masuk ke mobil. Dalam perjalanan ke karaoke otakku berpikir kencang. Nih cewek harus kudapatkan nih buat malam ini. Apapun caranya.
Kemudian tanganku memegang tanggannya dan disambut olehnya sambil berkata “kenapa Yan, pegang tangan saya, kamu naksir ya ama aku?” “Jelas sekali Mer, sudah jelas saya naksir kamu, makanya saya ajak kamu ke karaoke” “Tapi saya sudah punya pacar lho Yan” “Nah lho, terus kok mau saya ajak ke karaoke?” “Terus terang aja Yan, aku juga naksir kamu, kamu ganteng, cakep, berbeda dengan pacarku, jelek hitam.
Lagipula”. Kata katanya berhenti disitu. Membuatku penasaran. “Lagipula apa Mer, jangan malu malu, katakanlah semuanya kepadaku” tanganku sudah menyambar ke pahanya yang putih. Kontolku sudah mulai ngaceng. Dengan muka bersipu malu dia berkata “Lagipula, aku masih perawan Yan, pacarku tidak pernah menyentuhku.
Dia terlalu sopan. Malah aku yang mengajaknya. Tetapi pacarku tidak pernah bisa membuka perawanku. Kontolnya terlalu lembek dan pendek. Tidak pernah bisa masuk ke memekku yang sempit. Aku sudah berumur 20 dan masih perawan.” Mendengar katanya dalam hatiku berpikir “ini dia” dapat durien runtuh dari pohonnya langsung nih.
Sambil tersenyum manis kupandang wajahnya. “Lho itu bukannya baik Mer, mempunyai pacar yang sopan, perawan kamu bisa kamu jaga sampai pada malam pertama kamu, malam pernikahan kamu” “Kamu ga ngerti ya Yan, aku ini wanita, aku ingin menjadi wanita yang utuh, aku ingin merasakan kontol didalam memekku, aku tidak ingin menjadi perawan seumur hidupku” Nah ini dia kesempatanku. “Bagaimana kalau saya bantu kamu Mer, saya akan membantumu untuk merasakan menjadi wanita sejati.
Tetapi untuk membantumu kita jangan dikaraoke, kita ke hotel aja gimana?” Tanganku mulai naik ke atas memasuki gaun hitamnya sampai ke pangkal pahanya. Sambil memandangku dan memandangku dengan mesra. “Terserah kamu deh Yan” Mendengar jawabannya. Aku langsung memutar balik mobilku dengan cepat. Terdengar klaksok mobil dari belakang. Sorry. Kuluncurkan mobilku cepat ke hotel terdekat.
Langsung cek in. Dan kugandeng tangannya masuk ke dalam kamar. Tidak lupa kutinggalkan tanda Do Not Disturb didepan pintu kamar. Kugendong dia sampai ke ranjang kemudian kubaringkan dia. Langsung saja kupeluk dia dan kucium bibirnya yang merah merekah. Dia juga membalas pelukanku dan menciumku dengan ganas. Lidah kami saling bermain. Bibir kami saling melumat. Nafsu kami bertambah tinggi. Tanganku mampir ke dadanya. Kuremas pelan dadanya yang masih terbalut oleh gaun hitamnya.
Terus turun sampai ke pahanya. Kemudian memasuki gaunnya sampai ke celana dalamnya. Kuelus elus celana dalamnya yang mulai basah. Kutarik gaunnya keatas dan kubuka celana dalamnya yang putih. Terpana mataku melihatnya. Terlihat bulu bulu halus tipis dan belahan vaginanya yang mulus bersih. Rapat sekali. Bener bener perawan nih cewek.
Tanganku langsung mengelus elus vaginanya dan terdengar desahannya. “Ahhhh… Yan…. Ahhhhh sayang…. Ahhh buka saja pakaianku…. Ahhhh iyaa sentuh disanaa… Elus disana…” Tidak usah dia berkata dua kali, langsung kubuka gaunnya, bhnya yang berwarna putih menutupi buah dadanya dengan rapi. Buset besar sekali. 36b. Putih montok. Kubuka pengait bhnya dan muncul buah dada dan puting susunya yang berwarna pink.
Tanganku langsung meremas buah dadanya, kiri dan kanan. Serta kumainkan puting susunya. Desahannya bertambah kencang. “Ahhhhh Yang, kamu pinter sekali… AhhHh cium dadaku sayang, hisap puting susuku” “tentu saja sayang, nenenmu besar sekali. Aku suka” “kalau suka, hisap aja sayang” langsung kucium dadanya, kuhisap puting susunya. Kugigit pelan puting susunya.
Jeritan dan desahannya bertambah kencang. Ciumanku turun ke vaginanya. Kujilat memeknya. Harum sekali memeknya. “Ah Yang, sayang… EnakKkkk…. Ahhhh “Kubuka pintu memeknya dan lidahku sudah menjilati memeknya. Jari Tanganku kumasukkan kedalam memeknya. Dan pantatnya ikut naik keatas sewaktu jariku masuk sekitar 2cm. Kudorong masuk lebih dalam lagi dan terhenti sewaktu ada lapisan yang menghentikan tanganku untuk masuk lebih dalam.
Anjrit, nih cewek memang perawan. Beruntungnya diriku hari ini. Ini perawan ke sepuluh yang kudapatkan untuk tahun ini. Lalu kubuka kaos dan celanaku. Aku memang tidak memakai celana dalam hari ini. Matanya Merry memandangku dengan sayu sewaktu kumelepaskan seluruh pakaianku. Ketika melihat penisku yang telah berdiri dan tegak. Kulihat dia menegak air liurnya berapa kali.
Tangannya langsung menjulur memegang kontolku yang besar dan panjang. Ada 20cm. Sambil tersenyum melihatnya memagang kontolku. “Ayo pegang saja kontolku, remes, kocok, terus masukin ke mulutmu dijilat jilat dikulum ya Mer” Seperti sudah mengerti, Merry langsung menjilat kepala kontolku terus kebatang terus ke biji pelerku. Kembali ke kepala kontolku dan langsung dimasukin ke mulutnya. Dihisap seperti menghisap permen. Dijilat seperti menjilat es krim.
Pinter juga untuk pemula. “Akhhhh, Mer, ahhhK sayang, kamu pinter banget…. Ukkkkkhhhh” Desahanku tambah kencang. Kuelus kepalanya dan rambutnya yang sedang menghisap kontolku. Naik turun kepalanya. Sekitar 15 menit dia menghisap kontolku. Gawat bisa keluar nih aku. Langsung kuangkat kepalanya, dan kuarahkan penisku ke memeknya. Matanya memandangku dan sambil membuka lebar pahanya dia tersenyum padaku. “Jadikan aku wanita hari ini Yan, masukan kontol besarmu kedalam memekku yang sempit, ambillah perawanku” Kudorong kontolku memasuki lobang memeknya. Anjrit.
Sudah berapa kali kucoba memasuki lobang memeknya, tetapi saking besarnya kontolku dan lobang memeknya yang masih ori belum bisa kumasuki. Akhirnya kuludahi tanganku dengan air ludahku kuolesi kontolku. Kemudian kucoba memasuki lobang perawannya. Hek blessss, masuk kepala penisku. Berhasil. Merry mengigit bibirnya. Sambil kuremas buah dadanya, kudorong masuk lagi. Sekarang batang kontolku sudah berhasil masuk. “Akhhhh sakit Yang, akhhh sakittt, jangan Yang, jangan Yang sakit” Kudorong masuk lagi, dengan hentakan yang kencang masuk seluruh kontolku dan berhasil. Kontolku melaju dengan kencang, dan membelah memeknya yang masih perawan.
Kulihat Merry menjerit dengan kencang. “Ryan…. Akhhh… Sakittt…. Sayang…” Kubiarkan kontolku tertanam didalam vaginanya. Untuk semenit kubiarkan didalam saja. Menanti rasa sakitnya berkurang, kemudian baru kugerakkan kontolku keluar masuk memeknya. Merry mulai keenakan kenikamatan. Terdengar dari desahan dan tangannya yang mulai menarik narik seprei ranjang. Kepalanya goyang kiri kanan. “Ahhhhkkkk sayang, enak…. Akkkkhhhh sayang…. Akhhhhh Ryan….ohhhhhh Yan….aku maaauuuu keluarrrrrr…” Dan ternyata Merry telah mencapai puncak orgasmenya.
Dia memelukku dengan kencang. Jari jarinya mencakar punggungku. Kurasakan semburan air kencang yang membasahi lobang memeknya. Memeknya sudah menjadi tambah basah. Memudahkan kontolku keluar masuk. Kuraih badaNnya untuk diatasku. Dalam posisi ini kontolku bisa masuk lebih dalam ke memeknya. Seperti mengerti maksudku. Merry mulai mengoyangkan pinggulnya naik turun diatasku. Pertama pelan kemudian tambah cepat goyangan pantatnya. “Ahhh… Mer enak sekali… Memekmu… Jepitan memekmu enak … Ohhh sempit sekali memekmu… Ahkkk” hampir satu jam kami berhubungan sex.

The post Cerita Sex Pertama Kali Dapat Perawan appeared first on Kumpulan Cerita Sex Hari Ini.

Cerita Sex Pengalaman Pertama Menjadi Waria

$
0
0

Selama lima belas menit itu, aku bolak-balik mengecek penampilanku, apakah masih terlihat menawan dan fresh seperti saat keluar salon tadi. Aku memakai gaun terusan pendek sekitar 20 cm di atas lutut berwarna biru muda dengan tali yang kecil di bahuku. Lumayan tipis juga soalnya BH-ku yang berwarna htam bisa kelihatan samar-samar. Kakiku yang mungil dibungkus dengan sepatu hak tinggi warna silver. Sehelai syal sutra melingkar dengan manisnya di leherku menyelinap di antara helai-helai rambutku yang panjangnya melebihi bahuku. Wajahku yang lonjong dihiasi make up tipis tapi lumayan elegan dan tentunya menambah manis penampilanku. Sepasang anting yang lebih mirip gelang karena cukup besar diameternya menghiasi kedua telingaku. agen poker
Aku sudah hampir habis menghisap light mentolku yang ketujuh ketika seseorang mengetuk kaca mobilku yang terbuka sedikit. Reflek tanganku langsung memencet tombol power window dan seketika itu tampak senyum menawan yang langsung membuatku tersipu. Senyum menawan itu milik seorang pemuda berkulit putih dengan rambut sedikit ikal dan tampang yang lumayan cakep ditambahsepasang sunggingan lesung pipitnya.
“Hallo, saya Arman, kamu Natasha yah”, tanyanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya menyalamiku. Aku yang masih tersipu hanya mengganggukan kepalaku saja.
“Aku naik yah”, tanpa kujawab Arman sudah bergegas memutar dan membuka pintu kiri mobilku.
Aku hanya bisa membisu dan benar-benar nggak tahu mau berbuat apa. Setelah dia masuk baru aku tahu kalau Arman bertubuh lumayan kekar dan keliatannya sedikit lebih tinggi dari aku.
“Ayo, kita jalan Nat”, katanya,”Aku rada laper nih”, katanya.
Sejenak aku masih terdiam dan tak berapa lama mobilku sudah melaju perlahan di jalanan Bandung yang habis diguyur hujan sore tadi. Sambil terus muncul pertanyaan yang terulang-ulang sejak tadi,”Sedang mimpikah aku”.
Namaku Natasha. Aku lahir sebagai pria normal bernama Nathan dari keluarga yang lumayan berada di Bandung. Aku berumur 24 tahun dan baru lulus dari kuliahku di jurusan psikologi dari sebuah universitas swasta di Bandung. Wajahku sebenarnya lumayan cakep, putih mulus, tanpa jerawat dan jakun yang hampir tak kelihatan. Tubuhku boleh dibilang langsing dengan tangan dan kaki yang nyaris tak berotot. Sekilas tubuhku mirip wanita tapi tanpa buah dada, sepasang buah dada yang selalu kudambakan. Rambut asliku hitam agak kaku panjang melebihi bahuku dengan potongan shaggy.
Sebenarnya aku tidak tahu mulai kapan aku mulai lebih suka dengan penampilanku sebagai Natasha. Sewaktu SMP aku mulai rajin mengambil baju kakak-kakakku yang semuanya cewek dan mencobanya. Mulanya cuman buat cekikikan sendiri karena kurasa lucu banget kalau aku lagi mencoba pakaian cewek. Kemudian berlanjut dengan memakai wig milik kakakku yang kebetulan pengurus teater di kampusnya dan selalu membawa pulang semua kostum klubnya ke rumah. Dan terakhir aku mulai memakai make up milik mamaku. Entah kenapa lama-kelamaan aku merasakan sebuah sensasi yang kurasa sangat luar biasa jika sedang berpenampilan sebagai Natasha. Seolah dalam diriku ada dua kepribadian yang jelas bertolak belakang, Nathan dan Natasha.
Selama aku kuliah, aku memilih tinggal di kos dekat kampus daripada di rumahku sendiri yang notabene besar dan cukup mewah itu. Dengan alasan lebih bebas dan bisa konsentrasi penuh ke kuliah. Padahal aku tahu kalau aku pengen supaya Natasha lebih sering keluar dari persembuyiannya. Hampir setiap malam di kosku aku berubah menjadi Natasha dan pagi harinya aku menjalani kebidupan kuliahku sebagai Nathan seperti layaknya seorang laki-laki normal. Sesudah ngekos aku mulai banyak memborong baju-baju cewek di factory-factory outlet yang tersebar di Bandung.
Dengan alasan hadiah untuk pacar atau adik, mulai dari celana pendek jean yang ketat, tank top, gaun panjang, kulot, sepatu-sepatu tinggi serta wig mulai dari yang pendek sampai yang panjang aku membelinya dengan alasan untuk kegiatan teater kampus. Untuk celana dalam dan BH, diam-diam kuambil milik kakakku di rumah yang kira-kira sudah jarang dipakai lagi. Dan sebagian lagi kupesan dari internet. Buat urusan alat-alat make up aku sengaja ikut jaringan MLM dari cewek temen kuliahku dengan alasan buat menambah uang jajan. Jadi singkatnya semua kebutuhan Natasha lengkap banget.
Setelah kehidupanku di kamar kos sebagai Natasha kujalani selama kuliah, aku mulai terpikir merasa jenuh karena seakan tidak ada tantangan. Natasha dalam diriku mulai pengen keluar dari kamar kos dan mencari pengalaman yang baru. Siang itu di warnet sesudah nge-browse cewek-cewek transsexual dari internet, aku iseng nyari kenalan lewat chatting. Dari situlah aku berkenalan dengan Arman. Berhari-hari aku mengaku sebagai Natasha seorang cewek centil kesepian dari Bandung yang lagi cari cowok.
Tanpa diduga suatu hari setelah ngobrol macem-macem Arman mengutarakan kalau dirinya lebih menikmati ‘making love’ sama waria. Terus terang saat itu aku agak kaget bercampur senang sambil meyakinkan Arman kalau kelakuannya itu menurutku wajar-wajar saja. Setiap chatting Arman selalu tak pernah absen menceritakan pengalaman-pengalamannya dengan cewek-cewek warianya yang selalu berhasil membuatku masturbasi berulang-ulang sepulang dari warnet. Membayangkan tangan-tangan Arman yang memelukku dari belakang, bibirnya yang mencium helai rambutku, memainkan penisku dan membangunkannya dari tidurnya.
“Aaachh.., mmhh..,” desahku sambil terus mendesah lirih.
Sekali lagi aku menikmati khayalanku sendiri dengan Arman. Lelehan air maniku di pahaku yang putih saat itu akhirnya menyadarkanku kalau aku sudah horny banget sama seorang yang bernama Arman.
Lama kelamaan aku tak tahan lagi dan hari itu, Minggu pagi, aku akhirnya mengaku pada Arman kalau aku bukan cewek seperti umumnya kalau aku adalah seorang Natasha yang sebenarnya.
“Man, aku mau membuat pengakuan, nih”, tulisku di lajur chatting.
“Pengakuan apa Natasha sayang, kalau kau naksir sama aku yah he.. he.. he..” balasnya enteng tanpa tahu aku yang lagi deg-degan berat.
“Itu juga sih he.. he..,” tulisku lagi,”Bukan, soal siapa aku sebenarnya, Man”. Tanpa menunggu jawaban dari Arman aku menulis lagi,”Kalau aku sebenernya tak jauh beda sama waria-waria yang sering kamu ceritain.”
Sejenak hening dan tak ada balasan dari Arman. Aku sempet bingung dan berpikir kalau aku salah mengatakan ini ke Arman.
“Man, kamu masih di sana”, tanyaku.
Tak lama ada jawaban dari Arman,”Kamu serius, Nat, aku nggak tahu mau ngomong apa”.
“Iya, aku serius dan aku pengen ketemuan, Man. Kamu mau apa nggak kalau kita ketemuan?”, tanyaku sedikit memelas,”kamu nggak marah kan, Man.”
Percakapan yang cukup bikin stress itu pun berlanjut dengan mulusnya, seperti yang kurencanakan. Apalagi setelah Arman tahu kalau Natasha masih boleh dibilang masih virgin, belum pernah ‘making love’ beneran. Dia malah yang balik ngebet buat ketemuan sama aku.
“Minggu depan, aku ke Bandung, kamu siap-siap buat aku yah sayang,” tulis Arman di akhir tulisan chattingnya.
“Oke, sampai ketemu, aku tunggu yah sayang,” balasku.
Aku masih bengong dan terpaku sambil terus menatap monitor komputer. Apa yang sudah kulakukan? Aku membuat janji untuk bertemu sebagai Natasha dengan orang yang hanya kukukenal lewat chatting. Apa yang harus kulakukan?
Beberapa hari aku bingung dan terus memikirkan janji dengan Arman, akhirnya keputusanku sudah bulat untuk tetap memenuhi janjiku dengan Arman. Mungkin aku sudah kelewat horny sama Arman. Rayuan-rayuan gombalnya buat aku dan khayalanku sendiri tentang Arman mungkin sudah merasuk terlalu dalam. Aku memutuskan untuk ketemu Arman bahkan aku berniat untuk memuaskannya. Melebihi dari cerita cerita pengalamannya bersama waria di Jakarta.
Sore itu aku membuka koran infomedia seputar Bandung dan melihat begitu banyak salon-salon baru yang menawarkan servis lumayan lengkap. Muncul ideku untuk memakai jasa mereka walaupun aku sendiri sudah terlatih buat berdandan sebagai Natasha. Kupikir selain untuk memuaskan diri sendiri dan tampil cantik buat Arman, ideku ke salon bisa jadi sebagai sarana latihan. Latihan buat Natasha untuk pertama kalinya bertemu dengan orang lain selain Nathan sendiri.
Esok paginya, setelah aku mandi dengan sabun sampai wangi dan mencukur semua bulu-bulu di badanku terutama rambut kemaluanku sampai licin. Kemudian kupilih baju-baju yang akan kupakai dan membawa lengkap semua kebutuhan Natasha, aku pergi ke salon. Aku sengaja pergi pagi-pagi ke salon soalnya terus terang selain nervous banget juga aku kepikiran untuk merubah total penampilanku buat Arman.
Mobil kijangku melaju ke basement parkiran sebuah Mall dan di situ aku mulai merubah diriku menjadi Natasha. Sengaja kupilih parkir di sudut yang agak gelap dan sepi biar aku leluasa untuk berias dan berganti baju. Setelah kucopot semua pakaianku, aku mulai memakai celana dalam cewek dan BH warna hitamku. Kemudian aku memakai rok jeanku yang lumayan mini dan atasan putih dengan renda-renda di tiap lubang bajunya.
Kusapu wajahku yang dengan make up tipis dan kegeraikan rambutku yang hitam sebahu. Kemudian kupasangkan sepasang anting di telingaku. Berkat pengalamanku bertahun-tahun dalam sekejap aku sudah menjadi Natasha yang cantik. Setelah kupakaikan selopku dan kacamata hitamku, aku pun siap bergegas menuju salon yang sudah aku pilih dan kutelepon dari koran kemarin.
Mmmhh.., horny rasanya dan ditambah deg-degan juga keluar di tempat umum sebagai Natasha. Soalnya ini kali pertamaku aku mengalaminya. Mulai dari mengembalikan tiket ke petugas parkiran di mall, menyetir di jalanan Bandung, sampai akhirnya siap-siap buka pintu di parkiran salon. Aku ngerasa sexy dan cantik banget pagi itu. Aku yakin ada sedikit-sedikit cairan maniku yang keluar karena pengalamanku yang lumayan heboh ini.
Setelah kuparkirkan mobilku aku mengecek penampilanku dan bergegas turun masuk ke salon yang baru buka itu.
“Selamat pagi, Mbak,” sapaku pada penjaga yang ada di meja resepsionis salon itu.
Jantungku masih terus berdegup makin kencang, aduh, jangan-jangan ketahuan nih kalau aku bukan cewek asli. Untunglah berkat pengalamanku selama ini menjadi Natasha dan suaraku yang memang agak lembut dari sononya, mereka tak ada yang curiga.
“Selamat pagi,” balasnya,”Mau servis apa, Mbak. Eh, EMbak yang namanya Natasha yah, yang telepon kemaren sore itu?”
Aduh, senengnya ini pertama kalinya aku dipanggil Mbak.
“Eng, iya betul, banyak Mbak servis yang mau saya ambil,”jawabku sambil tersenyum.
Aku memang berniat tidak akan menyia-yiakan kesempatan pertamaku ini untuk menikmati semua kenikmatan yang memang disediakan untuk kaum wanita itu. Aku sudah merencanakan untuk menikmati semuanya mulai dari manicure, pedicure, facial, make up, sampai merubah penampilan rambutku. Aku terus terang pengen meluruskan rambutku yang agak kaku ini dengan hairbonding sejak dulu. Senang rasanya melihat cewek-cewek kebanyakan mengibaskan rambut bondingnya yang lemas. Dan mengecat rambutku dengan warna merah, brunnet, dan memotongnya dengan model baru supaya penampilanku kali ini benar-benar istimewa.
Ada satu perasaan yang luar biasa, semacam ejakulasi yang terus tertahan, selama aku menikmati semua layanan di salon ini. Hampir 6 jam aku menikmati semuanya. Termasuk lama karena aku mengambil cukup banyak layanan yang mereka tawarkan pagi itu.
Wah, mengasyikan pikirku, mengingat penampilanku kali ini yang akan berubah total. Masalah bagaiman caranya aku balik ke kos sebagai Nathan dengan rambutku yang sudah dibonding dan berwarna merah bisa kupikirkan nanti saja. Hhmm.., makin cantik saja tiap kulihat di kaca, kala Natasha sedikit demi sedikit berubah total.
Sore menjelang malam mereka selesai mendandaniku. Pelan-pelan kubuka mataku setelah sebelumnya sering kututup dan sengaja untuk tidak terlalu sering melihat ke kaca.
“Astaga..,” teriakku dalam hati, “Siapa cewek cantik yang ada di kaca ini”. Cewek dengan make up yang terlihat fresh dan rambut merahnya panjangnya yang indah mirip di iklan-iklan shampoo. Wajahku yang kelihatan lebih bersih dan sudah dibubuhi make up tipis. Aku benar-benar hampir nggak mengenali wajahku sendiri di kaca itu. Hmm.., yang pasti Arman bakal tergila-gila melihat penampilanku sekarang.
Setelah itu aku meminjam kamar mandi salon untuk mengganti bajuku dengan pakaian yang telah kupersiapkan untuk bertemu Arman. Sesudah semua baju, rok, dan pakaian dalamku kutanggalkan, aku mulai memakaikan BH dan celana dalam yang baru kubeli. Warnanya tetap hitam tapi yang ini dihiasi dengan renda-renda dan lebih terlihat transparan. Huh, agak repot juga saat aku mengenakan celana dalamnya soalnya penisku masih agak menegang akibat sensasi yang baru kurasakan.
Kemudian kukenakan gaun dengan tali tipisnya berwarna biru muda. Bahan gaun itu halus dan lembut seperti sutra sehingga tampak menempel pas dengan tubuhku yang langsing. Tak lupa kusemprotkan parfum Issei-ku sedikit di sana-sini termasuk di sekitar pahaku dekat selangkangan. Semoga bau harumnya yang bercampur keringatku bisa membuat Arman melayang. Sehelai syal sutra telah melingkar di leherku dan aku pun selesai bersiap. Sambil berjalan menuju meja resepsionis aku melirik ke kaca sekali lagi dan huff.., cantiknya Natasha.
Hari sudah menjelang gelap ketika aku melajukan mobilku ke tempat yang kujanjikan dengan Arman. Di halaman parkir senuah hotel di jalan Dago. Aku sudah tak sabar dan rasa merinding mungkin karena libidoku yang tinggi terus menyerangku.
“sudah lama yah nunggunya, Nat,” kata Arman mencoba membuka pembicaraan,”Sorry, ya..”
“Nggak lama kok, Man,” sahutku lembut dan kulayangkan lirikan padanya,”Cuman sudah rada nggak sabar ajah. Penasaran gimana tampang kamu.”
“Terus sekarang kan sudah ketemu, gimana dong kesan-kesannya,” kata Arman sambil menggerakkan tangannya yang kekar ke atas paha kiriku. Sejenak kurasa ada semacam sengatan pada pahaku dan aku terdiam sejenak.
“Boleh juga, lumayan,” kataku sambil kulirik tangan Arman yang terus bergerak mengarah ke selangkanganku.
“Kalau kamu keliatan cantik banget, Natasha,” ucapnya di dekat telingaku dan tangan Arman sudah sampai di atas penisku. Pujian dan usapan lembutnya pada penisku walaupun masih di atas gaunku membuat aku sejenak memejamkan mataku dan melayang.
“Eff..,” ups tak sadar aku mendesah lirih,”Man, kita makan di dekat sini aja yah.”
Ucapanku ternyata menyadarkannya dan setelah dia mengangkat tangannya di mendekatkan bibirnya ke telingaku lagi.
“Terserah kamu saja sayang,” bisiknya lembut.
Setelah kukunci pintu mobilku segera Arman menggandeng tanganku dan meremasnya. Aduh, senangnya aku seakan cuman tinggal aku satu-satunya cewek di dunia ini. Tak lama aku dan Arman makan sambil ngobrol mesra saling mengenal. Waktu kembali ke mobil tak lupa Arman memeluk pinggangku dan aku pun menyandarkan kepalaku di bahunya yang kekar. Sungguh bahagianya aku malam ini dan kini aku tak merasa canggung lagi pada Arman. Walaupun aku masih tetap saja merinding karena horny berat.
“Man, kamu yang nyetir yah sayang,” kataku sambil tersenyum menggoda.
“Oke, emang kenapa sayang, ada sesuatu yah,” sahut Arman sambil balas menggoda. Aku cuman membalas pertanyaannya dengan satu kecupan di pipinya. Dan mobil kami pun melaju lagi di jalanan Bandung.
Aku menggeserkan letak dudukku lebih dekat ke bangku supir. Kusenderkan kepalaku ke bahu Arman dan tanganku kuletakkan di pahanya. Mungkin aku sudah demikian terbuai denngan Arman sehingga sikapku semakin mesra dan centil kepadanya. Di tengah perjalanan mulai jari-jariku mulai nakal mengusap pahanya dan sekitar selangkangan Arman. Sampai akhirnya terpegang olehku milik Arman dan terus kuusap dengan lembut. Penis Arman agaknya bereaksi terpengaruh oleh usapanku. Arman hanya tersenyum dan mencium kepalaku. Hmm.., ternyata punya Arman lumayan gede juga, minimal sedikit lebih besar ukuranku.
“Hmmff.., kamu mulai nakal yah,” kata Arman sambil mengecup kepalaku. Mendengar perkataannya aku cuma dan tak tahu kenapa aku mulai tak sabar untuk melihat miliknya. Tanpa pikir panjang kubuka sabuknya dan pelan-pelan kubuka resletingnya. Kupelorotkan celananya sedengkul dan saat itu aku melihat tonjolan yang wow, gede juga. Kuusap lagi penisnya dari luar celana dalamnya. Aku sudah mulai membayangkan penisnya yang besar itu kukulum habis dalam mulutku.
“Emmff, sayaang..,” desah Arman lirih. Desahannya membuatku tak puas hanya memegangnya dari luar.
Pelan-pelan kumasukan jari-jariku ke dalam celananya. Kuraba mulai dari kepala penisnya yang besar dan mekar. Terus ke batangnya dan sampai di buah zakarnya kuusap lagi dengan gerakan memutar sambil sesekali melirik ke Arman. Desahan-desahan lirih terus kudengar dari mulut Arman.
Tanpa kuduga Arman melihat ke arahku dengan pandangan memohon dan mengelus rambutku. Dan dengan sedikit mendorong dia menundukkan kepalaku ke arah penisnya. Aku sedikit kaget campur senang. Entah kenapa aku menurut saja dorongan dari Arman itu. Kuciumi penisnya yang besar itu dan kugigit-gigit pelan penisnya sambil tanganku yang satunya mengelus buah zakarnya. Desahan kembali muncul dari mulut Arman sambil tangannya terus mengelus rambutku. Membuat gairahku makin naik dan jantungku makin berdegup kencang.
Lama-kelamaan aku tak sabar lagi dan kutolehkan pandanganku ke Arman.
“Sayang, boleh Natasha buka nggak,” kataku pura-pura bertanya. Arman yang kupikir memang menginginkannya cuman mengangguk. Lalu tanpa menunggu lagi kubuka perlahan celana dalamnya dan kupelorotkan ke pahanya.
Wuih, aku makin horny saja takala dugaanku benar punya Arman memang besar dan sudah berdiri tegak. Dengan bulu kemaluannya lebat dan hitam, dan penisnya yang besar berurat seakan menungguku. Kurasa ini saatnya kupraktekkan semua teknik yang aku tonton dari vCD setiap menjadi Natasha di kamar kosku.
Sambil kusibak rambut kemaluannya kukecup ujung penis Arman dan kujilati lembut. Kurasakan sudah ada sedikit cariran di ujung penisnya. Tanda kalau Arman sudah horny dari tadi. Kujilati terus ke arah bawah mulai dari ujungnya sampai ke buah zakar. Di daerah buah zakarnya sengaja kumain-mainkan dengan jilatan dan gigitan-gigitan kecil mulutku. Sambil terus kucoli batang penisnya dengan gerakan naik turun. Tanganku yang satunya lagi mengelus-elus pahanya.
Ahh.. mmff.. enak sayang,” desah Arman sambil terus melajukan mobilku dengan lambat-lambat. Aku melirik ke arahnya dan mulai kumasukkan burung Arman ke mulutku. Pertama kumainkan pelan dan setelah yakin aku bisa melakukannya tanpa terkena gigiku aku pun mulai memainkan lidahku. Makin lama semakin cepat dan makin gesit kumainkan lidahku. Aku sungguh menikmati saat mengulum penis Arman apalagi saat penisnya kumasukkan makin dalam ke mulutku.
Ess.. mm.. sayaang..,” Arman terus mendesah kali ini mulutnya sampai agak terbuka menikmati servis oralku. Tangannya makin kuat meremas rambutku dan tubuhnya sedikit bergetar. Aku makin senang melihat Arman bertingkah seperti itu.
“Sssayaang.. aku kayaknya mau keluar deh.. mmff.. ,” kata Arman terbata padaku. Mendengar perkataannya aku makin gencar menyerangnya. Dan satu desahan terakhir dari Arman mendorong cairan maninya yang kental keluar dari penisnya yang makin berurat dan menegang.
Mmm.. aku sengaja berencana untuk tak akan melepaskan mulutku dan berusaha menikmati cairan maniku yang pertama dari seorang pria. Agak asin dan aneh rasanya lalu kutelan saja dan mulai kumainkan lidahku pada kepala burung Arman. Arman pasti merasakan sensasi yang luar biasa karena dia tak berhenti mendesah dan tubuhnya menggelinjang. Setelah kuhabiskankan tanpa sisa semua cairan yang ada di penisnya baru kulepaskan mulutku. Arman mendorong kepalaku ke arahnya dan memberikan satu kecupan di bibirku. Bahaginya hatiku aku ternyata bisa memuaskan Arman dan aku berhasil melakukan oral untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Kubersihkan bibirku dengan tissue dan kubereskan lagi celana Arman. Setelah itu kusenderkan lagi kepalaku ke bahunya dan dengan lembut mulai lagi kuusap penis Arman yang terbaring lemas di dalam celananya. Arman tersenyum kepadaku dan berkata,”Dasar nakal, belum puas yah..”
“Belum dong sayang.. eh kita kemana sekarang.. ,” tanyaku.
“Kita ke hotelku aja yah sayang.. aku mau bales kamu, hehe..” candanya sambil terus mengelus rambutku.
“Oke, aku pasrah aja deh sama kamu.. Man.” jawabku manja sambil kupejamkan mataku berusaha menikmati semua yang terjadi hari ini.
Tak lama pun kami sampai ke hotel tempat Arman menginap. Kurapikan bajuku dan kusisir rambutku dengan jari-jariku. Kemudian kuambil travel bag-ku yang berisi pakaian dan alat make upku. Aku memanng sudah mempersiapkan semua kebutuhanku kalau Arman nanti mengajak untuk menginap. Digandengnya aku melewati lobi sambil tanganku melingkar di pinggangnya. Ingin rasanya membuat iri orang-orang yang ada di lobi hotel itu dengan kemesraan yang kutujukan untuk Arman. Tampaknya lumayan berhasil karena segerombolan anak muda yang sedang santai di lobi sempat terdiam dari obrolannya dan melirik ke arahku. Aduh, aku merasa seneng dan bangga membalas pandangan ingin tahu mereka.
Sesampai di kamar hotel, aku minta ijin pada Arman untuk ke kamar mandi sebentar. Aku ingin menganti bajuku dan kalau bisa mandi sebentar. Soalku badanku terasa lengket banget setelah seharian belum mandi.
“Man, aku mandi dulu yah.. lengket nih..”
“Oke, jangan lama-lama yah .. Abis itu aku juga mau mandi nih..” sahut Arman sambil melepaskan gandengannya dari tanganku. Di kaca kamar mandi aku memandang diriku yang masih terlihat cantik walaupun sudah agak kusut. Kulepaskan syalku dan mulai kukeluarkan pakaian yang akan kupakai setelah mandi.
“Tok, tok..” tiba-tiba pintu kamar mandi diketok.
“Ya, ada apa sayang,”sahutku.
“E.., sayang ini ada barang yang jatuh punya kamu bukan.. ,” kata Arman.
“Barang apa..?” kataku penasaran sambil membuka kunci pintu dan melongokkan kepalaku di sela pintu kamar mandi. Tiba-tiba Arman menyeruak masuk ke kamar mandi dan langsung memutar tubuhku sehingga sekarang posisinya memelukku dari belakang.
“Man, apa-apaan kamu..Nakal banget sih..” kataku manja.
“Aku sudah nggak sabar nih..” katanya sambil mulai meraba tubuhku dan menciumi leherku.
“Sebentar dong sayang.. aku sudah lengket nih..” sahutku sambil memejamkan mataku. Tangannya yang tadinya memilin-milin putingku tiba-tiba sudah masuk ke celana dalamku dan meremasnya bersama buah zakarku dalam satu genggaman tanggannya yang besar.
“Acchh.. Aduh.. Mmm.. Sayang sabar dulu dong..” kataku sambil kupegang tangannya dan membalikkan badanku sehinga kami berhadapan. Kulingkarkan tanganku di lehernya dan kudekatkan mulutku ke mulutnya.
Arman langsung menciumku dan melumat bibirku. Ketika lidahnya mulai masuk ke mulutku tangannya sudah berpindah ke atas pantatku dan meremas-remasnya. Dan kami pun sekejab ber-french kiss dengan panasnya. Aku sungguh menikmatinya dan tampaknya penisku pun menikmatinya. Makin membesar dan menekan ke punya Arman. Kemudian Arman melepas lembut bibirnya dan mengecup keningku sambil berkata padaku, “Hayo kamu juga sudah nggak sabar yah.. Aku tunggu di luar yah sayang, kamu mandi dulu yah.”
“Eeehh..”desahku merajuk sambil mengangguk.
Setelah kukunci pintu, aku pun mandi dan keramas dengan peralatan mandi yang kubawa sendiri. Setelah selesai aku menyisir dan mengeblow rambutku dengan hair dryer yang kubawa. Ku semprotkan lagi parfum Issei-ku. Dan kukenakan lagi make up yang barusan kuhapus sebelum mandi. Make up malam ini sengaja kubuat agak tebal biar dalam suasana remang pun aku masih terlihat cantik.
Baru kemudian kupakai celana dalam model g-string warna hitam dan BH dengan warna yang sama. Di bagian luar kukenakan lingerie dari sutra warna putih yang menerawang. Hmm, seksi juga kulihat diriku sendiri di kaca. Aku memutar badanku untuk memantas apakah semuanya sudah rapi. Kemudian kukenakan piyama mandi dari hotel. Pelan-pelan kubuka pintu kamar mandi dan berjalan ke ruang tidur.
Di tempat tidur sudah kulihat Arman tengah duduk menanti diriku sambil mengenggam gelas berisi wine.
“Hai, cowok.. Aku sudah wangi nih..” kataku menggoda.
“Terus kalau wangi minta diapain..” Balas Arman sambil menawarkan gelas wine padaku. Kuterima gelas winenya dan segera duduk manja di pangkuan Arman.
Dibukanya pijama mandi hotelku dan Arman mulai menciumi bahuku. Kuteguk sedikit wine dan langsung kucium mulut Arman. Lidahku langsung menyelinap masuk ke dalam mulutnya dan mengajaknya bergelut. Tangan Arman segera meraba selangkanganku dan memegang bagian belakang leherku. Tanganku yang satunya meremas-remas rambut Arman. Hangatnya wine segera terasa mengalir di tubuhku seiring rangsangan Arman pada selangkanganku.
Kubuka kancing kemeja Arman satu persatu dan bibirku kuarahkan ke lehernya. Kujilati semua bagian lehernya, turun ke ketiaknya, dan semua bagian dadanya. Pada bagian putingnya kugigit-gigit kecil. Sambil tanganku membalas rabaannya di bagian penis Arman. Tiba-tiba Arman memutar tubuhku dan posisinya sekarang ada di belakangku sehingga dia bebas meraba semua bagian tubuhku. Sambil mencium leherku tangannya masuk ke dalam celana dalamku. Dan mulai memegang penisku yang sudah mulai menegang sejak tadi. Dan tangan satunya meraba dan memainkan puting susuku.
“Ehhff.. Man aku sudah nggak sabar nih..” desahku sambil mataku merem melek. Dia tak menjawab.
Dibaringkannya tubuhku di ranjang dan diambilnya syal sutra yang tadi kubawa. Aku bingung mau apa dia dengan syalku itu. Ternyata dia mengikat kedua tanganku ke bagian kepala ranjang. Sehingga kedua tanganku tak bisa kugerakkan dan aku terbujur pasrah pada apa yang akan dilakukan Arman. Dalam posisi demikian aku malah bertambah horny saja.
“Sayang.. aku mau diapain..” tanyaku.
“Sudah kamu diem aja.. nanti juga tahu sendiri..” jawab Arman.
Kemudian Arman menyibakkan rambutku ke satu sisi dan mulai mencumbu leherku. Sensasi yang luar biasa akku merasakan diriku diikat dan Membayangkan diriku akan diperkosa oleh seorang pria gagah seperti Arman. Sambil terus mencumbuku dia membuka lingerieku perlahan dan kini aku cuman memakai BH dan celana dalam saja. Dituangkannya sisa wine yang tak kuhabiskan di sekujur tubuhku.
“Arman.. Nakal banget sih..,” teriakku manja. Dia tak menjawab dan mulai menjilatku dari leher sampai ujung jari-jari kakiku. Nikmat sekali rasanya seakan semua pori-pori kulitku terangsang dengan hebatnya. Tubuhku tak bisa diam dan terus melenggak-lenggok menahan geli luar biasa yang sedang kurasakan.
“Acchh.. Sss.. Mff..,” desahan demi desahan terus keluar dari mulutku. Tubuhku sudah melayang tinggi ketika tangan Arman menarik tali pengikat g-stringku. Setelah terlepas mulailah Arman menjilati semua bagian penisku.
Mulai dari ujung dan berlama-lama di daerah buah zakarku. Dikulumnya dan digigit-gigitnya. Seakan membalas perbuatanku di mobil tadi. Aku makin tak tahan dibuatnya. Tangan yang satunya mengusap-usap lubang pantatku. Rasanya semua kenikmatan sekarang tumpah semua di tubuhku.
“Man.. Ohh.. Sss,” desahku sambil terus mengelinjang. Ternyata sensasi puncaknya ketika Arman mulai mengulum penisku dan tangannya memainkan puting susuku. Dan tangannya yang satu lagi terus menusuk-nusuk lubang anusku dengan ibu jarinya. Tak pernah kubayangkan rasanya sebelum ini kalau dioral oleh orang lain seperti ini rasanya. Apalagi ketika sesekali Arman menjilati lubang anusku dan memainkan lidahnya. Aku menikmatinya selama hampir 20 menit. Aku terus-terusan mendesah dan mengelinjang hebat.
“Man.. aku sudah nggak kuat nih.. Man.. Eeecchh,” jeritku.
“Acchhff.. Man aku mau keluar nih..” Badanku mengejang dan tak lama kemudian aku langsung terasa lemas ketika cairan yang kutahan-tahan sejak seminggu lalu akhirnya keluar juga dan habis ditelan Arman. Kemudiaan Arman mendekatiku dengan tanganku yang masih terikat dia menindihku. Dan aku pun membalas ciuman Arman dengan mulutnya yang penuh cairan maniku.
Tapi bukannya jatuh lemas aku, libidoku malah makin bertambah tinggi. Aku belum merasa puas dan tak mau kalah maka kulucuti semua baju Arman dan kusapu setiap jengkal kulitnya dengan lidahku. Sekarang posisiku dan Arman saling terbalik membuat posisi 69. Kudekatkan tubuhnya dan kudekatkan penisku ke arah mulutnya. Aku merasa ketagihan pada sepongan dari Arman.
“Man.. Isep lagi dong sayang.., Natasha ketagihan nih sayang..!” aku merengek, dan Arman memenuhi keinginanku.
Kami pun berposisi 69, aku tidak merasa canggung dan jijik dengan yang kami lakukan ini. Entah kenapa aku semakin menjadi liar dengan kenakalan dan makin horny dengan tingkahku. Dengan buas kuhisap dan kumainkan buah zakarnya sedangkan penisku kumaju mundurkan di dalam mulut Arman.
Tak berapa lama Arman memutar tubuhku dan mengajakku berciuman lagi. Setelah itu dia menatapku sambil bertanya apakah dia boleh memasukkan penisnya ke anusku. Aku yang masih virgin soal urusan itu sempat berpikir sejenak. Namun tangan Arman yang terus mencoliku dan cumbuannya di leher membuatku menganggukkan kepalaku tanda setuju.
“Pelan-pelan ya sayang.. Aku belum pernah soalnya.. Sss,” pintaku sambil terus mendesah karena tangan Arman yang bermain nakal di penisku.
Aku membalikkan badanku dan kakiku di angkatnya. Setelah kubasahi dengan ludahku penis Arman kubimbing menuju ke lubang anusku. Rasanya aneh banget seperti ada sesuatu yang kenyal-kenyal berusaha masuk pelan-pelan. Agak perih dan terasa mengganjal. Pelan-pelan Arman mulai menggerakkan penisnya maju mundur. Tak berapa lama tangan Arman kembali mengocok penisku. Terasa perih-perih tapi terus terang aku suka merasakan sensasi yang luar biasa itu.
“Acchhff.. Man.. Enak banget nih..” desahku sambil tanpa sadar kugigit bibir bawahku menahan geli yang luar biasa.
Rasanya ada dua rasa geli-geli tapi nikmat yang saat itu menyerangku. Aku rupanya tak bisa bertahan lama karena pengalaman baruku itu dan aku pun sudah hampir mau orgasme lagi.
“Man.. aku sudah mau keluar lagi nih..Aduh..man..” kataku.
“Sebentar lagi sayang.. Mmmff.. Kita barengan yah..” Sahut Arman menahan geli.
Tak berapa lama aku sudah tidak bisa menahan lagi dan tak lama keluar sudah maniku disusul punya Arman yang terasa hangat memgalir di dalam anusku. Aku segera membalik badanku dan memeluk Arman erat-erat. Memeluk pria yang sudah memerawani lubangku yang masih virgin ini. Dan Arman membalasnya dengan menciumi keningku.
Kami berpelukan agak lama dan aku pun menikmati menyandar di dada Arman. Aku minum wine lagi sambil bercanda mesra dengan Arman. Kemudian kami ke kamar mandi bareng dan setelah Arman membersihkan badannya. Dia memandikanku seolah-olah aku ini boneka teman bermainnya. Oh, entah apa lagi yang bisa terjadi aku merasakan banyak sekali pengalaman baru malam ini bersama Arman. Setelah itu kami balik lagi ke tempat tidur. Dan malam itu sepertinya libidoku dan Arman benar-benar tak ada habisnya. Kami pun bermain lagi.
Aku berinisiatif memulainya dengan mengoral lagi penis Arman sementara Arman dalam posisi tertidur menikmatinya sambil mengerang-erang lirih. Sambil melumat penis Arman penisku kukocok dengan tanganku yang satunya lagi. Ketika sedang menikmati permainanku sendiri tiba-tiba aku jadi pengen merasakan apa yang dirasakan Arman ketika menyodomi anusku.
“Man.. Aku pengen nyobain kaya kamu tadi.. Boleh nggak..” pintaku. Arman tidak menjawab tapi langsung menyerongkan tubuhnya.
Aku pun seperti anak kecil yang dikasih mainan baru langsung tersenyum dan membelai rambut Arman. Posisiku sekarang sudah di belakang Arman. Kujilati lubang anusnya dan lidahku kuputar-putarkan masuk ke dalam. Tanganku terus mengocok penis Arman. Kemudian pelan-pelan kumasukkan penisku setelah kubasahi ujung penisku dengan ludahku. Setelah masuk semua kumaju mundurkan penisku. Pertama-tama terasa janggal dan seperti terjepit penisku. Lama-kelamaan aku merasakan penisku seperti dipuntir dengan halus dan dipijat-pijat. Aku merasakan kenikmatan yang baru lagi. Desahku tak pernah berhenti mengiringi kenikmatan itu.
“Sayang.. Enak banget nih.. Aduh.. Aduh.. Mff..” kataku.
Bukannya menyahutku Arman malah memutar-mutarkan pantatnya dan rasanya makin nikmat saja bagiku. Tanpa kusadari aku mulai menyakar punggung Arman dan mulai menjerit-jerit sendiri kegelian.
“Man.. Acchh.. Sss.. Sayang.. Enak banget..cchh..” Tak lama kemudian aku sudah memuntahkan cairanku ke dalam anus Arman. Kemudian diangkatnya aku ke atas perut Arman dengan penisku yang mulai mengecil.
“Gimana sayang.. Suka nggak.. hehehe” kata Arman sambil cekikikan.
“Eeehhmm.. kamu nakal banget yah sayang.. Suka banget.. Eh punya kamu belum keluar yah sayang..” sahutku.
“Belum dong..,” jawab Arman.
Tanpa basa-basi lagi kuoral lagi punya Arman sambil tanganku memainkan putingnya. Setelah penis Arman menjadi keras dan berurat lagi kubimbing penisnya masuk ke lubang anusku. Posisiku sekarang berjongkok di atas Arman sambil berpegangan pada tangan Arman. Mulai kunaikturunkan pantatku sambil sesekali kuputar-putarkan. Arman tampaknya menikmati apa yang kulakukan. Matanya merem melek sambil mengerang lirih. Aku makin bersemangat memompa penis Arman sambil kukibas-kibaskan rambutku. Aku merasa sexy dan liar banget malam itu. Hampir setengah jam aku melakukan ini. Dan lama kelamaan bukan rasa perih lagi yang kurasakan tapi aku malah mulai merasakan nikmat yang beda di lubang anusku dan penisku pun menegang lagi.
“Sayang.. aku mau orgasme nih.. Acchh.. Sss..” desah Arman.
Aku langsung mengeluarkan penisnya dari anusku. Dan membalik badanku sehingga sekarang kami berposisi 69 lagi dengan tubuhku di atas Arman. Kumasukkan penis Arman yang tegang berurat itu. Dan kumajumundurkan penisnya dalam mulutku sambil kumainkan dengan lidahku. Kusedot-sedot habis penis Arman. Ternyata Arman juga melakukan hal yang sama pada penisku. Tubuhku terus melenggak-lenggok tak karuan merasakan semua ini. Sampai tak lama kemudian akhirnya kami orgasme berbarengan. Dengan mulut masing-masing yang masih penuh dengan air mani kami berciuman agak lama. Setelah itu kami tertidur pulas dengan kepalaku kusenderkan di dada Arman dan memeluk pinggangnya. Esoknya paginya kami belum puas dan bermain lagi sampai siang.
Malam itu benar-benar malam yang sangat indah dan istimewa buat Natasha. Beruntung aku bisa bertemu dengan Arman yang seakan-akan tahu benar apa yang kuinginkan. Aku dan Arman masih terus berhubungan. Kami berjanji untuk saling bertemu setiap dua bulan sekali. Sekarang aku sedang melanjutkan program profesi untuk kuliah psikologiku. Rambutku yang merah sudah makin panjang dan wajahku makin cantik berkat salon langgananku. Sampai sekarang aku masih rajin chatting buat mencari temen-temen baru yang mau kenalan sama Natasha.

The post Cerita Sex Pengalaman Pertama Menjadi Waria appeared first on Kumpulan Cerita Sex Hari Ini.


Viewing all 68 articles
Browse latest View live